Rekan-rekan yang terkasih dalam Dharma,

Pada kesempatan kali ini, marilah kita mendiskusikan tentang konsep 
kemaha-tahuan (sarvajnana) seorang Samyaksambuddha. Apa yang 
dimaksud sarvajnana dalam Buddhisme tidak berarti bahwa Beliau 
dapat mengetahui segala sesuatu yang AKAN terjadi. Kemaha-tahuan 
seorang Buddha adalah pengetahuan mengenahi BATASAN apa yang 
dapat diprediksikan dan tidak dapat diprediksikan. Kita mengetahui 
bahwa segala fenomena di alam raya ini dipengaruhi oleh banyak faktor 
yang senantiasa berubah terus, sehingga mustahil untuk menentukan 
hasil akhir segala sesuatu. Jadi seorang samyaksambuddha sekalipun 
tidak akan pernah dapat mengetahui hasil akhir segala sesuatu yang 
tidak bersifat pasti ini. Berdasarkan apa yang saya baca dari sutra2 
Buddhis, hanya ada satu hal yang dapat diprediksikan secara pasti 
oleh seorang Samyaksambuddha. Hal ini disebut vekkarana (Sanskrit: 
vyakarana), atau pernyataan bahwa seorang Bodhisattva kelak pasti 
akan menjadi seorang Samyaksambuddha di masa mendatang. Ini 
dapat diprediksikan karena Bodhisattva tersebut pada saat itu telah 
mencapai tingkatan Immovable (Acala), yakni tingkatan spiritual yang 
tidak akan mundur lagi. Jadi begitu tingkatan spiritual itu direalisasi, ia 
hanya dapat maju terus hingga merealisasi Kebuddhaan (baca Sutra 
Dasabhumika).
Namun seorang Samyaksambuddha sekalipun tidak akan sanggup 
meramalkan apakah Merapi akan meletus atau tidak, karena itu 
merupakan faktor yang alam yang senantiasa berubah dari detik ke 
detik, menit ke menit, jam ke jam, dan seterusnya. Fisika kuantum 
sendiri menyatakan prinsip yang disebut Ketidak-pastian Heisenberg, 
yang menyebutkan bahwa mustahil mengetahui secara pasti kondisi 
MUTLAK suatu partikel di alam semesta ini, secanggih apapun radas 
yang kita pergunakan.
Kemaha-tahuan dalam agama Buddha berbeda dengan kemaha-tahuan 
dalam konsep Tuhan samawi. Inilah yang harus dibedakan. Seorang 
Buddha barangkali mengetahui semua fenomena dan faktor yang hadir 
terhadap suatu peristiwa dalam MOMEN tertentu, tetapi tidak dapat 
memprediksikan apa yang akan terjadi pada MOMEN berikutnya.
Kemaha-tahuan seorang Buddha bukan berarti bahwa Beliau 
mengetahui semuanya dalam suatu saat tertentu, tetapi apabila Beliau 
ingin mengetahui sesuatu, maka tinggal dipusatkannya kekuatan 
pikiran Beliau dan akan pengetahuan itu akan diperolehnya (tentunya 
dengan batasan-batasan seperti yang telah saya sebutkan di atas). 
Saya kira konsep ini lebih masuk akal, karena konsep predestinasi 
mutlak tidaklah sehat bagi perkembangan spritual seseorang. Bila 
segala sesuatu telah diprediksikan, tidak ada gunanya lagi untuk 
berbuat kebajikan. Jadi penjahat atau orang baik, toh sudah "jalannya 
kehidupan." Kalau saya dikecam karena kejahatan saya, maka saya 
dengan mudah berkilah, "Memang nasib saya telah ditentukan untuk 
menjadi penjahat." Tentu ini tidak masuk akal bukan?
Orang sering berusaha menafsirkan "kemahaan" dengan kemutlakan 
padahal ini tidak masuk akal. Voltaire mengatakan bahwa segala 
sesuatu yang mutlak akan merusak kemutlakannya. Jadi maha tahu 
mutlak dalam artian tahu segalanya tanpa kecuali tidak pernah ada. 
Maha kuasa mutlak dalam artian sanggup melakukan segalanya juga 
tidak masuk akal. Dengan demikian terjemahan sarva jnana 
sebagai "maha tahu" sesungguhnya tidak tepat. Barangkali sarvajnana 
lebih baik diterjemahkan "mengetahui apa yang manusia awam tidak/ 
belum ketahui." Jadi seorang Buddha hanya dapat mengetahui sesuatu 
yang berada dalam "batasan yang masih mungkin diketahui," kendati 
umat awam tidak dapat melihatnya (karena berbagai keterbatasan 
mereka). Buddha sanggup melihat penghancuran kekotoran batin atau 
ke manakah suatu makhluk akan terlahir karena itu masih berada 
dalam cakupan yang dapat diketahui, misalnya karena Beliau sanggup 
melihat kondisi pikiran seseorang saat sebelum meninggalnya.
Lebih jauh lagi, kemaha-tahuan seorang Buddha berarti mengetahui 
segala peristiwa yang telah terjadi hingga ke masa lampau yang tak 
terhingga. Ini dimungkinkan karena peristiwa itu TELAH terjadi. Kita 
saja tentu masih mengingat beberapa peristiwa yang terjadi kemarin, 
dua hari yang lalu, setahun, atau beberapa tahun yang lalu. Ini semua 
dimungkinkan karena memang semua peristiwa itu telah terjadi.
Mungkin beberapa orang akan bertanya, bagaimana dengan beberapa 
peramal yang dapat meramalkan peristiwa yang akan terjadi. Menurut 
saya, ini semua dapat diramalkan karena hampir semua komponen 
telah mengarah pada terjadinya peristiwa tersebut, bagaikan sebutir 
kelereng yang menggelinding miring. Kita dapat meramalkan bahwa 
kelereng kelak pasti akan menyentuh lantai. Tetapi bila ada faktor lebih 
kuat lain yang sanggup memotong dan membalik arus peristiwa itu, 
yang tidak dapat diramalkan, maka tentu saja prediksi akan meleset. 
Umpamanya tiba-tiba saja tangan saya menahan jatuhnya kelereng. 
Jadi kita dapat memprediksikan suatu peristiwa dengan mengamati 
berbagai faktor yang ada, tetapi tidak akan pernah dapat meramalkan 
100 % dengan tepat.  Karena itu tidak ada ramalan yang 100 % terjadi.
Ramalan sendiri masih mematuhi prinsip Ketidak-pastian Heisenberg. 
Berdasarkan penelitian saya terhadap ramalan, makin tepat suatu 
rincian peristiwa diprediksikan, waktu terjadinya menjadi makin kabur. 
Sebaliknya makin tepat waktunya diprediksikan, rincian peristiwanya 
menjadi makin kabur. Inilah batasan semua fenomena. Tidak ada 
ramalan yang dapat merinci peristiwa dan waktu terjadinya dengan 
ketepatan mutlak. Marilah kita ambil Ramalan Nostradamus. Meskipun 
banyak orang berpendapat bahwa Ramalan Nostradamus hanya omong 
kosong, tetapi penelaahan saya membuktikan bahwa ada beberapa 
kuatrain yang menunjukkan tingkat keluarbiasaan yang tinggi. Misalnya 
penyebutan mengenai kematian Raja Charles dan terbakarnya kota 
London. Namun kuatrain2 itu tidak menyebutkan kapan peristiwa akan 
terjadi. Ini berlaku pula pada Ramalan Padmasambhava. Beliau 
menyebutkan bahwa ketika burung2 besi beterbangan dan kuda2 berlari 
di atas roda, maka bangsa Tibet akan terserak ke seluruh dunia. 
Ramalan ini hanya menyebutkan rincian peristiwa saja (yang terjadi 
pada tahun 1959) tetapi tanpa menyertakan kapan peristiwa itu akan 
terjadi. Peramal Jean Dixon meramalkan bahwa sesuatu akan terjadi 
pada tanggal tertentu, dimana ini merupakan peristiwa besar, tetapi 
rincian peristiwa tidak sanggup dilihatnya. Ternyata peristiwa itu adalah 
pembunuhan Presiden Kennedy.
Seorang Samyaksambuddha disebut sarvajnana karena Beliau 
sanggup melihat seluruh niyama yang saat itu sedang bekerja. Tetapi 
pengetahuan tentang niyama yang hadir pada MOMEN TERTENTU 
bukanlah syarat untuk mengetahui apa yang PASTI TERJADI, kecuali 
ia dapat mengetahui secara pasti bahwa tidak ada peristiwa lain yang 
lebih kuat, yang sanggup memotong alur peristiwa tersebut (misalnya 
vekkarana pada seorang Bodhisatta).
Demikian sedikit ulasan dari saya. Mohon maaf kalau ada kata yang 
salah.

Metta,


Tan








** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke