Ketika saya baru belajar bahasa Inggris di SMP dulu, betapa susah rasanya. Nggak kebayang kalo suatu hari nanti saya bisa bahasa Inggris. Pengennya sih stop les bahasa dan main-main aja sama teman-teman. Namun karena dipaksa orang tua, yah jalan terus lesnya sampe akhirnya yah bisa juga. Dan sekarang, saya merasa sungguh beruntung bisa bahasa tersebut.
Sekarang ada banyak les bahasa Inggris yang lebih fun. Ada permainannya, ada diskusinya sama orang native speaker, ada internet, dll. Jadi mungkin anak2 sekarang lebih bisa menikmati proses belajarnya.
Saya kira belajar Dhamma itu demikian juga. Cuman tidak ada lagi "orang tua" yang maksain, jadi kita cenderung malas. Namun kalo praktek Dhamma itu dinikmati: bisa nikmat dipermulaan, nikmat ditengahnya, dan nikmat diakhirnya, maka niscaya lebih seru. Jadi perlu cari "tempat les" yang lebih fun, dimana praktek Dhamma yang kecil2 yang keseharian bisa dipelajari
dan langsung dipraktekkan sehingga lebih cepat terasa nikmatnya bagi hidup kita. Dhamma itu harusnya membuat hidup lebih senang, bukan lebih terkungkung toh!
salam Dhamma,
Harryson
ching ik/ djoni <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SEbenarnya itu mengindikasikan bahwa kita masih belum mengerti jalan
itu. Jadi apa yang dikatakan pak Hud benar. Kalo ngerti jalan itu
mah berarti nggak mungkin mau ngibulin orang lagi, nggak mungkin mau
larut dalam kenikmatan panca indriya seperti karaoke ama keluarga la
segala...gitu ....
Cg ik
-- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , Hudoyo Hupudio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> b_n > wrote:
> boro-boro ngerti nggak ada aku, jerawatan aja udah repot banget,
emang
> susah kalau mau ngelepasin kemelekatan, gua jadi mikir, kalau sampe
> mati, gua nggak bisa ngikutin ajaran mulia ini, hidup gua gimana
ya?
> apa gua ngikutin hati gua seperti sekarang:
> happy aja, yg penting pikiran gua bener ngidupin anak bini,usaha,
> nolong org lain, bisa ke karaoke,minum bir, nggak mau nyusahin org,
> tapi mau ngibulin org dlm usaha supaya dapet untung,dan seterusnya
> supaya gua dan keluarga bisa hidup.
> kalo baca zen, ch'an dll, mungkin gue bisa(baru MUNGKIN), kalo
semua
> kebutuhan org yg kita cintai cukup (dlm arti hidup mereka
bertingkah
> laku baik dlm pandangan umum).
> sedih banget deh gue, gue ngerti jalan itu,tapi gue nggak bisa, apa
> kurang semadi? apa ada cara lain supaya bisa naik tingkat dari
> pemikiran ini?
> tolongin dong!!!!!!
>
> [dari: BCL T <[EMAIL PROTECTED]>, Subject: "spiritualitas itu.... tidak
> hitam putih, tidak congkak bin sombong..." ]
>
> > Salam,
> Hudoyo
>
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
