Sekuntum teratai untuk semua, para calon Buddha.
Kembali saya menghadirkan sebuah cerita Zen diambil dari "Buku 101 Koan Zen". Judul sebenarnya dari cerita ini adalah "Menerbitkan Sutra".
Semoga cerita ini bisa memberikan kita suatu pencerahan dan semakin memperteguh tekad kita yang sedang berjalan di jalur Bodhisattva. :)
metta,
Julie
===========================================================
Tetsugen, seorang pengikut Zen di Jepang, memutuskan untuk menerbitkan sutra-sutra, yang kala itu hanya tersedia dalam bahasa Cina. Buku-buku itu akan dicetak dalam balok-balok kayu sebanyak tujuh ribu salinan, suatu upaya yang luar biasa.
Untuk keperluan ini, Tetsugen mulai berkelana dan mengumpulkan sumbangan. Sejumlah kecil simpatisan akan memberinya seratus keping emas, namun seringnya ia hanya menerima uang receh. Ia berterimakasih kepada setiap penyumbang dengan rasa syukur yang setara. Setelah sepuluh tahun, Tetsugen mendapatkan uang yang cukup untuk memulai karyanya.
Pada waktu itu, kebetulan Sungai Uji meluap, dan disusul dengan bencana kelaparan. Tetsugen menggunakan uang sumbangan yang sedianya untuk buku-buku itu untuk menyelamatkan orang-orang dari kelaparan. Kemudian ia mulai mengumpulkan sumbangan lagi.
Beberapa tahun kemudian, suatu wabah penyakit melanda negri. Lagi-lagi Tetsugen menyumbangkan semua uang yang telah dikumpulkannya untuk menolong para penduduk.
Untuk ketiga kalinya ia mulai lagi mengumpulkan sumbangan, dan setelah dua puluh tahun cita-citanya terwujud. Edisi pertama yang terbuat dalam lembaran kayu ini dapat dilihat di kuil Obaku di Kyoto.
Orang-orang Jepang menceritakan kepada anak cucu mereka bahwa Tetsugen menerbitkan tiga edisi sutra, dua edisi yang pertama tidak terlihat dan bahkan mengungguli edisi yang ketiga.
=======================================================
Sharing dari pendapat saya pribadi:
Ada beberapa sisi / sudut pandang yang saya pelajari dari cerita ini:
- Pertama Tetsugen berterimakasih dengan rasa syukur yang setara, tanpa memandang berapa nominal dari sumbangan tsb. Wah, benar-benar yah beliau punya upekha. Dan bisa melihat semua jenis pemberian dengan kaca mata yang seimbang..Bagi saya hal ini tidak gampang...Saya masih akan membandingkannya dengan yang nominalnya lebih besar, atau dengan mereka yang cara memberikannya bagus sekali, atau penampilan luar dari orang tsb, dan masih banyak deh....Semoga yah saya benar-benar bisa melatih diri agar bisa seperti Tetsugen...Hehee..... :)
- Kedua dari cara Tetsugen mengalihkan pemakaian uang tsb dari yang semula untuk menerbitkan sutra menjadi menolong orang. Sepertinya pikiran Tetsugen ini tidak kalah "modern" sama oragn jaman sekarang ini. Saya tidak tahu, tapi menurut saya mungkin saja pikiran Tetsugen ini pada jaman beliau termasuk ide yang kontroversial dan radikal. Dimana orang berpikir bahwa menerbitkan sutra adalah yang terpenting...Hohoho....Tapi sesungguhnya Tetsugen telah mengerti begitu dalam tentang makna sutra, yang akhirnya membuat dia berpikir daripada menerbitkan sutra, lebih baik dialokasikan untuk menolong orang. Sungguh beliau adalah seorang Bodhisattva!!
Berapa banyak yah dari kita yang tetap berpikir "Yang penting yah gue sekarang mesti cetak sutra dulu neh...Pokoke mesti beramal dulu ah....Cetak kitab suci banyak-banyak...Nanti kalau uangnya sisa baru deh disumbangin...." :)
- Dua puluh tahun....Ck..ck..ck...Sungguh bukan waktu yang singkat...Benar-benar diperlukan suatu tekad yang luar biasa, virya yang begitu besar....Dalam kurun waktu selama itu, pasti tak terelakkan * tak terhitung berapa banyak halangan yang datang.
- Untuk masyarakat yang berpendapat "Tetsugen telah menerbitkan tiga sutra....", saya pikir ada kemungkinan ini berasal dari mereka yang bijak, yang mampu untuk melihat secara mendalam dengan mata yang penuh cinta kasih..
Note: Suatu nilai kemanusiaan yang begitu indah...begitu luhur...begitu agung....begitu nyata..begitu dekat tapi juga begitu jauh....Tapi seberapa jeli, seberapa tangkas, seberapa lincah kita bisa menangkap nilai-nilai ini dalam keseharian kita??? Seberapa sering pikiran dan hati kita diselimuti kabut materialisme...dan nafsu????
Demikianlah sharing saya... :)
Terimakasih..
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
