Jumat, 15 Desember 2006                                                      
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                    
 
15.101 Siswa "Nge-drug" 
Tiap Hari 40 Orang Meninggal karena Narkoba
  
Jakarta, Kompas - Peredaran narkotika, zat adiktif, dan obat-obat terlarang 
atau narkoba semakin mengkhawatirkan. Butuh keterbukaan keluarga dan masyarakat 
untuk mengatasinya. Yang menduduki urutan pertama pengguna narkoba justru 
pelajar, bukan artis. Jumlahnya mencengangkan dan bertambah setiap tahun. 
Sekretaris Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Pranowo Dahlan dalam 
acara temu pakar dan penyuluhan narkoba untuk artis komedi di Jakarta, Kamis 
(14/12), mengungkapkan, di seluruh Indonesia, hingga Oktober 2006, kasus 
narkoba mencapai 8.406 kasus. "Berarti, sampai akhir 2006 nanti jumlahnya masih 
bisa bertambah," katanya. 
Hal yang mengejutkan, kasus pelajar yang menggunakan narkoba atau dikenal 
sebagai ngedrug justru mendominasi, mencapai 15.101 orang. "Dari kalangan SLTP 
mencapai 4.012 orang dan SLTA 11.089 orang," katanya. 
Dari sisi pekerjaan, pegawai swasta yang terlibat dalam narkoba mencapai 6.833 
orang, buruh 3.046 orang, dan penganggur 3.885 orang. Pengguna narkoba tak 
kenal batas wilayah, jenis kelamin, status sosial, usia, pangkat, dan jabatan. 
Dengan data ini, sudah seharusnya orangtua yang memiliki anak remaja khawatir 
anaknya terjerumus ke narkoba. Sekali terjerumus, sulit ditemukan jalan untuk 
kembali. 
Kematian per hari  
Pranowo mengungkapkan, kasus kematian akibat dampak narkoba sungguh 
memprihatinkan. Dari statistik BNN, tiap hari 40 orang meninggal akibat dampak 
penggunaan narkoba. 
Dengan demikian, Selasa lalu sebenarnya selain kematian artis Alda Risma yang 
diduga akibat overdosis, juga masih ada 39 kasus kematian lain karena narkoba. 
Mereka mati sia-sia karena menjadi korban peredaran narkoba. 
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Provinsi DKI 
Jakarta Sudirman Aris mengatakan, berdasarkan riset di negara maju, penyuluhan 
sudah tidak mempan lagi menekan peredaran narkoba. "Dari hasil riset di Amerika 
Serikat, kasus penggunaan narkoba pada pelajar kelas III SMP justru meningkat, 
padahal ketika kelas I mereka sudah diberi penyuluhan," katanya. 
Saat ini, yang paling tepat adalah pendidikan preventif, terutama kepada 
orangtua yang mendampingi anak. Keluarga adalah benteng pertama untuk 
menanggulangi narkoba. (AMR) 

 
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people 
who know.

Kirim email ke