Dear all,
Sekuntum teratai yg harum dan baru aja mekar buat Anda semua, para
Bodhisattva..

Postingan yg indah sekali. Sharing seperti inilah yg seharusnya
diperbanyak lagi..Sharing mengenai pengalaman nyata kita.

Setelah membaca posting dari sis Diana, saya jadi terdorong untuk
turut membagikan pengalaman saya sewaktu menjadi fasilitator untuk
anak2 SMU Dharma Suci (DHS) pada tgl 30 nov - 3 des ini, di Jhana
Manggala; Gunung Geulis.

Ini adalah kedua kalinya kami menyelenggarakan retret pelajar untuk DHS. 
Tapi sebelum saya berbagi pengalaman pada Retret kedua, saya akan 
membagikan sedikit pengalaman pada waktu retret pelajar pertama,pada
tgl 14-17 Oktober, dengan peserta adalah siswa/i kelas 1&2, serta ada
2 orang anak dari kelas 3.
Wah, pengalaman pertama ini akan menjadi kenangan yg tak terlupakan
bagi kami. Sungguh..Kaget..Shock..Karena anak-anaknya luar
biasa...nakal..tidak bisa diam..Dan semua jadwal yg sudah kami susun
mesti dirombak semuanya..Yah smuanya..Dimulai dari hari pertama,
dengan insting dan feeling so good, kami mencoba 'meraba' anak2
ini.Mencoba menemukan formula yg tepat bagi mereka, supaya info yg
ingin kami sampaikan bisa tertransformasikan. Dengan bimbingan dari Ko
Jimmy yg sudah entah berapa puluh kali sebagai fasilitator retret,
kami pun akhirnya bisa menemukan cara untuk berdialog dengan mereka.
Kami semua berusaha (ko Jimmy, saya, Yohanes/Udin,dan Steven Tjoeng)
dengan semua kemampuan yg kami punya, pada saat itu hanya satu yg kami
andalkan yaitu ketulusan kami. Tidak ada niat untuk mengajari atau
bertingkah layaknya guru..Hanya ada niat untuk berbagi..Untuk
belajar..Untuk berlatih bersama..Memang pada awalnya rada susah, semua
pada ngomong sendiri (ketika diminta untuk hening), dan semua jadi
pada diam (ketika diminta untuk berbicara).

Pertemuan pertama ini seketika mengingatkan saya pada pengalaman buruk
saya sewaktu saya masih sekolah dulu, yaitu bentakan dan omelan dari
guru. Pada saat makan siang, kami makan bersama dengan anak2 dan
gurunya juga. Dahsyat sekali...teriakan dari gurunya.Saya benar2
tersentak..dan bengong beberapa detik...(benar2 bengong) dengan mulut
sedikit terbuka.Karena ajaib sekali saya seolah ada dalam kapsul waktu
yg membawa saya balik ke jaman dulu lagi. Saya ingat, dulu saya benci
sekali ama guru yg sering berteriak.Dan dulu saya termasuk sebagai
murid yg rada (punya semangat) untuk membangkang.Tapi gaya membangkang
pun halus sekali dan tersamar. 
Jadi ketika dengar gurunya teriak, seketika aku bisa melihat ada riak
kecil dalam batin, ada rasa benci.Dan gusar. 

Tidak hanya waktu makan, waktu acara sedang berlangsung dalam ruangan
pun, tetap saja diiringi dengan teriakan dan bentakan setia dari
gurunya..Setia mengikuti setiap gerakan anak2. Kami merasa prihatin
dengan kondisi psikis anak2.Terilhat sekali bahwa mereka berada
dibawah cengkeraman kuat para guru. Bisa dimengerti maksud dari para
guru. Namun sebagaimana para guru percaya bahwa hanya dengan cara
begini lah mereka bisa menurut, kami juga percaya bahwa bentakan &
teriakan bukanlah cara yg bagus untuk mendidik. Bahwa hukuman hanya
menghancurkan harapan. Kami percaya masih ada cara lain yg lembut yg
sarat dengan perhatian&pengertian, cara yg trampil,yang bisa membuat
kami 'connect' dengan mereka.

Kami juga menyadari bahwa walaupun mereka masih anak2, tapi banyak hal
dari mereka yg bisa kami pelajari.
Jadi singkat cerita, hari demi hari kami lewati dengan tabah..Hehehe....
Hari pertama masih belum 'connect'.Hari kedua sudah lumayan. Ketika
suasana sudah jadi kayak pesta, kami bunyikan lonceng perhatian murni,
memang masih membutuhkan beberapa menit untuk diam semuanya.Hari
ketiga mereka sudah berubah.Ketika lonceng berbunyi, mereka langsung
kembali ke napas masing2. Dan hari ke empat, hari terakhir, mereka
sudah berubah banyak sekali. Pada hari ini gurunya tidak perlu tarik
urat lagi...Tidak perlu marah lagi..
Pada hari terakhir ini, malah mereka tidak mau pulang.Dan terasa
mereka menyayangi kami, sebagaimana kami menyayangi mereka. Getarannya
terasa loh..
Dan info terakhir yg kami terima dari gurunya (waktu kami bertemu pas
retret kedua ini), anak2 tsb sudah banyak berubah. Yg mengejutkan
adalah terutama mereka yg masuk golongan 'naughty boy' mengalami
perubahan yg sangat besar sekali. Mereka yg badung malah menjadi
sangat 'berperasaan', pokoknya menjadi anak baik deh.
Dan sebagian lagi dari golongan naughty boy ini malah mengambil kelas
meditasi!!! Hah? Saya sempat bengong..sedetik...dua detik...
Yah, beberapa sih ada yg mengaku pada gurunya, ketika perenungan
tentang orangtua, mereka sengaja untuk membentengi diri supaya tidak
menangis, tapi didalam hati sudah menangis tuh...Hmm....ternyata...

Hal ini semakin menguatkan keyakinan kami bahwa marah dan makian bukan
cara yg baik, mungkin cara ini akan berguna untuk saat tertentu..Tapi
makian, bentakan, hukuman, hanya akan menghancurkan asa&jiwa, akan
menciptakan bentukan batin seperti yg aku alami.Dan seperti juga yg
kalian pernah alami.

Mungkin ada beberapa point yg bisa dipelajari:
1. Terlalu banyak aturan bisa membuat manusia menjadi tidak dewasa.
2. Perlakukanlah mereka sebagai orang yg bisa mandiri, bertanggung
jawab (walau masih muda/remaja)
3. Mungkin fisik mereka saja yg masih tampak sebagai anak muda, tapi
batin mereka adalah sama dengan kita.
4. Mereka (yg tergolong nakal sekalipun) akan diam dan mengikuti acara
 retret ini, hanya dengan keheningan&senyuman.

Dan pada akhirnya tetap saja, mau anak kecil, mau orang dewasa, mau
orang tua...Semua menginginkan agar dimengerti, mau didengarkan, mau
disayang, mau diperlakukan dengan lembut dan hormat.
Seringkali kita melihat mereka yg lebih muda dengan persepsi:"ah, kamu
masih hijau, belum ada pengalaman, omongan kamu tuh ga penting.."

Dan saya bisa melihat diri saya pada diri mereka.
Disaat inilah timbul perasaan sayang..
Ketika kondisi menjadi sulit (mereka jadi ngobrol), hanya kalimat ini
yg terlontar:"kalian sungguh beruntung, bisa mendapatkan masukan
seperti ini disaat usia yg masih begini muda.Tidak seperti kami.Dan
mungkin sekali ini adalah kali terakhir kita bertemu, mari gunakan
waktu ini sebaik-baiknya."
Mereka cukup tersentuh mendengar kalimat ini.

Beginilah pengalaman pertama kami berhadapan dengan anak sekolah.
Tanpa ada pengetahuan sama sekali sebelumnya.Grogi si...
Dan salut pada ko Jimmy (Lau Ta)..Hehhe...Masih banyak kualitas yg
perlu saya pelajari dari Lau Ta.Lau Ta begitu humble, lembut sekali
tapi juga terampil, dan bijak..Satu hal yg saya kagumi:ketulusan..yah
inilah point terpenting dari setiap kasus...Terimakasih Lau ta..Hehehe...
Tapi sekali lagi, ketulusan bisa menyelesaikan itu semua.
Dan tindakan yg datang dari hati jarang ada yg tidak tepat...

Sekian dari saya tentang retret pelajar pertama ini.
Hehehe.....

metta
Julie




Kirim email ke