LOJONG : Melatih Pikiran
H.H. Dalai Lama
Diterjemahkan oleh : Hendy Hanusin
Bait kedelapan
Semoga mereka tidak dinodai oleh konsep-konsep
delapan keterikatan duniawi,
dan sadar bahwa semua hal adalah ilusi,
semoga mereka, tidak melekat, bebas dari belenggu samsara.
Dua baris pertama dari bait ini menekankan perlunya menyakinkan bahwa praktek
spiritual dan latihan pikiran seseorang tidak dikotori oleh delapan keterikatan
duniawi. Ini penting bahkan untuk guru. Contohnya, saya duduk di sini di atas
takhta dan memberi anda ceramah ini. Bila di suatu tempat dalam bentuk-bentuk
pikiran saya ada suatu perasaan keingintahuan - "Apakah saya telah melakukannya
dengan baik? Apa yang dipikirkan orang-orang tentang ceramah saya ? Apakah
mereka bahagia dengannya? Akankah mereka memuji saya?" - ini akan mengotori
latihan spiritual. Keterikatan-keterikatan duniawi ini tidak seharusnya
menghalangi dan mengotori sebuah latihan spiritual sejati.
Dua baris terakhir dari bait iin menekankan perlunya menempatkan
praktek dan latihan pikiran seseorang dalam sebuah pemahaman menyeluruh akan
realita mutlak atau kekosongan. Mereka menyatakan bahwa seseorang seharusnya
mengembangkan kewaspadaan bahwa semua hal adalah ilusi dan tanpa melekat, bahwa
seseorang seharusnya membebaskan diri dari belenggu. Tapi sebelum dapat memupuk
pemahaman akan segala sesuatu dalam pengertian hakikat ilusi, seseorang
pertama-tama perlu menyangkal realita konkret akan segala sesuatu, termasuk
"diri" seseorang sendiri. Tidak ada kemungkinan untuk mengembangkan persepsi
dari hakikat ilusi segala sesuatu kecuali kita menyangkal realita konkret dari
keberadaan atau eksistensi.
Bagaimana kita mengembangkan pemahaman akan tidak adanya inti
substansi atau kekosongan dari benda-benda ini? Tidak cukup hanya membayangkan
bahwa setiap hal adalah kosong dan sama sekali tiada eksistensi substansi.
Tidak cukup hanya terus mengulangi bait ini dalam pikiran seseorang, hampir
mirip sebuah formula. Apa yang dibutuhkan adalah mengembangkan wawasan
pengertian murni pada kekosongan melalui proses rasional analisa dan refleksi.
Salah sebuah cara paling efektif dan menyakinkan untuk memahami
bagaimana setiap hal kosong dan tidak mempunyai realita konkret adalah dengan
memahami hakikat realita yang saling bergantungan, yang adalah sebab musabab
yang saling bergantungan pada setiap hal. Apa yang unik tentang pemahaman sebab
musabab yang saling bergantungan adalah ini memberi kita kemungkinan untuk
menemukan jalan tengah antara tidak ada apa-apa di satu sisi dan keberadaan
substansi atau berdiri sendiri di sisi lain. Benda-benda saling bergantung dan
saling tergantung sebab-musababnya. Pemahaman ini saja menyarankan bahwa
benda-benda tidak mempunyai hakikat berdiri sendiri atau keberadaan yang
berdiri sendiri. Ide bahwa benda-benda muncul dalam hubungannya dengan yang
lain melalui sejenis matrix kompleks dari kenyataan-kenyataan sebab-musabab
yang saling bergantungan juga melindungi seseorang dari bahaya jatuh ke dalam
pandangan sebaliknya yaitu nihilisme-berpikir bahwa tidak ada apa-apa yang
eksis. Jadi dengan menemukan bahwa jalan tengah sejati itu, seseorang dapat
tiba pada sebuah pemahaman dan wawasan murni pada kekosongan.
Satu kali anda menemukan jenis wawasan pada kekosongan ini dalam
meditasi anda, ketika anda berinteraksi dengan dunia dan obyek-obyek sekeliling
anda, ada sejenis kualitas baru. Ada sebuah kualitas baru pada keterlibatan
anda dengan dunia karena kewaspadaan anda akan hakikat ilusi dari realita. Bait
ini menyarankan bahwa praktisi-praktisi latihan pikiran seharusnya melakukan
latihan mereka dengan sebuah kewaspadaan akan hakikat ilusi dari realita.