| Kompas, Jumat, 28 Juli 2006 |
| Pergulatan Perempuan Siem Reap Dewi Indriastuti Suatu siang di Siem Reap, Kamboja. Terik matahari bulan Juni tak menyurutkan semangat puluhan perempuan di kolong sebuah rumah panggung. Mereka tekun melakukan pekerjaan masing-masing dalam rangkaian membuat tenunan kain sutra. Sebagian tekun memintal benang, sebagian menyusun helaian-helaian benang menjadi kain. Kesibukan puluhan perempuan dari beragam usia juga terjadi di kolong rumah panggung kedua, yang bersebelahan dengan rumah panggung pertama. Mencacah tandan pisang atau mencelupkan benang ke tempayan yang terisi penuh air berwarna hingga mengurai benang berwarna yang sedang dijemur. Warna-warni benang yang cerah dan lembut memantulkan sinar matahari. Di dalam kedua rumah panggung yang menjadi bengkel kerja Institute for Khmer Traditional Textiles (IKTT) itu, kesibukan juga terjadi. Lagi-lagi, sejumlah perempuan Kamboja berkutat dengan seni tekstil tradisional Kamboja, khususnya sutra tradisional yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin. Rom Phouy (22), perempuan yang mengaku baru saja menikah, asyik menggambar bunga di atas secarik kertas. Rupanya, Rom Phouy yang jebolan kelas II SMA itu tengah menyalin gambar bunga dari sebuah buku seni desain ke kertas gambar di depannya. Rom Phouy menghayati setiap goresan di bidang gambar. Melalui seorang pemandu wisata sekaligus penerjemah, Rom Phouy yang sudah tiga tahun ini terlibat dalam kegiatan di IKTT mengatakan ingin menjadi seniman. Untuk itu, ia belajar melukis sehingga nantinya tidak hanya menjadi pemintal benang, tetapi dapat juga mendesain motif kain sutra tradisional
Kamboja. Kolong rumah Sementara itu, Sin Heang (70) dan Tek Lang (71) asyik memintal benang di kolong rumah panggung. Usia senja tak membuat mereka bekerja santai. Keduanya masing-masing memperoleh gaji 40 dollar AS per bulan, yang cukup membantu keluarga mereka mencukupi kebutuhan hidup. Sin Heang, yang baru setahun terakhir terlibat di IKTT, sebelumnya mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menjual keranjang rotan buatannya dan suaminya. Bersama-sama suaminya, Sin Heang bahu-membahu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ajakan rekan-rekan dan kenalannya untuk menjadi pemintal benang di IKTT disambut dengan senang hati. Pendapatannya yang digabung dengan suaminya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pasangan suami istri tanpa anak itu.
"Kalau tak bekerja, kami tidak punya uang. Bagaimana kami hidup, karena tak ada anak yang akan membantu," kata Sin Heang saat ditanya mengapa hingga setua itu ia masih bekerja. Toh, pilihan untuk terjun menjadi bagian industri tekstil tradisional Kamboja itu tak membuat Tek Lang merasa terbebani. Ia justru merasa terbantu, digaji 40 dollar AS per bulan. Bekerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00 menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada menengadahkan tangan kepada turis atau menggantungkan hidup pada pemilik tanah pertanian menjadi buruh tani. Dalam situs www.cambodia.gov.kh disebutkan, Kamboja, yang memiliki bahasa resmi bahasa Khmer, 85-90 persen penduduknya hidup di desa. Pada tahun 1999, produk domestik bruto per kapita sebesar 270 dollar AS atau nyaris terendah di
dunia. Data Wikipedia, Provinsi Siem Reap, dengan luas wilayah 10.299 kilometer persegi, memiliki penduduk 696.164 jiwa pada tahun 1998. Umumnya, masyarakat Siem Reap bergantung pada industri pariwisata yang dipicu kemutakhiran Angkor Wat atau Pagoda Angkor. Perempuan lain yang usianya lebih muda, Sok Pheak (18), baru bekerja dua tahun lalu menjadi pemintal benang di IKTT. Gadis asli Siem Reap itu kini bergaji 40 dollar AS sebulan, naik seiring dengan keahliannya. Bagi Sok Pheak, bekerja membuatnya memiliki penghasilan sehingga dapat membantu orangtuanya, menambah pendapatan keluarga dan membesarkan adik-adiknya. Pergulatan hidup perempuan di Siem Reap, salah satu provinsi di Kamboja, disadari benar oleh Kikuo Morimoto. Pimpinan IKTTyang ia dirikan pada tahun 1996 dengan dukungan Japan Foundationitu menyebutkan, mayoritas yang terlibat
di IKTT adalah kaum perempuan. Di samping proses menghasilkan tenun yang membutuhkan ketelatenan dan kerapian, proses itu juga membutuhkan sentuhan rasa yang halus, meskipun ada juga beberapa laki-laki terlihat bekerja di bengkel IKTT. Seperti dijelaskan Morimoto, umumnya pekerja di IKTT berasal dari sekitar bengkel IKTT, tapi ada juga yang setiap pagi mesti menempuh jarak 20 kilometer dari rumahnya ke bengkel IKTT. Maka, para ibu dapat bekerja dengan membawa serta bayi atau anak mereka yang masih kecil, yang tak mungkin ditinggal di rumah pada jam kerja. "Lihat, seperti di rumah saja kan?" tanya Morimoto sambil tersenyum. Siang itu suasana di kolong rumah panggung memang diramaikan suara dan polah tingkah beberapa anak kecil yang asyik bermain. Beberapa ibu bahkan
memintal benang atau menenun kain ditemani bayi mereka yang tidur lelap di ayunan kain di sebelahnya. Houm Kim Sreuon (47), yang sudah lima tahun bekerja di IKTT dengan gaji terakhir 80 dollar AS sebulan, bahkan memintal benang sambil bercanda dengan cucunya yang baru bisa merangkak. Anak perempuan Houm Kim Sreuon, ibu si bayi, juga menjadi pemintal benang di IKTT, mengikuti jejaknya. Kedatangan saya ke bengkel IKTT bersama sejumlah rekan jurnalis dari Malaysia, Singapura, dan Thailand pada bulan Juni lalu atas undangan Rolex. Kami diajak bertemu Kikuo Morimoto, spesialis sutra yang meraih penghargaan Laureate Rolex 2004. Bagi Morimoto, IKTT bukan semata-mata tempat menghasilkan tekstil atau sutra tradisional Kamboja, tetapi juga menjadi penjaga tradisi sutra
tradisional Kamboja yang nyaris lenyap terkalahkan industri mesin. Bahkan, IKTT juga menjadi sarana bagi perempuan Siem Reap meraih nasib yang lebih baik. Kepada kami, Morimoto mengisahkan, beberapa anak perempuan putus sekolah ikut terlibat di bengkel IKTT. "Beberapa anak bahkan tidak pernah sekolah. Mereka tidak bisa menuliskan nama mereka sendiri," tutur Morimoto. Sudut matanya mengerling ke arah beberapa anak perempuan yang tengah melukis sekuntum bunga di secarik kertas. Tak bisa membaca Anak-anak perempuan yang tidak dapat membaca itu diajak terlibat di IKTT. Sebagian mau karena ingin belajar membaca, sebagian lagi menolak. Mereka yang bersedia lantas diajari membaca, berhitung, kemudian melukis. "Setahap demi setahap. Ada yang semula tidak bisa
apa-apa, sekarang bisa membaca, menulis, berhitung. Bahkan, ada yang mulai belajar bahasa Inggris," kata Morimoto dalam bahasa Inggris berlogat Jepang. Laki-laki kelahiran Kyoto, Jepang, 3 November 1948, itu menuturkan, selanjutnya anak-anak perempuan itu menemukan ketertarikan masing-masing. "Ada yang lalu tertarik pada warna dan desain, bahkan ingin menjadi seniman. Mereka kemudian memilih belajar melukis dan mewarnai sebagai bekal mendesain motif kain," papar Morimoto sambil menunjuk Rom Phouy. Ada pula mantan guru seperti Soknget (35) yang kemudian terjun di IKTT. Kini, dengan keterampilannya, Soknget menduduki jabatan kepala bagian teknis di IKTT, khususnya yang berkaitan dengan proses pewarnaan benang. "Saat ini, Soknget mengajari dan mengawasi mereka yang bekerja di sini," tutur Morimoto. Di sampingnya, Soknget tersenyum malu.
IKTT yang menjadi sarana mengembangkan diri dan memperoleh pendapatan untuk kehidupan yang lebih layak juga bagaikan pilihan bagi warga Siem Reap, khususnya perempuan. Seperti banyak terjadi di daerah tujuan wisata di negara dunia ketiga, di Siem Reap banyak yang menggantungkan diri pada dunia pariwisata. Bukan hanya menggantungkan diri secara tak langsung melalui usaha penginapan, rumah makan, atau menjadi pemandu wisata, tetapi juga menggantungkan diri dalam bentuk yang sangat memprihatinkan, yakni meminta belas kasihan wisatawan yang umumnya berbekal dollar AS. Sok Kheang (27), pemandu wisata yang disewa Rolex untuk mendampingi para wartawan selama berkunjung ke Siem Reap, dengan nada prihatin mengaku bahwa jumlah tunawisma atau peminta-minta yang menengadahkan tangan kepada turis semakin banyak. Penyebabnya, tentu desakan kebutuhan
hidup yang makin berat saat kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak semakin kecil. "Maka, saya yakin para istri atau anak perempuan di suatu keluarga tidak akan mendapat banyak halangan kalau meminta izin terlibat di IKTT," kata Sok Kheang. Alasannya, tentu saja pendapatan yang bertambah saat terlibat di IKTT, yang akan dapat menyokong pendapatan sang suami yang menjadi petani atau buruh tani. Seperti diceritakan Morimoto, pendapatan atau gaji setiap pekerja baru di IKTT tidak pernah lebih tinggi dari 30 dollar AS per bulan. Apabila keterampilan dan kemampuannya membaik, maka pendapatannya akan meningkat 5-10 dollar AS selama kurun waktu tertentu. Saat ini, dari sekitar 500 pekerja, beberapa orang di antaranya berada dalam kelompok gaji tertinggi, yakni 180 dollar AS per bulan. Dunia sutra Dengan moto "project for wisdom from the forest" atau proyek untuk kearifan dari hutan, Morimoto menerapkan kearifan alam di IKTT. Seluruh proses menggunakan bahan dan cara alami, termasuk penggunaan alat tenun bukan mesin. Begitu juga untuk mewarnai kain, IKTT menggunakan daun pisang untuk menghasilkan warna kuning, daun kenari untuk menghasilkan warna hitam, atau daun bunga bugenfil untuk menghasilkan warna kuning. Keseluruhan unsur alami ini mengakibatkan produk yang dihasilkan tak terlalu banyak setiap bulannya. Bahkan, menurut Morimoto, kain hasil tenunan selama tiga bulan hanya sepanjang 50-60 cm. Namun, kualitas yang dihasilkan selalu yang terbaik. Produk IKTT dijual langsung di bengkel IKTT di Siem Reap maupun di Galeri The Freer and Arthur M Sackler atau dibawa langsung oleh
Morimoto saat berkunjung ke kota kelahirannya, Kyoto, Jepang. Bukan tahapan yang singkat dan gampang. Niat awal untuk menjaga tekstil sutra tradisional Kamboja dari kepunahanpascakonflik sipil selama lebih kurang 30 tahun sejak tahun 1970agaknya mulai membuahkan hasil. Makin banyak warga Siem Reap yang kembali menekuni tekstil tradisional dan menguasai keterampilan menghasilkan sutra tradisional. Yang pasti, semakin banyak masyarakat Siem Reap, terutama perempuan, yang tidak menyerahkan diri pada impitan ekonomi lalu menyerah pada nasib. Akan tetapi, mereka berani memperjuangkan kemajuan diri sendiri dan menjaga kehidupan keluarga dengan bekerja di IKTT. "Yang paling penting, industri tekstil tradisional ini bisa membuat orang-orang senang, mengajak orang lain untuk
maju bersama-sama. Apalagi melihat mereka tumbuh. Saat datang, anak-anak putus sekolah itu mengenakan baju sobek-sobek. Tapi tiga atau lima tahun kemudian mereka tumbuh, mandiri, menjadi cantik, berkeluarga. Alangkah bahagianya saya...," kata Morimoto. |
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
