At 11:00 AM 8/25/2006, [EMAIL PROTECTED] wrote:
Selamat Pagi Pak Hudoyo,
Saya sering baca tulisan Pak Hud ttg Bahiya Sutta.
Hingga kini Pak Hud tetap konsisten dgn pandangannya khususnya MMD yg
merefer pada Bahiya Sutta .
Bulan lalu saya merasa beruntung tidak melewatkan tulisan Ajahn Bram yang
diforward via milis oleh Sdr.Michael.
Bagaimana pandangan Pak Hud ttg hal ini? Semoga dapat memberi manfaat bagi
banyak orang.
Sukses selalu....
Terima Kasih
=========================================
HUDOYO:
Rekan Sam yg baik,
Michael juga pernah mengirimi saya khotbah Ajahn Brahm tentang Bahiya-sutta
ini. Sayang khotbah ini dalam bahasa Inggris dan sangat panjang sehingga tidak
dapat saya muat seluruhnya dalam posting ini. Maka, agar para pembaca bisa
mengikuti secara mendetail apa yang tengah kita bicarakan, terpaksa saya agak
berpanjang lebar menceritakan argumentasi apa saja yang ditampilkan oleh Ajahn
Brahm.
Ajahn Brahm mengecam umat Buddha yang dianggapnya "begitu saja mencomot"
ajaran kepada Bahiya ini, dan merasa "(1) tidak perlu lagi berdana, (2) tidak
perlu menjadi bhikkhu, (3) tidak perlu melakukan upacara seperti berlindung
kepada Sang Triratna, (4) tidak perlu menjalankan sila, dan bahkan (5) tidak
perlu bermeditasi -- bahwa yang diperlukan cukup "kecerdasan untuk memahami
ajaran kepada Bahiya" itu. Dengan kata lain, Ajahn Brahm berpendapat bahwa
kelima hal tersebut PERLU untuk mencapai pembebasan.
Ajahn Brahm menganggap ajaran S. Buddha kepada petapa Bahiya ini suatu kasus
yang "istimewa", artinya bukan dimaksudkan untuk kebanyakan siswa Sang Buddha.
Ajahn Brahm menampilkan cerita dari Kitab Apadana--yang berisi kisah
kehidupan-kehidupan yang lampau dari para Arahat--di mana dikisahkan bahwa
dalam salah satu kehidupannya yang lampau Bahiya adalah seorang bhikkhu siswa
seorang Buddha, yakni Buddha Kassapa. Dalam latihannya, menurut Ajahn Brahm,
Bahiya tentu telah mencapai Jhana, paling tidak Jhana keempat, karena dalam
kehidupannya sekarang ia memiliki beberapa kekuatan gaib, antara lain mampu
untuk terbang sejauh +/- 1300 km dalam waktu satu malam, dan mampu melihat dewa
Anagami yang memberitahunya bahwa ia belum seorang Arahat.
Dalam kehidupannya yang terakhir, Sang Buddha memberikan ajaran vipassana
singkat kepada Bahiya:
"Bahiya, berlatihlah seperti ini: di dalam apa yang terlihat, hanya ada yang
terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada yang terdengar; di dalam apa
yang tercerap oleh indra, hanya ada yang tercerap oleh indra; di dalam apa yang
dikenal [oleh pikiran], hanya ada yang dikenal. Demikian hendaknya engkau
berlatih.
“Jika bagimu di dalam apa yang terlihat hanya ada yang terlihat ... <dst>
..., maka tidak ada engkau dalam kaitan dengan itu. Jika tidak ada engkau dalam
kaitan dengan itu, tidak ada engkau di situ. Jika tidak ada engkau di situ,
engkau tidak ada di sini, tidak ada di sana dan tidak ada di antaranya. Inilah,
dan hanya inilah, akhir dari dukkha."
Setelah mendengar ajaran itu, pada saat itu juga Bahiya mencapai tingkat Arahat
(tanpa diceritakan bahwa ia mencapai tingkat-tingkat Sotapatti, Sakadagami dan
Anagami lebih dulu). Ajahn Brahm berkata: "Tampaknya mudah, bukan? Anda baru
saja mendengar ajaran yang sama. Apakah Anda mencapai Pencerahan Sempurna?
Tidak! Mengapa tidak?" -- Begitulah Ajahn Brahm mengesampingkan ajaran Sang
Buddha kepada Bahiya sebagai suatu kasus yang "istimewa", yang bukan
dimaksudkan untuk kebanyakan umat Buddha.
Kemudian Ajahn Brahm bicara panjang lebar tentang 'vipallasa' (distorsi
persepsi, pikiran & pandangan). Orang yang batinnya terliput oleh 'vipallasa',
ia tidak bisa melihat apa yang terlihat sebagai 'apa adanya', sebagaimana
diajarkan Sang Buddha kepada Bahiya di atas. Apa yang terlihat selalu
terdistorsi.
Selanjutnya, Ajahn Brahm berkhotbah tentang penyebab 'vipallasa' yakni
'kelima rintangan batin' (nivarana): nafsu keinginan, ketidaksenangan, gelisah
& penyesalan, kemalasan & kebosanan, dan keraguan). Menurut Ajahn Brahm,
'kelima rintangan batin' ini HANYA bisa diatasi dengan pencapaian Jhana.
Jadi begitulah jalan logika Ajahn Brahm memahami ajaran Sang Buddha kepada
Bahiya:
1. orang awam melihat segala sesuatu secara terdistorsi (vipallasa);
2. penyebab distorsi ini adalah kelima rintangan batin;
3. untuk melihat 'apa adanya' kelima rintangan batin itu harus ditekan;
4. kelima rintangan batin HANYA bisa ditekan sepenuhnya dalam Jhana;
5. 'apa adanya' dapat terlihat setelah orang turun dari Jhana ke dalam
'upacara-samadhi', ketika kelima rintangan batin MASIH tertekan.
***
Jalan logika Ajahn Brahm itu tidak mengherankan, karena ia salah satu guru
meditasi yang menekankan perlunya Jhana sebagai SYARAT MUTLAK untuk mencapai
pembebasan.
Pendapat itu telah ditolak oleh guru-guru meditasi lain, antara lain oleh guru
Ajahn Brahm sendiri--Ajahn Chah--Mahasi Sayadaw, Buddhadasa Mahathera, dll.
Saya tidak perlu dan tidak mau lagi menguraikan hal ini lagi panjang lebar
karena telah menjadi kontroversi yang membosankan dan memuakkan. (Perdebatan
mengenai ini bisa Anda lihat dalam arsip milis ini.)
***
Bertolak belakang dengan Ajahn Brahm, pendapat saya tentang ajaran Sang Buddha
kepada Bahiya adalah:
Melihat 'apa adanya', adalah melihat / menyadari / mengelingi segala
gerak-gerik badan & batin kita, termasuk melihat / menyadari / mengelingi
keinginan, cita-cita, daya upaya untuk mencapai "nibbana" (pembebasan), untuk
mencapai "jhana", untuk mencapai ketenangan dsb dsb.
Itu CUKUP untuk mencapai pembebasan tanpa cita-cita dan daya upaya untuk
mencapai pembebasan!
***
Nah, sekarang terserah kepada Anda dan para pembaca lain untuk menempuh jalan
Anda masing-masing, kalau pun "jalan" itu ada.
Salam,
Hudoyo
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/