Sharing Daily INEB Training (8)

Tgl 28 Mei 2006
Hari ini kami berkunjung ke desa Pak-Moon Dam. Desa ini mengalami begitu banyak masalah. Dimulai dari kisah penduduk aslinya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Biasa mereka mencari ikan di sungai Pak-Moon. Secara alami mereka terlahir dengan kemampuan sebagai pencari ikan. Tapi beberapa tahun kemudian pemerintah menerapkan bahwa akan dibangun sebuah bendungan, dengan alasan sebagai pembangkit tenaga listrik. Ini disebabkan oleh karena semakin bertambahnya mall-mall dan tempat pusat perbelanjaan yang sekarang semakin menjamur, sehingga suplai listrik pun meningkat. Akibatnya penduduk Pak-Moon harus menderita, tak mungkin lagi bagi mereka untuk mencari ikan. Sungai sudah menjadi kering. Sedangkan mereka tidak punya keahlian apapun, tapi keluarga harus tetap diberi makan.

Saya bertanya apakah sebelum pemerintah membangun bendungan tidak ada pengumuman terlebih dahulu atau setidaknya alternative pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Mereka menjawab bahwa memang pemerintah memang memberikan alternative pekerjaan, tapi mereka tidak punya kemampuan yang memadai untuk itu. Jadi semuanya sia-sia. Ketika kami berkunjung ke bendungannya, kami merasa begitu sedih dan tersentuh. Bagaimana tidak..yang kami lihat adalah sebuah sungai yang jelek, mengerikan, dan kering. Penampakan yang terjadi adalah sungai ini seperti muntah. Sungguh sangat mengerikan sekali. Dari kejadian ini sangat menjelaskan betapa jahatnya manusia, begitu berkuasa. Kami bertanya kenapa begitu banyak batu disini? Tour guide kami menjawab bahwa sesungguhnya batu itu terletak didasar sungai,bukan di permukaan. Dan sangat banyak sekali ikan yang mati.

Mereka tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan pihak pemerintah Thai mengenai masalah ini. Banyak cara mereka lakukan agar berbagai pihak mengetahui masalah yang sedang mereka hadapi. Misalnya melalui seminar yang diadakan khusus membahas tentang masalah desa ini, atau melalui kunjungan yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti INEB ini, dan mereka juga melakukan unjuk rasa damai. Mereka melakukan tindakan protes terhadap pemerintah tapi tidak melalui kekerasan. Walaupun mereka sudah begitu disakiti,tapi mereka tetap memegang teguh prinsip tanpa kekerasan. Mereka sudah berjuang untuk hidup mereka selama hampir lebih dari 20tahun. Dan tetap melakukannya lewat cara damai. Tak pernah satu kali pun mereka melakukan kekerasan. Kenapa? Karena mereka juga memahami perasaan dan pertimbangan pemerintah sebagai pengambil keputusan ini. Mereka merasa kekerasan bukanlah jalan keluar.Mereka semua adalah Buddhis, mereka sungguh mengerti ajaran Buddha tentang kasih sayang dan yakin kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

Kami tinggal di desa ini sedikit lebih lama dari desa yang lain, karena banyak yang harus kami pelajari mengenai desa Pak-Moon. Kami tinggal selama 2malam-3hari. Ini salah satu tempat favorit saya, tempatnya sangat indah sekali, alami, dan banyak nyamuk.Hehehe.....Tapi benar koq, indah.Kami tinggal di sebuah rumah besar (tanpa daun pintu juga) dan ada banyak jendela besar. Tempat makan terletak tak jauh dari kamar kami, cukup berjalan 60 langkah, sepanjang jalan ada begitu banyak bunga, dan batu-batu yang bertuliskan bahasa Thai. Sawah juga ada. Dan ketika kita bangun di pagi hari, kita bisa menyaksikan matahari terbit, begitu indah sekali dan damai (kecuali nyamuknya). Matahari terbit kira-kira pukul 5.30 wib. (waktu Thai tidak berbeda dengan Indonesia). Sekarang ini mereka tetap berjuang untuk Pak-Moon Dam..Sungguh suatu usaha tanpa kenal lelah...
======================================================================
Tgl 29 mei 2006
Tabanpai Dan Chamsurin Nunnery
Kami mengunjungi 2 tempat hari ini.
a. Taban Pai
Taban Pai adalah sebuah (organisasi) tempat pusat kesehatan herbal. Yang menjadi pimpinan disini adalah Mr. Tek. Beliau juga mendapat sertifikat untuk memberikan training kepada orang2 sesuai dengan kurikulum. Ada sekitar 30 orang per tahun yang mengikuti training ini. 3 filosofi yang mereka anut adalah:
a. Tubuh dan pikiran yang seimbang
b. Kesejahteraan masyarakat
c. Berpegang pada kebijaksanaan lokal.

Desa Taban Pai bekerjasama dengan 25 desa di propinsi Surin. Mereka berkomitmen untuk mengurangi penggunaan kimia dan mengembalikan kesuburan tanah yang berkurang akibat penggunaan kimia. Anggotanya juga harus mempunyai tanaman obat-obatan dan sayuran di halaman rumah mereka. Mereka juga bergerak di pelestarian hutan. Coba bayangkan dari seluruh hutan yang ada,sekarang tersisa hanya 18 %, karena sebagian besar hutan digunakan sebagai tempat pembangunan rel kereta api. Sedangkan penduduk sekitar masih sangat bergantung pada hutan. Dari 35 komunitas yang tinggal di hutan, hanya 6 komunitas yang terletak dibawah organisasi ini. Mereka juga melibatkan para generasi muda. Tugas mereka adalah mengembangkan pemakaian obat tradisional dan pemakaian obat herbal. Mereka juga masih menggunakan magic, menyambung tulang, dll. Contoh untuk kasus tulang patah: menggunakan bambu untuk membalut tulang sambil membacakan beberapa mantra dan mengoleskan minyak. Mereka juga bisa mengobati penyakit akibat "kiriman" atau istilah kita "guna-guna". Mereka berharap agar pengobatan gaya tradisional ini dapat dikenal oleh pengobatan barat dan oleh masyarakat luas. Sekitar 17 rumah sakit lokal bekerjasama dengan mereka dan memesan obat-obatan dari mereka. Training juga mereka sediakan untuk para generasi muda tentang hidup, obat-obatan,sikap,praktik serta pijatan tradisional.Mereka hanya perlu membayar untuk keperluan makanan dan pelajaran, tidak ada biaya masuk/pendaftaran.
Para petani juga bisa membawa obat-obat yang mereka tanam untuk dijual kesini, hanya setiap hari sabtu. Cara mereka dalam melayani setiap pelanggan adalah dengan menjalin hubungan yang baik dengan mereka, tidak hanya untuk uang, tapi demi kesehatan pelanggan. Salah satu tanaman obat mereka adalah "Kana Vegetable" (tanaman organik) bisa disimpan di kulkas selama 1 bulan. Dalam usahanya menyebarluaskan pemakaian obat-obatan tradisional, hambatannya adalah salah pengertian antara pengobatan tradisional dan pengobatan barat.

Organisasi Taban Pai ini juga anggota dari organisasi penghematan energi. Di Taban Pai mereka menggunakan tenaga matahari sebagai sumber energi, contoh untuk menjaga kehangatan obat-obatan. Pemerintah akan mengirim orangnya untuk datang dan memeriksa kualitas dari tanaman obatan secara teratur.
Taban Pai juga menyediakan konseling sehubungan dengan penyakit HIV/AIDS ke rumah sakit meliputi: bagaimana merawat, menggunakan obat secara benar.Para dokter disini merasa bahwa berbagai penemuan mereka tentang obat-obatan tidak memerlukan hak patent. Mereka berpendapat siapa saja bisa berbagi pengetahuan ini, bahkan para bhikshu juga bisa ikutan aktif disini.

b. Chamsurin Nunnery
Yang menyambut kami adalah bhikshuni Se Kau Lat. Beliau sangat gembira sekali menerima kedatangan kami. Siangnya kami pergi ke Chamsurin Nunnery. Yang tinggal disini ada 60 bhikshu dan 30 bhikshuni. Bhikshu disini juga berprofesi sebagai guru disekolah.
Bhikshuni yang tinggal disini memakai jubah berwarna putih. Untuk bhikshuni menerima 311 sila. Temple ini juga memiliki universitas untuk para bhikshuni.
Masalah yang mereka hadapi sebagai bhikshuni yaitu sebagian masyarakat tetap tidak menghormati mereka. Hal ini membuat mereka merasa sedikit tertekan. Dalam masa awalnya sebagai bhikshuni, bhikshuni San Kau Lat bercerita bahwa dia merasa sangat sulit sekali, karena tidak ada dukungan dan pendidikan. Mereka tidak diperbolehkan keluar malam, dan mengadakan chanting dirumah. Bikshuni disini hanya memasak, membersihkan, tidak diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan sosial seperti Dharma talk, jika mereka lakukan maka para bhikshu akan menganggapnya sebagai persaingan. Menurut pengalamannya selama 20tahun, masyarakat tidak ada yang keberatan melakukan kebaktian bersama bhikshuni. Dalam monasterynya, bhikshuni tidak pernah punya kesempatan untuk memimpin, hanya melayani. Jika tidak, mereka akan dikeluarkan dari temple.
Nah, nanti kami akan kembali lagi kedesa ini untuk retret. Temple ini indah dan nyaman sekali loh...Makanannya juga enak. Kami terkejut ketika kami datang, itu adalah jam makan siang, dan yang dihidangkan adalah makanan non-vegetarian. Inikan temple? Tapi ternyata ini sudah biasa.
======================================================================
Tgl 30 Mei 2006
Appropriate Technology Association (ATA)
Hari ini kami pergi ke sebuah tempat pengembangan tenaga alternatif yang berlokasi di pegunungan. Nama tempatnya Appropriate Technology Association (ATA).
Mereka sedang berusaha untuk mencari bagaimana caranya supaya minyak bisa diproduksi secara memadai sedangkan sumbernya sangat terbatas sekali?
Disini mereka punya sebuah perpustakaan. Sistem pengaturan udaranya sangat menarik dan kreatif. Jadi mereka tidak menggunakan AC, tapi sebagai gantinya mereka merancang sistem pendingin ruangan alami. Batu bata yang mereka gunakan bukan batu biasa, dibuat dari bahan khusus, setelah itu masing-masing sisi memiliki kemampuan untuk menyimpan panas dan memantulkan panas. Dibagian bawah bangunan (dekat fondasi) dibuat celah seperti ventilasi. Dibagian atap bangunan ada suatu kubah yang akan berputar ketika angin bertiup. Dan sebagai sumber tenaganya adalah sinar matahari. Jadi ketika tombol ditekan, kubah akan berputar, angin akan masuk, dan angin dari dalam ruangan akan dihembus keluar melalui celah dibawah ruangan. Dengan demikian udara yang masuk sangat segar dan dingin seperti AC.

=======================================================================
Ini adalah akhir dari seminggu exposure visit kita. Mulai besok tgl 1 Juni kami akan pindah ke Wongsanit Ashram. Indah koq.....Cuma....ada satu masalah yaitu nyamuk lagi...(sungguh sangat mengerikan).....

metta,
Julie
      


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke