Namo Buddhaya,

Saudara Angkroksujiwad yang budiman,

TOPIK I: Tayangan televisi dan toleransi

Ya memang di negara-negara yang beragama mayoritas, maka 
pengertian toleransi bagi kaum minoritas adalah menerima tanpa 
pertanyaan lagi. Maaf, ini saya kemukakan karena sangsi apakah 
kalau kita protes akan membuahkan hasil. Berdasarkan ajaran Islam 
yang saya pelajari, azan atau waktu sembahyang itu tidak bisa diganti2 
karena serempak di seluruh dunia. Jadi bagi umat Muslim ini 
merupakan aqidah yang tak dapat diganggu gugat. Karena itu, hanya 
kita yang dapat mengalah. Dengan pertimbangan bahwa penayangan 
acara mimbar Agama Buddha bukanlah sesuatu yang fix dan tidak 
diatur dalam agama Buddha sendiri. Tetapi kalau ada pihak yang ingin 
protes ya silakan saja. Mungkin ini juga ada positifnya karena umat 
Buddha akan dihargai eksistensinya di tengah2 masyarakat. Jadi ya 
segala sesuatu memang ada positif dan negatifnya. Karena itu satu 
pendapat tunggal sangatlah mustahil ada. Buddha sendiri mengatakan 
bahwa hidup ini adalah dukkha. Artinya kita tidak mungkin mencari 
satu solusi pamungkas yang 100 % menyenangkan bagi segala 
masalah. Saya pernah ikut seminar manajemen beberapa tahun yang 
lalu. Prinsip ini juga diakui oleh pembicara saat ia diminta 
menyelesaikan permasalah di berbagai perusahaan. Boss pasti akan 
meminta solusi jitu bagi segenap permasalahannya, baik itu masalah 
karyawan, produksi, gaji, dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain, 
ia ingin gaji yang serendah2nya bagi para karyawan tetapi memperoleh 
produktifitas setinggi mungkin. Tentu ini tidak masuk akal. Jadi harus 
ada kompromi. Semua bentuk kebijaksanaan pasti memiliki nilai plus 
dan minus.

TOPIK II: Jalan Tengah

Mengenai jalan tengah, topiknya sudah berbeda dengan di atas. Yang 
saya bicarakan adalah negara sekuler. Maksud saya kita tidak dapat 
sekuler penuh seperti di Jerman dan Amerika karena masyarakat 
belum siap, dan pengalaman saya di sana pengertian sekuler sudah 
melenceng. Agama dianggap tidak penting sama sekali. Jadi maksud 
saya agama tetap penting, tetapi tidak perlu diurus oleh pemerintah. 
Apalagi ada hukum yang mengaturnya (seperti RUU Pornografi yang 
bernuansa agama tertentu). Kalau agama dimasukkan dalam tatanan 
kenegaraan akan jadi susah. Semuanya akan merujuk pada agama. Ini 
yang berbahaya. Agama memang baik tetapi kita harus ingat bahwa 
agama tidak dapat mengatur segalanya (termasuk agama Buddha). 
Sebagai contoh paling mudah adalah membuat bangunan. Tentu saja 
kita tidak dapat menemukan rumus membuat beton bertulang dalam 
Tripitaka. Contoh berikutnya saat seorang sakit, tentu saja kita dapat 
menjumpai resep obat-obatan bagi segala penyakit dalam kitab suci 
agama manapun. Karena itu menurut pandangan saya Jalan Tengah 
adalah menempatkan proporsi masing2 secara tepat. Ada kawan saya 
yang sakit dan tidak mau  ke dokter. Ia mengatakan bahwa makhluk 
adikuasa yang diimaninya sanggup menyembuhkan dari penyakit. Nah, 
ini contoh seseorang yang tidak "Jalan Tengah."
Ini sebenarnya adalah masalah sosiologi kemasyarakatan dan karena 
saya bukan pakarnya, maka saya mempersilakan rekan lain untuk 
membahasnya. Saya hanya memberikan saran saja. Mungkin ada 
rekan-rekan lain yang sanggup memberikan masukan lebih jauh 
bagaimana menerapkan Jalan Tengah pada sosial politik Indonesia.

Salam metta,

Tan

--- In [email protected], "angroksujiwad" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> salam..
> 
> terima kasih kepada sdr. Hansen Nugraha dan sdr. dh4rm4duta, 
untuk 
> tanggapannya.
> 
> saya sangat menghargai penyikapan andika berdua.
> sikap toleransi memang membuat manusia berkesempatan bertukar 
sapa 
> dengan manusia lain. sungguhpun toleransi sepertinya lebih berarti 
> sebagai sikap menerima, untuk segala sesuatu, tanpa pertanyaan.
> 
> saya tidak tahu tentang apa yang sdr. dh4rm4duta sebut sebagai 
Jalan 
> Tengah.
> lebih dari itu saya ingin mengerti tentang ajaran Buddha, khusus 
> untuk orang awam seperti saya.
> 
> sudi kiranya andika berdua memberi saya sedikit penjelasan.
> harap tidak menertawakan kebodohan saya.
> 
> terima kasih sebelumnya,
> salam.
>










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/zAINmC/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke