Arsitektur Rumah Majapahit
Kearifan Peradaban Masa Silam
Kearifan Peradaban Masa Silam
Osrifoel Oesman
Selama ini para ahli yang menekuni arsitektur bangunan kuno di Indonesia cenderung memusatkan perhatiannya pada bangunan suci yang kita kenal sebagai candi. Akan tetapi, itu tidak diimbangi oleh
penelitian terhadap bangunan bukan candi atau bangunan profan, seperti bangunan hunian atau rumah tinggal.
Sebab utamanya karena bangunan suci pada umumnya terbuat dari bahan yang tahan lama, seperti batu andesit, sehingga masih dapat dilihat wujudnya dengan jelas hingga kini. Adapun bangunan rumah tinggal umumnya terbuat dari bahan yang mudah hancur.
Di Jawa misalnya, sejumlah besar tinggalan candi Masa Klasik atau masa Hindu-Budha dari abad V-XVI masih tersebar di berbagai tempat. Sebaliknya, tak ada satu pun rumah tinggal yang dapat kita saksikan.
Bukti-bukti arkeologis pun belum mampu memberi keterangan yang dapat menjelaskan secara akurat bagaimana sesungguhnya ukuran denah dan bentuk arsitektur bangunan rumah tinggal pada masa tersebut. Informasi selama ini yang
diperoleh hanyalah gambaran yang bersifat umum dari data sumber tertulis, gambar rumah-rumah pada relief candi, miniatur rumah dari batu andesit dan terakota, serta hasil penelitian para ahli yang mencoba melalui pendekatan kesejarahan (historical approach) yang melakukan studi etnografi di Jawa dan Bali.
Catatan di atas pada sisi lain menunjukkan ada usaha penyadaran pentingnya pengkajian atas bangunan hunian sebagai satuan terkecil dari suatu sistem permukiman. Dari situ dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan memahami perilaku dan gagasan manusia pada masa lalu.
Situs Trowulan
Ada sebuah situs arkeologi yang masih menampakkan dengan jelas adanya sisa-sisa bangunan rumah tinggal dalam suatu wilayah yang jauh lebih luas yang berskala kota, yaitu
situs Trowulan, di daerah Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini amat penting dan langka, bahkan satu-satunya situs permukiman yang sering dikaitkan dengan ibu kota Majapahit.
Sebagai situs permukiman yang luas, meliputi 100 kilometer persegi, dengan konsentrasi temuan padat pada area lebih kurang 5 x 4 km, Trowulan banyak menyisakan tinggalan arkeologis berupa candi, gapura, bangunan air, waduk, jaringan kanal-kanal, temuan unsur bangunan, ribuan peralatan rumah tangga dari tanah liat dan keramik, serta banyak lagi yang lainnya. Di antara temuan- temuan tersebut terdapat puluhan situs sisa-sisa bangunan rumah tinggal. Dengan berbagai tinggalan serupa itu, pantaslah bila sebagian para ahli menyatakan bahwa situs Trowulan merupakan situs-kota.
Menelusuri jejak arsitektur rumah tinggal di situs Trowulan ternyata bukanlah suatu pekerjaan mudah.
Perjalanan panjang penelitian dan ekskavasi yang dilakukan berbagai instansi terkait selama hampir 20 puluh tahun sejak tahun 1976 di situs Trowulan, akhirnya membuahkan hasil. Belasan temuan sisa bangunan berhasil ditampakkan, dan beberapa bentang lantai bangunan juga diperoleh, disamping ribuan artefak dan fragmen yang berkaitan dengan bangunan.
Penemuan denah bangunan hasil ekskavasi. Pada ekskavasi dan rekonstruksi terhadap temuan sisa bangunan di situs Segaran II, yang terletak di selatan Museum Trowulan, desa Trowulan, tim peneliti berhasil memperoleh sebuah denah bangunan beratap di sektor pusat dan sebuah denah batur tidak beratap di sektor barat. Denah bangunan beratap di sektor pusat berpenampang persegi panjang berukuran 5,20 x 2,15 meter, dengan lantai dari bata yang terletak di atas sebuah batur, berada 51 cm lebih tinggi dari halaman. Sedangkan denah batur lainnya yang tidak beratap di
bagian baratnya berpenampang persegi panjang berukuran 2,20 x 1,60 meter, berada 45 cm lebih tinggi dari halaman.
Halaman situs Segaran II yang berhasil ditampakkan dari ekskavasi selama tahun 1996 - 7 sebagian besar merupakan halaman perkerasan seluas 216 m2, terletak sekitar 102 - 93 cm di bawah permukaan tanah sekarang, atau berada pada ketinggian 38,98 - 39,07 meter di atas permukaan laut. Data ketinggian daerah Segaran Trowulan adalah 40,00 meter di atas permukaan laut, yang dielevasi sebagai titik ukur 0,00 meter. Di halaman sektor pusat terletak batur bangunan beratap. Di sebelah utara atau di muka bangunan sektor pusat, disebut juga halaman sektor utara, merupakan halaman perkerasan yang disusun dengan pola tertentu dari batu-batu krakal bulat dan dibingkai dengan bata-bata. Di sebelah barat atau halaman sektor barat terdapat batur bangunan tidak beratap. Di sebelah timur disebut halaman sektor
timur terdiri atas beberapa struktur bata yang belum berhasil diiidentifikasi. Halaman perkerasannya juga disusun dari batu-batu krakal bulat dan bata-bata, dilengkapi sebuah jambangan air dari terakota yang besar dan masih intact dengan struktur batanya; disertai sejumlah kendi air dari terakota yang ada hiasannya. Temuan di halaman sektor timur ini penulis simpulkan sebagai taman air. Di sebelah selatan bangunan sektor pusat atau halaman sektor selatan terdapat susunan struktur bata yang panjang, penulis menyebutnya sebagai tembok selatan, yang merupakan tembok keliling dari suatu kompleks permukiman.
Kearifan lokal
Kesan sederhana, alami, harmoni dan selaras dengan alam dan lingkungannya merupakan kekuatan arsitektur lokal. Sumber daya material bangunan dan peralatan kehidupan manusia pada masa lalu. memakai
bahan-bahan yang mudah diperoleh pada daerahnya. Kemampuan untuk memanfaatkan keunggulan tanah di Trowulan, membuat situs ini disebut situs terakota. Sebagian besar semua tinggalan bangunan suci maupun profan terbuat dari terakota. Kearifan ini hendaknya dapat menjadi acuan bagi kita untuk mengembangkan keragaman yang khas dalam hal penggunaan material dalam berarsitektur pada masing-masing daerah.
Keadaan alam lingkungan pada dataran yang yang cukup rendah dan landai diarifi dengan membuat sistem jaringan drainase. Jaringan berupa kanal-kanal besar dengan skala makro untuk kota, hingga parit-parit kecil yang mengelilingi rumah-rumah tinggal penduduk sebagai bagian dari skala mikro kota. Diantara rumah-rumah tersebut dilengkapi pula oleh taman-taman air yang terbuat dari perkerasan dari bata-bata dan batu-batu kerikil dengan berbagai pola.
Kearifan dalam menyikapi keadaan geografi dan topografi, udara yang lembab, kekeringan pada musim panas, serta curah hujan yang tinggi pada musim hujan, berpengaruh pada ketinggian lantai bangunan. Lantai yang di tinggikan dari permukaan tanah asli, disebut batur. Di sekeliling tepi batur, tersusun secara vertikal bata-bata yang masing-masing diantaranya hanya dilekatkan dengan campuran tanah yang diliatkan, setebal rata-rata1cm. Batur diisi dengan tanah yang dipadatkan, kemudian di atasnya disusun lantai dari bata. Ini merupakan bentuk penyelesaian fungsi pondasi dan lantai bangunan secara sederhana. Demikian pula dengan bagian bangunan lainnya seperti dinding yang terbuat dari gedeg, pintu, tiang dan konstruksi atap dari kayu, serta penutup atap dari terakota atau bahan lain dari tetumbuhan dan pepohonan.
Menuju kepunahan. Disamping usaha pelestarian di situs Trowulan yang terus
menerus dilakukan oleh pihak-pihak terkait, terdapat pula usaha perusakan terhadap tinggalan sisa-sisa bangunan yang masih berada di dalam tanah. Masalahnya adalah usaha pelestarian dipastikan kalah cepat dengan usaha penduduk mencari nafkah dengan membuat bata-bata baru dari tanah yang di dalamnya terkandung sisa-sisa tinggalan permukiman. Cepat atau lambat tinggalan masa Majapahit di situs Trowulan akan tergerus terus, bisa-bisa sampai tak akan tersisa lagi.
Osrifoel Oesman
Arsitek dan Arkeolog, Peneliti Bangunan Masa Majapahit
Arsitek dan Arkeolog, Peneliti Bangunan Masa Majapahit
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
