Kompas,  Minggu, 23 Juli 2006
Suatu Masa Ketika Aku Menambal Ban
Edna C Pattisina dan Susi Ivvaty
Di tengah arus konsumerisme yang membuat kita megap-megap kehilangan diri, mari sejenak menengok ke masa lalu. Bukan untuk romantisme, melainkan sekadar untuk melihat, banyak sisi unggul manusia justru dibangun dengan sederhana.
Suatu siang, Bondan Winarno panik. Ujung kacu—dasi kepanduan—nya belum diikat. Padahal, beberapa jam lagi ia harus latihan kepanduan. Itu bukan masalah sepele buat Bondan kecil yang waktu itu masih pada tingkat Anak Ajak (Siaga). Ia baru boleh membuat simpul pada ujung kacunya setelah melakukan sebuah kebajikan hari itu. Matanya tiba-tiba tertumbuk pada tukang tambal ban. Ini kesempatan, pikirnya. "Aku bantu buat menambal sebuah ban, baru habis itu bisa plong datang ke latihan pramuka," cerita Bondan.
Hal kecil itu hingga kini berbekas besar di hati mantan Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan itu. Kacunya boleh jadi sudah lama hilang, tetapi pikiran bahwa kebajikan adalah kewajiban seorang manusia hingga kini masih melekat. Nilai-nilai seperti inilah yang bagi Bondan membuatnya bangga sebagai pandu. "Saya ingat, waktu Pasar Padang kebakaran, anak-anak pandu langsung pakai kacu dan lari secepatnya supaya bisa datang pertama kali untuk menyelamatkan pasar," katanya.
Iwan Abdulrachman, pemusik, penyanyi, dan pencipta lagu, ingat bagaimana ia belajar bahwa berani adalah mengatasi rasa takut pertama kali naik gunung. Mantan ketua organisasi pencinta alam Wanadri ini ingat, saat itu, bertujuh naik gunung Jayagiri. Iwan remaja takut pada suasana gelap, suara binatang, dan pikiran ’kalau-kalau ada ini-itu’. Apa yang dilakukan pembinanya bukan sesuatu yang luar biasa atau menggunakan metode sugesti canggih seperti yang tren saat ini.
"Pembinanya biasa saja. Kami lalu jalan, mendirikan tenda, sibuk masak, melakukan ini dan itu, tahu-tahu capek, tidur, dan ketika bangun pagi, memang enggak ada apa-apa. Di situ saya belajar bahwa berani mengatasi rasa takut, bukan menggebrak maju, tanpa dasar, asal-asalan, dan konyol," katanya.
Komitmen, sesuatu yang menurut Iwan sudah luntur dari bangsa ini, juga ia pelajari dengan cara sederhana di kepanduan. "Kalau kita sudah janji mau kemah, pasti kita penuhi. Sakit malah malu. Soalnya tugas kan dibagi, kamu bawa dendeng, saya bawa beras, dia bawa tenda. Nah, kalau satu enggak datang, semua kena akibatnya. Malu sekali ketemu teman-teman," cerita Iwan.
Daya hidup
"Tuhan menciptakan kita untuk hidup berbahagia dan bergembira. Buatlah dirimu lahir-batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih kanak-kanak sehingga kamu dapat berguna bagi sesama dan menikmati hidup kelak sebagai orang dewasa," begitu pesan Lord Baden Powell, Bapak Kepanduan, sebelum ia meninggal. Kepanduan adalah sebuah ajang untuk berbahagia dan bergembira. Ketika proses masih dihargai, kepanduan perlahan membangun karakter anak-anak lewat cara-cara yang menyenangkan.
Seperti cerita Bondan dan Iwan, yang sejak kecil selalu menanti-nantikan acara berkemah. Bondan bercerita, biasanya mereka hanya membawa beras sebagai bekal makan. Yang lain, seperti sayur, diambil dari sekitar tenda, atau meminta dari penduduk. "Itu yang membuat kami jadi belajar untuk bersosialisasi dengan penduduk sekitar," katanya.
Berbagai tantangan yang harus dihadapi justru membangun elan kerja keras dan kepercayaan diri yang tinggi. Bondan yang sejak kecil terkenal jago masak, misalnya, tidak dimudahkan kakak-kakak pembinanya saat berjuang untuk mendapatkan tanda kecakapan memasak. "Saya disuruh masak nasi di dalam kelapa. Ternyata saya bisa, dan rasanya banggaaaaa sekali," ceritanya.
Iwan, misalnya, tidak akan lupa bagaimana ia mulai mengenal dan menikmati alam ketika disuruh membuat herbarium. Berbagai macam daun, dari halaman sampai hutan, dikumpulkan, diamati, dan dipelajari. Atau permainan "penyerangan" saat berbagai kelompok pramuka berkemah bersama di Dago Pojok.
Setiap kelompok berusaha mencuri benda kecil dari kelompok lain, mulai dari kacu sampai sepatu. Buat pihak yang berjaga, suara sekecil apa pun bisa jadi tanda kedatangan musuh. "Tanpa sadar, kita jadi peka sama lingkungan di sekitar kita kan," katanya.
Mastini Hardjoprakoso (83) yang ikut mendirikan Pandu Rakyat Indonesia tahun 1945 juga bercerita betapa bangganya menjadi pandu waktu itu. "Pandu itu terkenal jujur, rela menolong, berbudi luhur, dan mandiri," katanya.
Kepanduan atau yang kini disebut pramuka bukan hanya semaphore atau kepiawaian tali temali. Ada daya hidup dan elan bagi pembangunan karakter seorang manusia. Zaman dan tantangan berubah, tetapi nilai seorang manusia tetap.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke