Biasa kalau ada duit semua bisa adem ayem... Soalnya duitnya dibuat 
beli es balok hehehehehehe..! Just kidding! Biar gak tegang atau 
serius.

Metta,

Tan

--- In [email protected], "pompadoum" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Hahaha.... saya setuju sekali... umat buddha ini lucu, kalau 
giliran harus membela dan meluruskan mana yang benar mana yang 
salah, akan keluar kata-kata bijaknya : 
> jangan melekat, toleransi, sabar, berbesar hati, jangan ngurusin 
orang lain, jangan cepat2 menuduh, ehipassiko dong, biar saja nanti 
dia akan terima karmanya sendiri .......dll dll dll.....
> 
> giliran yang memang harus toleransi, malah nggak akur, dan 
berlebih-lebihan ... 
> sekte saya lebih murni dari sektemu, itu tidak ada dalam 
tipitaka.... 
> tapi lucunya terhadap sekte2 yang totally nyeleweng dari tipitaka 
maupun tripitaka malah adem ayem aja.... hehehe...
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: safira luiz 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Friday, December 22, 2006 6:11 AM
>   Subject: Re: [Dharmajala] Re: Pembelajaran dari sebuah sandal eh 
skandal he he he
> 
> 
>   Ha ha ha ha ha ha ha ha ..........chi ......, maaf he he he he 
he eh he jadi pengen tertawa.
> 
>   Trimalah karmamu, karmaku he he he he he .............., apa ya 
yang harus kukatakan, syukur, kasihan, turut bersimpati, keterlaluan 
atau apa yah ....... klo mau kasihan, sama siapa dong. Mau bilang 
org lain yg menghujat Biksu itu keterlaluan, apakah kita pantas 
mengatakan itu?
> 
>   Mayoritas Umat Buddhis itu menurutku cukup unik, selalu memakai 
kata yang sangat universal  terutama " Jangan melekat ", "Tiap orang 
punya karmanya masing masing ".
>   Jangan ikut campur itu urusan orang lain, jagalah bicaramu, 
jangan berpikir negatif, Tidak baik membicarakan orang lain, diam 
adalah emas, dll dalam menanggapi masukkan dari orang lain. 
Sebenarnya saya juga setuju dengan kata kata itu tapi saya kembali 
berpikir apakah benar mereka yg sering mengucapkan kata kata 
tersebut memahami makna tersebut atau mereka hanya tidak peduli dan 
tidak ingin terlibat sehingga keluarlah ucapan indah nian seolah 
olah melantunkan nada nada penuh kebijaksanaan. 
> 
>   Cth yg sering terjadi dimasyarakat :
>   A : Lah kok seorang X berkelakuan seperti itu yah? kan dia 
panutan.
>   B : Yah kalian jangan mengkultuskan seseorang dong, jangan 
melekat. Jika dia berbuat
>         begitu kan dia juga yang akan menerima karmanya sendiri.
>   A : Tapi kan ..
>   B : Sudah, jangan mengurusi orang lain, Buddha mengajarkan kita 
untuk menaklukan 
>        diri kita sendiri dan bukan orang lain. 
> 
>   Cth Lain,
>   C : Lah organisasi keagamaan Buddha di Indonesia merangkul semua 
jurusan yah, 
>        bukankah pemahaman mereka ttg Buddha Dhamma tidak sejalan 
dengan tipitaka? 
>        Setahuku cuma ada 3 aliran besar yg mengacu pada kitab suci 
tipitaka?
>   D : Emang kamu kaga baca kalama sutta yah, Buddha saja bilang 
kita tdk boleh ter-
>        paku pada kitab suci atau buku semata tapi ehipasiko. 
Dhamma itu kan milik 
>        semua orang.
>   C : Yah ngerti tapi kan klo pemahaman yg sedikit berbeda itu 
dapat membahayakan 
>         orang banyak juga nantinya krn kurangnya pemahaman membuat 
orang bertindak
>         tdk sesuai dan menuai masalah.
>   D : Aduh, kamu ini gimana sih. Orang yang ngerti Dhamma saja, 
klo memang karma
>        buruknya berbuah, dia juga akan mendapat masalah. jadi itu 
bukan sebab.
>   C : Tapi klo ada masalah kan kita juga yg kena bukan?
>   D : Yah enggak dong, tiap orang kan mewarisi kammanya masing 
masing, terlindung
>         oleh karmanya sendiri. Lagian, klo ada orang di luar 
BUddhis yg mencela dan 
>         menghina, maka biarkanlah mereka yg berbuat seperti itu, 
justru kita patut 
>         mengasihani mereka. Membenci akan menghalangi latihan kita 
sendiri.
> 
>   A & C : Hebat yah umat Buddha. Penuh kebijaksanaan dan saling 
mengasihi, semoga
>               semua mahluk berbahagia.
> 
>   Luar biasa bukan. Hebat. maaf, tidak punya maksud mencela 
ataupun menyindir. Mungkin banyak orang yang lupa bahwa kita hidup 
bermasyarakat. Didalam kehidupan bermasyarakat timbul begitu banyak 
ajaran, dll, serta tipikal orang yang berbeda beda. Ada yg ateis 
tapi kok malah mempunyai toleransi tinggi. Memang benar semua 
terpulang pada pribadi masing masih dalam memahami kebenaran ini. 
> 
>   Memang benar org baik pun msh dicela, tapi bukan berarti kita 
jadi tidak menjaga diri bukan? terserahlah apa kata org, dia punya 
mulut kok yg penting, aku tidak berpikir jahat pada mereka. Mungkin 
kita lupa kalau kita pun jangan mengkondisikan hal hal buruk terjadi 
dengan menjaga dan mewaspadai apa yang terjadi dalam diri kita dan 
diluar diri kita sendiri sehingga ketika muncul suatu masalah akan 
cepat terselesaikan karena adanya perhatian tersebut.
> 
>   Coba kita renungkan, bila suatu saat nanti timbul masalah dan 
vihara vihara menjadi sasaran amukan massa krn terprovokasi (andai), 
atau ruang lingkup kita dibatasi, biku biku lebih disorot dalam 
memberi ceramah, atau pemerintah ikut campur tangan memberi batasan 
batasan/ pelarangan ini dan itu atas nama untuk menghindari hal hal 
yg dapat menimpa keberadaan seorang biku atau tpt ibadah itu 
sendiri. Apakah kita kita dapat menerima hal ini dengan sukacita? 
> 
>   Kalau menurut kronologi dari pembicaraan B & D, harusnya kita 
dapat menerima klo vihara dan biku kena amukan massa, bisa menerima 
klo saudara kita kena amukan massa, bisa menerima klo kita juga kena 
amukan massa he he he malah kita harus bersukacita atas kata kata 
yang telah kita sampaikan tadi, berarti karma buruk telah berbuah. 
he he he he, jgn urusin orang lain toh, diam adalah emas bukan. 
Padahal ketika B & D melakukan hal itu, menurutku loh dia juga sudah 
turut menciptakan cikal bakal karma bersama ini berbuat.
> 
>   Sudahlah cuma curhat doang, he he he he , jujur dari lubuk hati 
yang paling dalam, kok saya malah happy ya dengan adanya kejadian 
ini. Bukan saya suka  melihat orang lain menderita tapi saya senang 
nih karena dari sini saya banyak belajar dan melihat bahwa kita 
boleh saja membawa makna yang bersifat universal (lokuttara) dalam 
kehidupan duniawi (lokiya) dengan keranjang panna.  
> 
>   Saran saya : tetap tersenyum, beramah tamahlah sama umat lain, 
tidak menyalahkan orang lain yang telah mencela dan menghina Sangha 
(krn kita juga kan yang menciptakan hal itu terjadi secara tdk 
langsung), tetap punya keyakinan jikalau di jalan ada yg bertanya 
kamu buddhis ya, jawab saja ya dengan senyum. he he he 
he ..........., semoga dengan prilaku kita yang santun, tidak 
mencela kembali si tersangka ataupun org yang menghina Sangha maka 
persoalan ini cepat terselesaikan.
> 
>   INi neh teori, namanya juga sedang berlatih he he he tapi klo 
saya sudah mulai kelihatan kesal, tolong dipegangin dan di ingatkan 
kembali yah ........... itulah gunanya komunitas bukan, klo perlu 
beli es batu dan taruh diatas kepalaku he he he he he he he  he he 
> 
>   Persoalan datang untuk dilihat, dipelajari, diamati dan di 
selesaikan. 
> 
>   Be good be happy,
> 
>   Hi kalian yg menghujat sana sini, apakah ada yang bisa saya 
bantah eh bantu gitu loh ????
>


Kirim email ke