Fw: Hebatnya Bangsa Indonesia

Posted by: "husin" [EMAIL PROTECTED]

Mon Oct 9, 2006 9:02 pm (PST)



Berikut ada tulisan menarik mengenai kekuatan fisik manusia Indonesia.
Saya jadi teringat beberapa tahun lalu ketika ada teman singaporean yg
datang.
Saya ajak makan malam bersama teman2 indo yg lain di rumah makan padang
dekat kampus.
Sepulang dari situ, si singaporean sakit perut, muntah2.
Dan terpaksa malam itu juga mesti opname di salah satu rumah sakit di
kawasan permata hijau.
Saya tidak tahu apa bedanya restoran padang di Indo dg di Singapore.
Well, berbanggalah sebagai orang indonesia hehehe...

=======================

Anda orang Indonesia ?
Masih tinggal di Indonesia ?
Di Jakarta?
Ke kantor naik bis umpel-umpelan?
Lalu lintas macet?
Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or
surabaya ?
Pernah kebajiran?
Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?

Ok, sekarang saya serius.

Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa
dibanggakan for being
Indonesian? Maka jawaban saya adalah : Kita.

Kita harus bangga karena kita orang Indonesia Bisa
dan Biasa hidup
susah!!! Becanda lagi nih?

Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong.
Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan
yang berat pada saya
(red
: katanya harta yang berlimpah merupakan cobaan
yang berat)Kemampuan
untuk hidup susah (saya sebut aja "survival
ability" ya) tidak dimiliki
orang-orang yang lama hidup di negara-negara
mapan.

Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu
ketika teman-nya-sebut
saja
Sarukh dan keluarganya -pamit pada boss saya
pulang ke negara asalnya ?
India yang murah meriah untuk menikmati pensiun
dini, setelah 15 tahun
kerja di Singapore .

Eeeeeee? ... belum satu tahun pamitan pulang ke
India ? si Sarukh sudah
balik lagi ke Singapore , dan kali ini minta
bantuan Boss saya untuk
dicariin kerjaan lagi di Singapore.

What happened? Tanya boss saya.

Sarukh bercerita, setelah pulang ke India , anak
remajanya yang
dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress
dan menjadi pasien
tetap psikiater di sana. Selidik-punya selidik
agaknya hal itu
disebabkan karena Anaknya Sarukh tidak bisa
menyesuaikan diri terhadap
perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat
mapan ( Singapore) ke
kondisi yang sebaliknya (India ).

Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah
biasa hidup dalam
kemapanan tidak punya "kemampuan bertahan waras"
untuk hidup di negara
yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya
si Sarukh memutuskan
menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di
Singapore .

Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di
Jakarta , pindah or
berkunjung ke India sih nggak ada masalah.

Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan
rekan-2 kerja saya
berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk :
bawa obat sakit
perut, dan selama di India hanya minum-minuman
dari botol/kaleng.

Kalau ke restoran local jangan sekali-kali minum
air putih yang
disediakan dari dari Teko/ceret di restoran
tersbut, karena Kebersihan
Airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang
asing tidak siap untuk
itu; begitu nasehat boss saya.

Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke
India terdiri dari 5
orang. Satu orang Jepang ? dari Jepang, dua orang
Singapore dan dua
orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja
di Singapore ). Dalam
2 minggu kunjungan ke India , kolega dari
Singapore dan Jepang langsung
menderita diare di Minggu pertama ke India , ?
diselidiki, kemungkinan
penyebabnyat adalah mereka pernah memesan kopi
atau the di restoran
local pada saat makan siang (yang tentunya tidak
dari botol), Sementara
si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya
minum-minuman botol
atau kaleng selama makan di restoran-restoran
lokal, terkena diare
diduga karena si orang jepang ini menggunakan air
keran dari hotel
untuk
berkumur-kumur selama sikat gigi.

Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari
Indonesia , sehat
walafiat
tidak menderita suatu apapun selama di sana
(mungkin karena di
Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan
yang mungkin airnya
tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran
India)

What is the moral of the story?

Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari
orang Jepang dan
Singapore!!!! (at least, dalam hal ketahanan
perut).


Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim
kantor (yang base-nya di
Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio
de Janeiro Brazil

Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel
saya di Rio de Janeiro
Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di
Eropa). Sebenarnya,
dari
Singapore ke Brazil , jalur yang paling umum dan
cepat adalah ke arah
Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil .

Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 Jam
saya sudah bisa
mencapai Brazil.

Cuma, karena saya orang Indonesia , untuk transit
di Amerika pun saya
butuh apply VISA Amerika, yang mana proses
aplikasi visa tersebut
memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu. Padahal,
saya tidak punya waktu
sebanyak itu. Alhasil, yah begitulah, saya harus
memilih rute yang
sebelaliknya, mengeliling belahan bumi bagian
barat, transit di
Amsterdam , dengan waktu tempuhnya 6- 10 jam lebih
lama. Jadinya, cukup
melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang
Indonesia, harus
terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.

Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11
Malam.
Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti
workshop di sana. Walaupun
masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk
terlibat aktif dalam
workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan
atau memberi masukan
atas pertanyaan peserta lainnya.

Pada saat istirahat, saya sempat
berbincang-bincang dengan
kolega-kolega
dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari
mereka mengeluh
kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka
telah menempuh 12 jam
perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di
Brazil hari minggu siang,
sehingga belum cukup waktu istirahat untuk
adaptasi Jet lag, begitu
keluh mereka.

Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya
mereka lebih beruntung
dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam
perjalanan dari Singapore,
dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang
dsri 12 jam sebelum
workshop dimulai. Mereka tertegun, salah seorang
dari mereka bertanya
pada
saya: "Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis
khan?"

"Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya
lagi.

Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau
kasihan?), dan salah
seorang dari mereka memuji. "Its very impressive,
you guys Singaporean
are really-really hard workers" "I'm not
Singaporean, I'm Indonesian
working in Singapore " jawab saya dengan bangga.

Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di
kalangan kolega dari
Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari
Singapore 12 jam
sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti
workshop tersebut.
Saya
tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka ,
karena sewaktu makan
malam,
kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak
pernah ceritakan
mengenai perjalanan saya dari Singapore bertanya
pada saya tips and
trick
supaya bisa tetap segar setelah menempuh
perjalanan begitu lama (ini
berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega
jerman lainnya).

Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab
:

"Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi
dari Jakarta ke
Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran.
Kalau Anda terbiasa
dengan
alat transportasi ini- di mana tidak hanya species
"Homo Sapiens" yang
bisa menjadi penumpangnya , dan di tambah lagi
waktu tempuhnya yang
lama
sekali karena hampir di setiap setasion harus
berhenti, maka Anda akan
bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang
apapun yang di muka
bumi ini".

Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas,
karena saya khawatir dia
tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan,
dan saya yakin mereka
tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini,
yang fasilitasnya
tentu jauh dari kelas Bisnis pesawat terbang (Note
: kolega saya dari
jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis
di pesawat apabila
waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).

Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di
Brazil, entah karena
terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah"
(dari sudut pandang
mereka) yang saya miliki, atau karena alasan
lainnya, kolega saya dari
Jerman yang saya temui di Brazil , menghubungi
atasan saya yang intinya
meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu
project yang saat ini
sedang berjalan di sana.

Alhasil, bulan September ? November saya akan
bergabung dengan
kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di
sana. Cukup
membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali
pertama "Kantor Pusat"
meminta bantuan dari kantor cabang untuk
mensupport project yang sedang
mereka kerjakan di kantor pusat.

Jadi setelah membaca tulisan ini, saya harap
pembaca sekalian punya
alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia .

Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda
dari mana?"

Jawablah dengan bangga:

Ya, Saya dari Indonesia ,
Negara yang lagi susah,
Saya juga hidupnya susah
Tapi saya bisa "survive", Dan saya bangga
karenanya!!!
Any Problem???






Thnk's & Rgrds,
 
Tristina
MG Sport & Music
__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke