b_n > wrote:
boro-boro ngerti nggak ada aku, jerawatan aja udah repot banget, emang
susah kalau mau ngelepasin kemelekatan, gua jadi mikir, kalau sampe
mati, gua nggak bisa ngikutin ajaran mulia ini, hidup gua gimana ya?
apa gua ngikutin hati gua seperti sekarang:
happy aja, yg penting pikiran gua bener ngidupin anak bini,usaha,
nolong org lain, bisa ke karaoke,minum bir, nggak mau nyusahin org,
tapi mau ngibulin org dlm usaha supaya dapet untung,dan seterusnya
supaya gua dan keluarga bisa hidup.
kalo baca zen, ch'an dll, mungkin gue bisa(baru MUNGKIN), kalo semua
kebutuhan org yg kita cintai cukup (dlm arti hidup mereka bertingkah
laku baik dlm pandangan umum).
sedih banget deh gue, gue ngerti jalan itu,tapi gue nggak bisa, apa
kurang semadi? apa ada cara lain supaya bisa naik tingkat dari
pemikiran ini?
tolongin dong!!!!!!
[dari: BCL T <[EMAIL PROTECTED]>, Subject: "spiritualitas itu.... tidak
hitam putih, tidak congkak bin sombong..." ]
===================================
HUDOYO:
Tampak dari tulisan di atas, si penulis tidak menyadari akan adanya
suatu masalah mendesak dalam batinnya sendiri.
Di satu pihak, ia melihat ajaran Agama Buddha sebagai sesuatu yang
asing, meragukan, namun sedikit banyak menarik minatnya, malah
dikatakannya "sedih banget deh gue, ngerti jalan itu, tapi gue nggak
bisa." Tetapi di lain pihak, ia berkata bahwa ia "happy aja" hidup
seperti yang sekarang dijalaninya, malah tidak segan-segan "ngibulin
org dlm usaha supaya dapet untung, dan seterusnya supaya gua dan
keluarga bisa hidup."
Dengan kata lain, jelas terlihat bahwa sebetulnya ada konflik dalam
batinnya, konflik antara menempuh jalan yang diajarkan Sang Buddha
(dan/atau guru-guru suci lain) di satu pihak, dan hidup seperti
sekarang termasuk menipu orang lain, yang memberinya "ke-happy-an" di
dunia ini di lain pihak.
Itulah sikap kebanyakan manusia beragama pada dewasa ini, termasuk
pula mereka yang mengaku beragama Buddha. Dalam hal itu, ajaran Sang
Buddha--atau ajaran agama apa pun juga--tidak ada manfaatnya sama
sekali buat dia. Paling-paling hanya untuk memperluas kehidupan
sosial, mengunjungi kebaktian di vihara-vihara, ketemu banyak orang
dsb, demi untuk meningkatkan kesejahteraan & keberuntungan diri
sendiri & keluarga pada saat ini.
Orang BARU AKAN BERPALING kepada ajaran guru-guru suci apabila ia
mulai menyadari adanya konflik dan dukkha dalam batinnya sendiri pada
saat ini. Dan itu sering kali baru terpicu bila ia mengalami suatu
penderitaan, yang mau tidak mau pasti akan dialaminya pada waktunya
nanti, kalau bukan sekarang.
Jarang ada orang seperti Siddhartha Gautama, yang sadar ketika berada
di tengah-tengah kemewahan dan kebahagiaan/kenikmatan. Atau seperti J
Krishnamurti, yang sadar ketika dielu-elukan sebagai Guru Dunia.
Salam,
Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/