Impor Beras (Lagi?)
Ali Khomsan
Pemerintah kembali akan mengimpor beras untuk memperkuat stok yang terkuras.
Hingga kini pro-kontra impor beras masih bergulir. Pemerintah dinilai tidak mempunyai argumen kuat mengapa harus impor beras. Sebagian petinggi pun mengajukan alasan beragam.
Pada dasarnya impor beras akan mencederai nasib petani. Namun, bila pemerintah tidak mengimpor beras, mungkin akan lebih banyak rakyat Indonesia dicederai dengan mahalnya harga beras. Rakyat ingin harga beras terjangkau (murah), tetapi ini tak sejalan dengan keinginan petani yang nasibnya terus terpuruk. Petani ingin harga lebih tinggi.
Ekonomi perberasan memang bagai buah simalakama. Harga beras naik petani senang, tetapi rakyat susah. Harga beras turun rakyat bahagia, tetapi petani sengsara. Maka, pemerintah perlu bersikap arif sebelum menetapkan kebijakan perberasan ini.
Pengamat pertanian HS Dillon mengingatkan prestasi Indonesia yang pernah berswasembada beras tahun 1984. Ini menunjukkan kemampuan petani Indonesia dalam mencukupi kebutuhan pangan pokok rakyat. Namun, karena pejabat kian tidak peduli dengan petani, mereka lebih suka impor beras untuk mengatasi kebutuhan pangan.
Pemakan nasi
Perlu diingat, 220 juta penduduk Indonesia hampir semuanya pemakan nasi. Jika kita bergantung pada impor beras, maka bila terjadi fluktuasi di pasar beras internasional bisa memunculkan masalah serius.
Kita sadar, hingga kini peran beras belum tergantikan oleh sumber karbohidrat lain. Meski sudah ada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1974 yang disempurnakan menjadi Inpres No 20/1979 soal Penganekaragaman Menu Makanan Rakyat, kenyataannya konsumsi beras Indonesia masih pada angka 130 kg per kapita setiap tahun. Bandingkan dengan Jepang, sebagai sesama pemakan nasi, konsumsi berasnya 60 kg per kapita tiap tahun.
Pengadaan beras harus selalu terkait aspek ketahanan pangan. Maka, yang perlu dicermati tidak hanya soal produksi, tetapi juga harga gabah, kredit, kebijakan impor, penyelundupan, dan lainnya. Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Deptan bertugas mengamankan ketahanan pangan.
Ketahanan pangan
Konsep ketahanan pangan mengacu pengertian adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup guna mempertahankan kehidupan yang aktif dan sehat. Istilah hunger paradox sering digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena telah mantapnya ketahanan pangan nasional dicerminkan oleh ketersediaan kalori dan protein di atas angka kebutuhan gizi, tetapi kelaparan atau kekurangan gizi masih terjadi di mana-mana.
Masalah perberasan nasional tak lepas dari dampak kekeringan di sebagian Indonesia. Hingga Agustus 2006, sebanyak 177.351 hektar lahan terkena kekeringan dan lahan puso 37.888 hektar. Untuk mengantisipasi akibat kekeringan, Deptan meningkatkan produktivitas lahan 500.000 hektar di 130 kabupaten sentraproduksi. Peningkatan produktivitas dilakukan dengan sistem penanaman terpadu yang dikawal penyuluh, peneliti, pengamat hama, dan pengawas benih. Varietasnya pun yang hasilnya tinggi.
Untuk mengantisipasi krisis beras, daerah-daerah wajib mendukung ketersediaan beras nasional. Pemerintah pusat harus mempunyai grand design tentang pembangunan pertanian guna penyediaan pangan nasional. Kepada setiap daerah perlu ditekankan pentingnya menciptakan ketahanan pangan.
Ketahanan pangan merupakan konsep multidimensi, meliputi mata rantai sistem pangan dan gizi mulai dari produksi, distribusi, konsumsi, dan status gizi. Secara ringkas, ketahanan pangan hanya menyangkut tiga hal penting: ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan.
Kita harus menyadari, nasib petani padi yang kian terpuruk akan meningkatkan jumlah orang miskin. Kemiskinan yang dialami petani Indonesia dapat menjadi kemiskinan alamiah atau kemiskinan struktural. Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang disebabkan kualitas sumber daya alam dan sumber daya manusia yang rendah sehingga peluang produksi menjadi kecil.
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang secara langsung atau tidak disebabkan oleh kurang tepatnya tatanan kelembagaan. Dalam hal ini, tatanan kelembagaan dapat diartikan sebagai tatanan organisasi dan aturan atau kebijakan pertanian yang tidak memihak petani.
Ali Khomsan
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB


J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
 

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Study & Research
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

Phone.: Tel: +91 189 2222 467
Fax.: +91 189 2223 723

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke