Namo Buddhaya,
Sdr. Ronny yang budiman,
Terima kasih atas tanggapannya,
>
> Ronny:
>
> Bisa Juga, yesus mengatakan hal tersebut untuk membimbing umatnya
melepas
> kemelekatan meski itu keluarganya, persis seperti dilakukan sang
Buddha saat
> Dia meninggalkan keluarganya
>
TAN:
Benar sekali, Bro. Boleh juga ditafsirkan seperti itu. Jadi Alkitab
juga mengandung banyak hal baik. Inilah yang harus kita akui. Dalam
konsep Daoisme, tidak ada sesuatu yang 100% buruk dan 100% baik.
>
> Ya saya tahu ko ivan sangat sibuk sekali, tapi saya tidak
mengharap hanya ko
> ivan( meski yang saya tahu dulu disetiap diskusi, ko ivan selalu
mengatakan
> mantan Kristen ), atau ko ivan aja yang menjadi 'Sukarelawan'
untuk itu,
> saya berharap teman2 yang lain, khususnya yang pernah membaca buku2
> tersebut, hendaknya mengikuti jejak Anda untuk menjelaskan apa
yang salah di
> buku2 tersebut, sehingga tidak banyak yang tersesat,apalagi sampai
melekat
> sama kebencian pada evangelis hingga lupa untuk belajar
Buddhadhamma(saking
> enaknya baca buku untuk menghantam org Kristen) dan juga
menghindari konflik
> di Indonesia yang sangat rentan terhadap isu agama
TAN:
Baik, kapan-kapan akan saya ulas mana yang tepat dan tidak tepat.
Mengenai pluralisme. Memang sudah sepantasnya umat Buddha yang baik
menjunjung pluralisme. Intisari Sutra Hati sebenarnya adalah cinta
kasih dan harmoni. Harmoni dengan sesama, harmoni dengan lingkungan
sekitar, dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan "Gate gate
paramgate parasamgate bodhi svaha!"
>
> Adalah blunder besar mengatakan bahwa novel davinci code adalah
kenyataan
> apalagi dijadikan senjata, karena yang saya lihat, justru keimanan
merka
> terhadap ajaran mereka menjadi semakin kuat dan kuat
TAN:
Betul, karena itu kita harus hati-hati. Obat antibiotik yang
berlebihan justru akan membuat kumannya semakin resist dan kebal.
>
> apalagi penulisnya sendiri waktu diwawancarai bilang klo buku itu
fiktif
> koq, memang sih banyak yang menjadi misteri disitu, baik lukisan
the last
> supper atau yang lain, tapi secara keseluruhan davinci code tidak
menyingkap
> apa2 selain kontroversi apalagi menurut penelitian akibat
booming buku ini
> membuat jumlah umat Kristen didunia bertambah, dan kaum evangelis
semakin
> gila2an mengeluarkan berbagai buku untuk mencounter sekaligus
ajang promosi
> gratis , saya hitung ada sekitar 20 buku yang kontra dan hanya 1
yang pro
> terhadap kontroversi davinci code
>
TAN:
Nah, inilah efek sampingnya. Justru K bertambah subur. Obat
antibiotik harus kita gunakan dengan bijaksana.
> ronny:
>
>
>
> Nah ini yang menarik ko, karena memang banyak umat Buddha merasa
seperti
> itu, dan sudah menjadi kewajiban kita khan untuk membangunkan
mereka supaya
> tidak tidur terus2an karena terbuai mimpi bahwa kita yang
paling "benar" dan
> dengan congkaknya menganggap yang lain itu "salah", dan yang pasti
sebagian
> umat Buddha masih belum mau bersikap kritis terhadap apa ynag telah
> dibaca,didengar atau dilihat. Dan telah puas dengan
buku2,sutta2,sutra2 yang
> telah dibaca dan dianggap 'bener', tanpa pernah mau menkritisi
>
TAN:
Saya setuju saja. Hanya sikap kritis juga butuh kebijaksanaan. Jadi
jangan sikap kritis yang ngawur. Apa yang nampak logis atau kritis
bisa saja sebenarnya sama sekali tidak logis. Ini sudah diulas dalam
buku hasil terjemahan saya yang berjudul "Dasar-dasar Psikologi"
terbitan Arruzzwacana, karya Prof. George Boree. Sangat menarik.
Kita diajarkan untuk melepaskan diri dari jebakan2 logika palsu itu.
> Ronny:
>
> Memang sifat creative harus ditiru, tapi creative yang membangun,
bukan
> malah seperti itu khan ko, .
>
TAN:
Benar sekali!
>
> Pinginnya sih nggak berdebat sebegitu lama, saya sih paling males
klo diajak
> berdebat hingga seperti kemarin jum'at disamping capek cari duit
juga badan
> sakit semua kecuali klo urusan duit , computer,ngehack hihihihi,
tapi
> tetap saya harus menghormati dan menyayangi mereka khan hehehe
apalagi
> mereka datang dari jauh, jadi nggak mungkin saya 'mengusir'
mereka.plus juga
> saya tergelitik juga saat salah satu dari mereka mengatakan dari
Mahayana
> yang bertobat plus juga mereka lagi bersemangat banget ngajak saya
> terselamatkan
>
TAN:
Kalau sih mendingan diajak ajang cari duit saja. Misalnya kalau mau
debat dengan saya harus bayar 100 USD perjam. Nah, dengan demikian
ada hasilnya. Saya melihat banyak perdebatan tidak menghasilkan apa-
apa. Tidak merubah status quo. Jadi sesungguhnya selama berdebat
masing-masing pihak berbicara dengan dirinya sendiri. Pada akhir
debat, Anda tetap Buddhis, dan si evangelis tetap K. Tidak ada
perubahan status quo di sini. Dengan demikian, strategi harus diubah:
1)Kalau mau debat dengan saya, dia harus bayar 100 USD/ jam - tidak
bisa ditawar. Nah, sampai pagipun akan saya layani. Tinggal ngitung
aja berapa jam.
2)Selama berdebat, kita bicarakan hal-hal universal (cinta kasih,
sosialisme, ekologi, moralitas, dll). Syaratnya dia tidak boleh
sebut kata "Tuhan," "Yesus," "Alkitab," "Roh Kudus," dll, dan saya
juga tidak akan sebut kata "Buddha," "Tripitaka," dll. Dengan
demmikian diskusi akan membuahkan sesuatu, karena kita terbebas dari
bias-bias keagamaan.
Nah apakah si evangelis itu bersedia? Nanti beritahukan saya. Kalau
dia setuju bayar 100 USD/ jam, nanti Anda saya bagi 50 USD deh.
hehehehe..
>
> Ya memang tidak akan habis klo kita menanggapi mereka,sedang
urusan 'dalam
> negeri' kita sendiri amburadul, tapi setidak-tidaknya ada tindakan
untuk
> mengcounter disamping memperkuat 'dalam negeri ' kita khan, bahkan
mungkin
> selamanya kali ya kita harus mengcounter mereka sebisa mungkin,
paling
> tidak, ada kombinasi diantara itu. Tapi sekali lagi saya
mengguggah teman2
> yang lain untuk lebih aktif termasuk saya kali ya , bukan hanya
menghadapi
> evangelis akan tetapi juga masalah social politik dan budaya ,
termasuk juga
> pelurusan hal2 yang salah dan menyesatkan serta tidak lupa terus
mempelajari
> BuddhaDhamma dan mempraktekkannya,karena saya telah melihat
bagaimana
> semangat ko ivan dalam memperkenalkan Buddhisme di semua kalangan
>
TAN:
Setuju, marilah kita perkenalkan Buddhisme dengan cara elegan, bukan
dengan model pelintiran dan kebohongan seperti yang dilakukan K.
Kebenaran tidak dapat dibangun di atas dasar kebohongan.
> Ronny:
>
> Ya cuman sekedar saran aja koq,mungkin ada teman2 disini yang
membutuhkan
> klo ndak bisa ya gpp, karena memang semua kembali pada diri
sendiri tapi
> mungkin aja ada pengalaman2 tertentu yang bisa dishare
>
> Jadi mungkin klo ada teman2 yang mebutuhkan bisa langsung dateng
aja atau
> contact ko ivan, sehingga kebencian pada kaum evagelis bisa
diminimalisir,
> karena yang terlihat sekrg, umat Buddha kebablas dalam menghadapi
evangelis,
> kebencian yang teramat sangat, yang pada gilirannya akan
menggiring umat
> Buddha pada sikap anti toleransi dan anti semangat pluralitas
kedalam, malah
> apa yang terjadi sekrg umat Buddha menjadi sangat
exclusive,pengalaman saya
> sendiri, dari mulai kecil nien fo, mulai dari menguncarkan namo
amitofo
> hingga Maha Karuna Dharani, tapi kebencian tidak mudah hilang dan
semakin
> bertambah apalagi dengan pengalaman2 tidak mengenakkan dengan
orang Kristen,
> menjadikan org Kristen 'musuh' no 1 dalam hidup saya, sampai2 saya
beli buku
> dari ko ivan, dialog Buddha dan Kristen, dengan
tujuan 'menghantam' mereka,
> plus beberapa artikel dan buku dari agama mayoritas.
TAN:
Kebencian khan juga bukan ajaran Buddha. Kebencian membuat pikiran
ilmiah kita justru terkunci. Menghalalkan segala cara
untuk "memampuskan" lawan. Menurut saya kalau kita hendak menghadapi
evangelisasi harus tetap "cool." Gunakan argumen yang logis tanpa
emosi.
>
> Baru setelah saya merasakan sendiri pengalaman kebenaran ajaran
sang
> Buddha, semua sudah terlambat, karena kebencian terhadap org2
kristen,
> membuat saya selalu berkumpul, berhubungan dan dekat dengam org
kristen, dan
> tidak pernah lepas dari org Kristen, dari sinilah saya mulai sadar
untuk
> tidak membenci mereka, malah saya kasihan pada mereka
yang 'diperbudak' oleh
> iman mereka tanpa berpikir secara logis, paling tidak saya hanya
bisa
> mempromosikan Buddhisme lewat perbuatan, karena pengetahuan saya
yang
> dangkal terhadap Buddhisme sehingga hanya itu yang bisa saya
lakukan
TAN:
Tidak ada istilah dangkal dan tidak dangkal. Kalau kita punya cinta
kasih, itu sudah cukup.
>
> makanya begitu ko ivan mengatakan dengan nien fo maka saya jadi
teringat
> kebiasaan saya dulu, dan juga sebagai jalan lain bagi teman2 yang
lain agar
> jangan seperti saya, karena semakin benci kepada evangelis maka
akan
> semakin mendekatkan diri kita dengan mereka dan menjauhkan kita
dari ajaran
> sang Buddha
>
TAN:
Setuju, sebagai tambahan kebencian adalah bentuk lain kemelekatan.
Ucapan kita akan menjadi ngawur dan tidak logis. Sayang bukan?
>
> Ya benar, terakhir saya diskusi, saya tersentak dengan ungkapan
seorang
> penginjil dikantor saya, seraya tertawa dia ngomong, apa salahnya
dia
> menawarkan obat H5N1 buat saya, meski saya telah punya obat lain
>
TAN:
Menawarkan boleh saja. Siapa yang melarang, asalkan dengan bukti2
logis dan tidak memelintir khasiat obat lain. SEbagai calon konsumen
saya juga berhak mengajukan berbagai pertanyaan sehubungan dengan
obat yang ditawarkannya bukan?
>
>
>
> TAN:
>
> Ya, itu memang oknum. Tetapi apakah Anda sudah memastikan bahwa
orang
> yang bertanya itu tidak hanya sekedar ngetes? Anda tidak dapat
> menyalahkan bahwa orang yang bertanya malah mendapatkan sindiran.
> Saya kira kalau pertanyaannya tulus ya tidak akan dapat sindiran
toh?
> Saya pernah dapat pertanyaan yang sifatnya sekedar ngetes. Kalau
saya
> ya saya jawab, "Wah maaf tidak tahu."
> Jadi ya agar adil, semua sisi harus dilihat. Apakah umat Buddha
> kadang-kadang tidak "kurang ajar" terhadap para aktifis atau
> dharmadutanya? Saya pikir kalau semua saling menghormati, tidak
akan
> ada yang namanya sindir-menyindir.
>
>
>
> Ronny
>
> Waduh sorry lho, klo selama ini saya juga sering nanya masalah2
Mahayana,
> karena nanti dipikir saya ngetes lagi???hihihih Wah repot nanti
heheheh,
> karena saya memang nggak tahu seluk beluk Mahayana???misal siapa
itu kwan
> im??? Siapa itu/apa itu Buddha pengobatan??? Apa itu amitabha???
Dll Murni
> yang saya tanyakan karena saya nggak tahu,tahunya cuman diucapkan
tanpa
> ngerti apa itu?? karena saya sering mendapat pertanyaan2 itu baik
dari
> teman, istri dll, jadi saya pikir kenapa nggak nanya sama yang
saya anggap
> ngerti
TAN:
Tidak mengapa, saya tahu Anda adalah orang yang tulus. Cuma terus
terang ada banyak Mahayana tenets yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Kembali lagi kita mesti praktek baru dapat memahami
maknanya. Saya percaya sutra2 Mahayana punya kekuatan yang melampuai
logika. Sebagai contoh kita ambil Sutra Hati. Pertama2 saya tidak
mengerti maknanya. Tetapi saya berusaha melafalkannya baik dalam
bahasa Sanskrit atau Mandarin tanpa niat mengetahui maknanya.
Akhirnya, setelah beberapa lama saya mendapatkan "insight" yang
tidak saya pahami sebelumnya dan tidak dapat diungkapkan sebelumnya.
Sutra-sutra Mahayana memang boleh dijadikan bahan kajian, dikritisi,
dan lain sebagainya. Namun menurut saya, kalau orang melakukannya
seperti itu, ia malah akan semakin jauh dari makna semula. Saya kira
ini berlaku juga pada sutta-sutta Pali. Justru kalau Anda baca
dengan tulus tanpa niatan apa-apa, maka pintu Dharma justru akan
terbuka lebar. Buddhadharma sebenarnya adalah masalah ketulusan,
kejujuran, dan kesucian pikiran.
> Tapi klo menurut saya, bukankah para dhammadutta atau aktivis juga
harus
> siap mental untuk dibegituin sama umat yang 'nakal' , menurut saya
itu
> adalah konsekuensi dari seorang dhammadutta atau aktivis, meski
tindakan
> para umat yang melecehkan para dhammadutta tersebut sangat tidak
dapat
> dibenarkan, tapi apakah dibenarkan juga, seorang
dhammadutha 'membalas'
> dengan menyindir???
>
TAN:
Tentu tidak. Tapi... Dharmaduta juga manusiaa... hehehehe, kayak
lagu aja. Seorang dhammadutta berbeda dengan para evangelis yang
digaji dan dibayar mahal oleh gereja. Mereka adalah para sukarelawan
Dhamma yang datang sendiri ke vihara juga dengan biaya sendiri.
Wajar apabila saat mengalami kelelahan mereka mudah emosi. Belum
lagi mungkin ada masalah di rumah. Jadi ya sikap paling baik adalah
saling memaklumi. Umat juga jangan "nakal2" Mereka hendaknya maklum
akan hal ini. Para dhammaduta juga harus sabar. Saya kira kalau
semua bisa harmoni dan sinergis. Tidak ada masalah lagi bukan?
Alangkah damainya dunia ini. Sukhavati terwujud.
>
> Ronny
>
> Kembali lagi ko, itulah tugas Dharmadutta,
> mengabarkan/memperkenalkan/meluruskan pandangan tentang dhamma,
keseluruh
> penjuru dunia, jadi klo ada umat awam ngeyel kayak saya
misalnya , ya wajar
> khan, selama tidak terjadi benturan fisik, maka hal itu khan nggak
masalah,
> saya pikir bingung bukan berarti ngeyel atau gimana, tapi karena
memang
> nggak ngerti, jadi bukan menanyakan salah siapa, ini merupakan
kesalahan
> bersama yang wajib dibenahi demi perkembangan Buddhisme di
Indonesia, dan
> menjadi tugas dari Dhammadutta untuk mejadi duta bagi Dhamma sang
Buddha
TAN:
Benar sekali. Ini masalah pendidikan saja. Kita harus maklum bahwa
fasilitas pendidikan Dhammadutta di Indo masih sangat minim, beda
dengan saudara2 kita yang beragama lain. Jadi khan ya masalah
internal juga. Banyak dhammadutta yang belajar otodidak. Meskipun
demikian, yang kita patut salut, ajaran mereka tetap selaras satu
sama lain. Tidak seperti agama tertentu, yang meskipun fasilitas
pendidikan pemuka agamanya mentereng, tetapi masing-masing pemukanya
ajarannya berlainan. Inilah keunggulan Buddhisme: cukup jelas
sehingga variasi interpretasi sangatlah minim.
> tapi ya wajar sih masih kesel, wong yang jadi Bhikkhu aja masih
kesel koq
> sama umatnya, seperti yang sering saya temui, khan dhammaduta juga
manusia,
> aktivis juga manusia, Bhikkhu juga manusia , umat juga manusia
>
TAN:
Benar sekali. Semua juga manusia. Memang itulah manusia. Marilah
kembangkan sikap saling memaklumi.
>
> Ronny:
>
>
>
> Ya benar sekali, tapi bukankah juga harus diusahakan pertama-
tama obat
> yang baik itu rasanya 'manis' buat 'anak2 kecil', agar mudah2an
mereka mau
> minum obat itu. Sama halnya dengan Buddhisme, memang tidak cocok
dengan
> semua orang, tapi tidakkah ada tindakan dari kita sedikit membuat
supaya
> Buddhisme 'manis' bagi umat awam???? Khan buddhisme yang
dibabarkan oleh
> sang Buddha tidak hanya untuk kaum Bhikkhu atau kaum terpelajar
saja, tapi
> menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, dari yang bodohnya minta
ampun
> ,sampai pinternya minta ampun
TAN:
Tidak masalah. Saya setuju. Semua itu hanya metode. Mau pake
metode "gula-gula manis" atau "obat jamu brotowali yang pahit" tidak
masalah. Mari kita berkarya sesuai dengan kapasitas dan minat masing-
masing. Mari kita saling mendukung kendati kegiatan kita berlainan.
Meski berlainan tetapi satu tujuan.
>
> Ya klo semua ngelihat dalemnya gitu, ya kelihatan boroknya, tapi
yang saya
> maksud ambil segi positifnya seperti ko ivan bilang kita bisa
meniru
> kreatifitas mereka
>
TAN:
Tentu...tentu... kreatifitas yang postif.
Salam dalam Dharma,
Tan
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/