Dear all, Sekuntum teratai untuk Anda semua,para Bodhisattva, dan calon Buddha.
Kenapa dia berselingkuh? Kenapa...?Apa aku tidak cukup baik? Aku sudah begitu sabar terhadapnya, tidak pernah membantah..Apa kekuranganku..? Itulah suara dari si wanita, "korban" dari suami yang berselingkuh. Dia selalu bertanya kenapa suaminya selingkuh..Yang pada ujungnya selalu berakhir pada kemarahan, kekecewaan, sakit hati, kebencian, bahkan memandang rendah dirinya sendiri. Tapi jangan lupa tentang kehadiran anak-anak mereka. Mereka tahu apa yang sedang terjadi antara orang tua mereka. Mereka merasa tertekan, malu jika ada yg bertanya tentang keluarganya. Jika kita berbicara tentang selingkuh, akan ada banyak pro dan kontra. Bagi mereka yg pro: ini salah satu alasan favorit: "karena pasangan saya tidak bisa memuaskan saya. Dia tidak bisa memahami saya". Bagi mereka yang kontra: "pasangan memang tidak bisa dipercaya. Dia tidak mengerti saya. saya sudah melakukan yang terbaik buat dia". Sebenarnya apa sih arti dari "selingkuh"? Punya lebih dari satu pasangan? Sedikit sharing ketika saya berada di Thailand, disitu ada banyak teman dari negara2 berbeda, yg pasti punya budaya berbeda. Ada 2 temanku yang punya budaya menarik. Satu dari Tibet: wanita disini sah-sah saja jika punya anak sebelum menikah, bahkan ketika suaminya pergi, wanita berhak untuk menikah atau tidur dengan laki-laki lain. Dan semua anak hasil hubungan akan dirawat oleh pihak wanita. Satu lagi dari Nepal (India). Disini wanita/pria sah-sah saja punya lebih dari satu pasangan. Bahkan mereka bisa menikah dengan saudara iparnya. Dan masing-masing tahu, malah mereka akur satu sama lain. Sampai ada kejadian, dimana satu wanita ingin menceraikan suaminya, dengan alasan merasa berdosa bersuamikan lebih dari satu. Tapi coba tebak, suaminya yg pertama malah meminta supaya jangan menceraikan suaminya yang nomor dua. Hahaha...Aku juga terkejut mendengarnya.... Disebut selingkuh kapan, sebelum kita mengetahuinya, atau selama (during) hubungan itu berlangsung, atau setelah kita mengetahuinya? Jadi selingkuh itu apa yah? Dulu aku sangat jijik melihat perselingkuhan. Itu tak lebih dari perilaku hewan tingkat rendah. Mereka yang berselingkuh tidak pantas dilihat. Mereka adalah kotoran, tak lebih.. Begitu ekstrimnya "pandanganku" ..Haha... Setelah mengikuti retret Dharmajala, setelah berkenalan dengan "hidup berkesadaran", setelah bersentuhan dengan ajaran Y.A. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh, baru bisa melihat lebih jelas. Butuh waktu lama untuk bisa mengubah "pandanganku". Sama sekali bukan hal yang gampang. Pertama aku tidak siap untuk berpikir mengampuni mereka. Lambat laun aku baru tau, sikap tidak siap itu adalah tidak berani alias takut. Tapi setelah belajar untuk terbuka terhadap pikiran orang lain, belajar mendengarkan secara mendalam, banyak mengikuti sharing, mendengar sharing masa gelap dari seseorang. Perlahan aku mulai belajar untuk berani menghadapi kasus ini. Dengan sedikit iming2 terhadap diri sendiri, paksaan, sedikit keberanian,& kebersamaan sanghaku, aku mulai berjalan memasuki daerah orang "terhukum" yang gelap dan penuh dengan tuduhan & makian. Begitu sesak dengan kesedihan, dipenuhi dengan atmosfir kemarahan, kebencian, dan penolakan. Sekarang siapkah bro & sis untuk bergandengan bersamaku, mencoba memasuki area gelap ini? Mencoba melihat dari sisi kerangkeng seorang "penyelingkuh". Aku tidak sedang mencoba untuk membenarkan perselingkuhan, tapi bagaimana kita menyikapi masalah ini. Kita PERLU mengambil tindakan. Dikatakan Dharma adalah obat penawar penderitaan. Nah, mengapa tidak kita coba saja? Buktikan benar gak sih Dharma itu bisa membawa kedamaian? Mengapa tidak kita coba pandang dari sisi Dharma? Mengapa tidak kita coba untuk dengan sengaja dan dengan penuh kesadaran menarik benang antara selingkuh dengan Dharma? Lihat apa yang bisa kita dapatkan dari ajaran Buddha...? Selalu ada pertanyaan untuk si pelaku:apa kekurangan dia?dia begitu cantik, sabar, selalu tersenyum, lembut, perhatian, pengertian, sudah "melahirkan" anak2 yang cerdas & "patuh", selalu menjaga rumah, setia. Dia begitu cantik luar dalam, apa yang kurang? Apa yg membuatnya tidak puas? Tapi SADARKAH kita, berbagai pikiran ini muncul sebenarnya tidak mengharapkan jawaban, lebih bernada menyudutkan. Pertanyaan ini muncul SETELAH selingkuh itu terjadi. Pernahkah kita benar-benar INGIN mengetahui hal apa yang mendorong hal itu terjadi? Dan "menyelami" selama (during) perbuatan itu dilakukan? Tidak, yang langsung kita nilai, kita lihat adalah setelah selingkuh terjadi. Sekarang jika selingkuh sudah terjadi, apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika dia merasa sedih? Tertekan, putus asa, menyesal, bingung? Ingin mengakui kelemahannya, tapi tidak berani berbicara? Ingin berubah, tapi takut? Bagaimana jika dia juga merasa sangat bersalah? Dan berdosa? Sekarang apa yang harus kita lakukan? Sekarang setelah kita mengetahui dia selingkuh, itu berarti harus ada langkah yang diambil. Mungkinkah pada awalnya dia merasa tidak mampu berkomunikasi, lantas bertemu dengan orang yg bisa "nyambung"? Dan mungkinkah hal ini menolongnya untuk tetap "waras" dan memperlakukan anak2nya dengan baik? Mungkinkah yang kita sebut sebagai selingkuhan itu justru membantu dia menyembuhkan "luka" emosinya, yang tidak terjamah oleh pasangannya? MUNGKINKAH? Lalu bagaimana jika hubungan ini menghasilkan anak? Apakah kita akan selalu menghukum, menyalahkan, dan menulikan telinga kita, membutakan mata kita? Apakah anak itu mesti diaborsi, dibunuh? Seberapa berani kita membahas selingkuh ini sampai tuntas? Tidak hanya berhenti pada penghakiman, karena menghakimi terlalu mudah. Simple. Beranikah kita untuk menghadapi (to confront) masalah selingkuh ini melampaui "judgement"? Seberapa tahan kita untuk masuk ke area orang terhukum ini? Akan lebih gampang bagi kita untuk mengerti posisi "korban". Tapi kita jelas tau, sebenarnya yang sedang berteriak minta tolong tanpa suara adalah si "penyebab". Seberapa efektif kita membantu dia untuk menyadari? Seberapa sabar dan tahan kita untuk bersamanya dan membantu dia untuk berubah? Mungkin sajakan yang kita sebut "korban" sebenarnya adalah "penyebab"? Mungkin saja mereka yg disebut sebagai "pelaku" adalah "korban"? Mungkin saja mereka yg disebut orang ketiga adalah orang yang posisinya terjepit, korban, yang terjebak karena situasi, yg tidak paham..? Bagaimana jika "pelaku" juga merintih menderita & kesakitan? Akankah kita berucap : itu memang pantas kau terima? Kata-kata ini juga terpatri dalam kepalaku dulu. Kita selalu berpikir bahwa mereka yang melakukan perselingkuhan adalah orang dewasa. Kita sering lupa bahwa "orang dewasa" ini juga pernah mengalami "masa anak2", pernah menjadi seorang anak kecil yang begitu rapuh, sangat gampang terluka. Mungkinkah dia trauma? Kita lupa semua itu... Sudah cukup tuduhan yang dilayangkan..Sudah cukup makian yang dilontarkan..Sudah cukup banyak jari yang ditudingkan... Sekarang beranikah kita menawarkan sesuatu yang dia dambakan? Pengertian, pengampunan, empati, kebijaksanaan, kesabaran, kelembutan, kedamaian..dan pengertian yang benar? Orang yang tenggelam tak akan mampu untuk naik ke permukaan sendiri, dia akan butuh pertolongan dari tangan yang terulur, bukan lemparan batu atau galah yang ditusukkan.. Seberapa luas teori kita tentang Dharma? Sudah cukup mengertikah kita ajaran Buddha? Saya yakin bro & sis pasti pernah membaca cerita "Angulimala". Si pembunuh yang mengumpulkan seratus jari. Berikut saya kutip dari buku "Jalur Tua Awan Putih", karya Y.A. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh. Saat dia bertemu Buddha, dia terkesima. Karena biasanya orang akan lari ketakutan. Tapi Buddha menatapnya bagai sahabat atau saudara. Saat itu Angulimala juga merasa putus asa, tidak mungkin kembali ke jalan yang benar. Tapi Buddha meyakinkannya, bahwa Buddha akan melindunginya jika dia bersedia untuk "memulai lembaran baru", untuk belajar dan melatih diri. Apa yang sedang dilakukan Buddha sebenarnya? Apakah tindakan ini membuat Buddha membenarkan pembunuhan? Kenapa Buddha memberikan Angulimala kesempatan untuk bertobat? Seandainya Buddha tidak menerima pertobatannya, apa yang akan terjadi? Jika BUddha tidak ingin menolongnya, memberikan pengertian benar padanya, apa yang akan terjadi padanya? Kita melihat MEMANG Angulimala telah berbuat salah, membunuh, tapi kemudian dia menjadi bhikshu. Apa yang terlihat disini? Perubahan bukan? Seseorang yang berani untuk memulai lembaran baru bukan? Dia juga pada awalnya merasa takut bukan? Apakah Buddha menghakimi Angulimala? Apakah Buddha menghukumnya? Terkadang kita begitu terinspirasi ketika membaca cerita Jataka, cerita tentang Buddha, yang berhasil menyadarkan si pembunuh, untuk kembali ke jalan yg benar. Tapi ketika kita menghadapinya sendiri, kita seolah-olah tidak mau memberikan kesempatan untuk berubah. Kita ingin menghukum mereka. Apakah kita perlu menunggu sampai kejadian ekstrim seperti ini baru berani mengampuni? Atau kita perlu menunggu hingga kita menjadi Buddha untuk mengampuni? Seberapa siap kita, seberapa berani & kuat kita, seberapa besar rasa hormat kita kepada Buddha guru kita, untuk mempraktikkan ajaranNya, bersama-sama dengan mereka yang kita anggap kotor & berdosa, untuk melihat mentari pagi, tanda hadirnya sebuah hari yang baru? Seberapa lapang dada ini untuk memeluk & mengajak mereka tersenyum kembali bersama dengan kita? Mampukah kita membantu mereka bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik, baik seperti anggapan kita selama ini? Seberapa besar kasih sayang kita untuk membalut dan membasuh luka borok mereka? Silakan bagi bro & sis yang juga ingin berbagi / menanggapi..Selalu terbuka untuk berbagi... Hehee.... Feel free to share with us.... disini kita belajar, berlatih, dan berbagi hidup berkesadaran bersama. always with metta, Julie --- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Menurut pendapat saya jika membahas masalah perselingkuhan, kita > juga harus melihat dari sudut pandang masyarakat secara luas. > Masyarakat kita dan dunia ini memang sedang sakit karena pengaruh > konsumerisme yang berlebihan, dimana ini telah dinyatakan oleh Lama > Thubten Yeshe. Konsumerisme yang berlebihan memacu orang untuk > bekerja dan bekerja semakin keras sehingga mengalami titik > kejenuhan. Akibatnya timbul ketidak-puasan dalam segala bidang > termasuk dalam keluarga. Hubungan keluarga menjadi rusak sehingga > orang cenderung mencari kesenangan di luar. Menurut saya untuk > mencegah hal ini kita perlu melindungi nilai-nilai tradisional yang pernah > berlaku di tengah-tengah masyarakat. Konsumerisme memang baik, > karena akan menggerakkan roda perekonomian, tetapi kalau sudah > berlebihan hal ini akan menjadi jurang penderitaan. Pekerjaan sekarang > justru menyebabkan alienasi masyarakat dengan keluarga, tetangga, > atau lingkungannya. Namun sayangnya sadar atau tidak sadar kita > malah melembagakan atau mendukung alienasi ini. Dengan demikian, > kita perlu kembali pada ajaran sosialisme Buddhis yang diusung oleh > Ajahn Sulak Sivaraksa, yang merupakan salah satu tokoh idola saya. > Konsumerisme hendaknya memandang batasan2, yakni rasa cukup > yang tidak berlebihan. > Selain itu umat Buddha juga seyogianya bersatu padu menghimbau > pemerintah agar membatasi sinetron2 yang bertema perselingkuhan, > karena itu justru akan memicu orang berselingkuh. Sadar atau tidak > sadar televisi juga menjadi salah satu penyebab penyakit dalam > masyarakat. > Baik saya kira sekian dahulu pendapat saya. Semoga bermanfaat. > > Metta, > > Tan > > > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
