Kompas,Jumat, 14 Juli 2006
"Menanam" Kembali Ekonomi ke Dalam Proses Sosial
Maria Hartiningsih
Ia lebih dulu belajar matematika dan fisika, kemudian filsafat dan epistemologi, memiliki passion terhadap sejarah, sebelum menyelesaikan program doktornya di bidang matematika ekonomi. Dia adalah Dr Robert Boyer (63), ahli ekonomi Perancis, salah satu pemikir dari "aliran regulasi" dalam ekonomi.
Latar belakang dirinya perlu dikedepankan supaya memahami bahwa kritiknya tentang sistem ekonomi internasional yang beroperasi saat ini tidak asal-asalan. Ia membuktikan argumen-argumennya dengan kenyataan empiris, dengan pendekatan kuantitatif dan model-model ekonometri.
Dalam perbincangan khusus dengan Kompas, Jumat (7/7) petang, ia memaparkan bagaimana sejarah dan epistemologi memberikan fondasi pada pemikiran-pemikirannya.
Ia mencontohkan, krisis di Asia tahun 1998, "Modelnya memang berbeda dari krisis-krisis sebelumnya, tetapi masalah utamanya, menurut teori, sama."
Dengan pendekatan epistemologi, ia memahami mengapa ekonomi harus selalu dilihat dalam perspektif jangka panjang. Solusi krisis dengan liberalisasi ekonomi, menurut Boyer, hanya memberikan jawaban jangka pendek.
"Dalam jangka panjang akan menciptakan masalah baru yang serius karena sistem yang terbuka itu pada dasarnya rentan terhadap pengaruh eksternal ekonomi global," ujarnya.
Menurut Boyer, paling berbahaya dalam sistem liberalisasi ini adalah liberalisasi sektor finansial. "Yang ini gawat. Kalau tiba-tiba modal ditarik dari pasar domestik, bisa kolaps, sementara ekonomi riil tak jalan."
Kontrol terhadap kapital akan membuat suatu negara mampu meredam gejolak kalau terjadi krisis moneter. Boyer mencontohkan Malaysia yang gejolak krisisnya relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara tetangganya di Asia, tahun 1998.
Liberalisasi, bagi Boyer, bukanlah jawaban mutlak untuk krisis. Ia menawarkan sesuatu yang mungkin bisa dipertimbangkan, yakni mengatur stabilisasi mata uang regional dengan definisi progresif dari intervensi bersama di tingkat moneter serta kemungkinan mengoordinasikan kebijakan-kebijakan berkaitan dengan anggaran belanja. Pandangan ini tampaknya banyak dipengaruhi oleh proses integrasi di Eropa.
Profesor ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial di Paris (EHESS) itu tidak memberikan komentar langsung mengenai krisis multidimensi yang berkepanjangan di Indonesia. Akan tetapi, dari studi krisis di beberapa negara yang dilakukan terus-menerus, ia punya hipotesis: liberalisasi di semua sektor adalah penyebabnya.
Dalam hal privatisasi, menurut dia, pandangan bahwa perusahaan negara selalu tidak efisien, dan sebaliknya perusahaan swasta selalu lebih efisien, tidak bisa dijadikan pandangan umum. Kegagalan total privatisasi di Inggris adalah contoh ekstrem yang ia lontarkan. Korporasi internasional seperti Vivendi di Perancis juga membuat kesalahan total. Kolapsnya pemasokan listrik di California merupakan contoh lain.
Menguak fatamorgana
Boyer bersama Michel Aglietta dan Jacques Mazier mulai meneliti, menyelidiki, dan mengkritisi berbagai fenomena persoalan ekonomi jangka panjang secara komprehensif sejak terjadi krisis 1960-1970.
Mereka menolak pandangan arus utama yang menyatakan kekuatan pasar secara alamiah akan membawa pada efisiensi, pertumbuhan, dan kemakmuran. Dalam sosiologi ekonomi, pasar hanyalah salah satu faktor saja dalam ekonomi.
Namun cara-cara yang dipraktikkan lembaga-lembaga keuangan internasional telah mendorong beroperasinya pasar secara leluasa. Pasar adalah singgasana yang sempurna bagi homo economicus yang meyakini bahwa ekonomi terpisah dari seluruh kegiatan di dalam masyarakat. Padahal self regulating market, yang banyak diyakini akan membawa dunia pada kesejahteraan, adalah fatamorgana.
Program Penyesuaian Struktural dari Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, mensyaratkan, di antaranya, deregulasi, liberalisasi pasar, perdagangan, reformasi pajak, dan privatisasi, yang semuanya berujung pada pengurangan subsidi di bidang kesejahteraan sosial. Semua itu digunakan untuk menekan negara-negara pengutang agar membuka pasarnya lebar-lebar.
Persyaratan itu sebagian besar mengadopsi Washington Consensus, suatu kesepakatan minimum berbagai institusi yang berbasis di Washington soal kebijakan ekonomi yang harus diambil Amerika Latin tahun 1989. Meski demikian, pencetusnya, John Williamson, menegaskan bahwa itu tidak bertautan dengan neoliberalisme.
"Argentina melakukan semua yang dituntut Washington Consensus maupun IMF, tetapi kolaps juga," ujar Boyer.
Negeri yang kaya, makmur, dan dikenal sebagai "keranjang roti dunia" pada tahun 1950-an sekarang 52 persen rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan, atau sekitar 18 juta orang, dengan tujuh juta di antaranya hidup dalam kondisi kemiskinan absolut.
"Washington Consensus sudah selesai. Jangan pernah lagi diimplementasikan," tegas dia.
Utang dan segala bantuan (utang) yang diciptakan oleh mekanisme internasional, menurut dia, juga akan menciptakan ketergantungan besar pada pihak lain. "Apa yang terjadi di Afrika adalah drama," lanjut Boyer.
Menurut dia, model kebijakan ekonomi internasional banyak dibuat di atas teori yang dibangun dengan landasan dan model masyarakat dan sistem ekonomi AS. Konsep itulah yang dibawa ke negara berkembang, dengan hanya mengutak-atik sedikit variabelnya, tanpa melihat situasi riil di negara yang bersangkutan.
Ia yakin orang-orang di negara bersangkutanlah yang paling memahami situasi di negaranya. Kalau tidak, suatu negara dengan mudah menjadi obyek kepentingan dari luar, apa pun wujudnya.
"Harus diingat, lembaga seperti IMF itu adalah lembaga kreditor. Di balik tujuan ideal yang disampaikan secara formal, tujuan intinya adalah mengamankan uangnya. Perhatiannya bukan stabilitas ekonomi dunia, tetapi menyelamatkan kepentingan khusus di bidang finansial negara maju yang menjadi pendana utamanya," ujar Boyer.
Boyer memberi contoh Korea, yang ketika krisis mengundang IMF masuk. Di belakang IMF ternyata investor dari AS. "Krisis yang diobati dengan liberalisasi yang makin luas berdampak pada masuknya kepentingan global ke pasar domestik," lanjutnya.
Tantangan
Boyer mengawali karier akademisnya sebagai pakar di bidang modelisasi makro. Namun yang dikembangkannya bukanlah model neoklasik yang sudah umum di kalangan ahli ekonomi, melainkan model makro-ekonomi yang dipengaruhi pemikiran marxisme (bukan marxisme awal), strukturalisme, keynesian, annales, dan habitus. Ia menggunakan ekonometri kuantitatif yang merupakan "kekuatan" para ekonom neo-klasik untuk meng-counter neoklasik.
Para pemikir "Regulasi dan Institusi" menganggap ekonomi tidak berjalan sendiri secara alamiah seperti yang diyakini para ekonom neoklasik. Bagi Boyer dan kawan-kawannya, ekonomi dibangun dari sebuah relasi sosial dan di atas jalinan institusi yang kompleks dan rumit.
Ekonomi bukanlah semata- mata pilihan antara sistem pasar (neoklasik) dan intervensi negara (neokeynesian). Ekonomi menyangkut pola perilaku masyarakat yang terjadi berulang- ulang sehingga menjadi kebiasaan yang mengakar (habitus).
Korupsi yang sudah menjadi kebiasaan umum, misalnya, harus menjadi pertimbangan dalam setiap pembuatan kebijakan ekonomi. Mengandaikan tidak ada "gangguan" terhadap kebijakan ekonomi akibat perilaku korupsi berarti tidak bertanggung jawab.
Pendekatan Regulasi memiliki dimensi yang lebih luas dibandingkan aliran neoklasik. Mazhab Regulasi, paling tidak, mengakui lima bentuk institusi yang menentukan gerak ekonomi. Pertama, sistem finansial, seperti hubungan bank dengan debitor, model pengawasan perbankan, dan pengaturan sektor finansial lainnya.
Kedua, integrasi dengan sistem ekonomi dunia, seperti liberalisasi perdagangan dan finansial, hubungan dengan kreditor asing dan lembaga multilateral. Ketiga, model persaingan, seperti kebijakan industrial, integrasi, dan proteksi industri. Keempat, sistem perburuhan, seperti pengupahan, perlindungan buruh, asuransi sosial, dan lain-lain. Kelima, model intervensi negara, misalnya, perpajakan, infrastruktur, dan pelayanan publik.
Kelima komponen itu secara bersama-sama menentukan kualitas perekonomian. Jadi reformasi ekonomi juga tak bisa dilakukan secara parsial. Dalam pendekatan itu, tidak ada gunanya kalau keuangan negara (fiskal) yang aman, tetapi rakyat menderita karena pencabutan berbagai subsidi.
Pendekatan Regulasi memandang ekonomi juga bukan sebatas persoalan nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi, atau semata-mata soal hubungan sisi penawaran dan permintaan yang menimbulkan sistem keseimbangan umum. Ekonomi adalah proses sosial, politik, tarik-menarik kepentingan, dan lain-lain.
Pemikiran Regulasi mengajak kita membongkar cara pandang. Ekonomi tidak pernah bebas dari institusi sosial, politik, dan budaya. Aktor di balik pengambilan keputusan ekonomi pemerintah, seperti pencabutan subsidi BBM, penjualan aset BPPN dan penyaluran BLBI, di balik birokrasi lembaga multilateral (penentuan jumlah dan persyaratan pinjaman), di balik perundingan bisnis (konsesi usaha), dan lain-lain adalah faktor yang tak boleh dihilangkan dalam analisis ekonomi.
Semua itu harus dipahami dalam kerangka struktural, historis, dan rutinitas sosial yang komprehensif, tidak terjebak dalam teori konspirasi yang sempit.
 


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1ยข/min. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke