Sekuntum teratai untuk anda semua, terutama anda Bro Brian, seorang calon
Buddha,

Wah, saya tidak berani bilang kalau saya sedang sharing Dharma, karena saya
belumlah memahami, mana yang Dharma, mana yang Adharma, atau sebenarnya
kedua nya hanyalah sebuah 'istilah buatan' saya juga tidak tahu.

Saya setuju sekali dengan anda Bro Brian, entah kenapa, saya merasa anda
benar sekali, itulah kenapa saya mengatakan bahwa "dan mari mencari jalan
keluar bagaimana agar bisa keluar dari situasi tersebut". Ini juga
sebenarnya merupakan sebuah tamparan keras, bahwa ternyata saya belum mampu
untuk memarkirkan kendaraan, menyediakan waktu untuk berbagi, tersenyum
tulus, dsb seperti yang anda katakan, dan sayangnya adalah setiap waktu saya
melihat para pengemis itu, yang saya bawa bukanlah sebungkus atau dua
bungkus makanan, bukan pula pakaian (selain yang sedang saya pakai ini) tapi
tidak lebih dari beberapa logam uang receh dan beberapa lembar uang ribuan
dikantong, oleh karena itu, hanya itulah yang dapat saya berikan pada saat
itu, dengan tetap berdoa semoga mereka bisa cepat keluar dari derita mereka
yang sekarang dan bisa punya kesempatan untuk berbuat hal-hal yang menjadi
'penyebab kebahagian' mereka.

Saya sendiri masih bertanya-tanya, apabila kita melihat para pengemis
tersebut sedang meminta-minta kepada kita, apakah kemudian dengan tidak
memberikan apa-apa (karena pada saat itu yang bisa kita berikan hanya uang)
berarti kita sudah menjalankan ajaran Buddha secara bijaksana? apalagi
ditambah pengetahuan bahwa, mungkin saja, tanpa setoran, mungkin mereka
tidak akan dapat makanan hari itu? atau yang lebih berbahaya lagi, pada saat
kita "melihat kedalam" jangan-jangan itu cuma pembenaran dari sifat lobha
(pelit) kita, wah, semoga tidak demikian adanya.

Sekali lagi, terima kasih untuk anda, seorang calon Buddha, dan tetap saja,
ini hanya numpang lewat, karena tidak memberikan solusi apa-apa :p dan
kembali, tetap menjadi suatu dilema.

Regards,
Yasaputra

--- In [email protected], Brianz_liu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mari ber dharma sharing ria...

Dana bukan berarti harus memberi Materi berupa uang - makanan - pakaian
dllnya..
Tutur kata yang menyejukkan - pembicaraan yang ramah, senyuman yang tulus,
budi pekerti yang menyenangkan - sumbangsi pemikiran juga dapat
dikategorikan sebagai berdana.

Memberi uang memang yang paling praktis dan termudah, selain tidak menyita
waktu, juga kita  tidak perlu repot-repot untuk memikirkan hal lainnya.

Hal ini jadilah Tradisi dan kebiasaan... ada pengemis - Kasihan??i - kasih
uang dan Urusan BERES.

Yang dikhawatirkan adalah pola ini menjadi suatu kebiasaan yang tidak
memberi manfaat yang berarti.
Pemberian yang tercipta oleh kebiasaan / kewajiban.

Menurut yang tertulis.... Berdana harus dilakukan dengan :
1. Keyakinan,
2. Penuh hormat,
3. Secara tepat waktu,
4. Ikhlas dan
5. Tanpa merugikan diri sendiri ataupun pihak lain.

Konon Katanya....Pemberian Dana tanpa kebijaksanaan akan membuahkan hasil
yang buruk [Adhamma dana] ... misalnya memberikan dana Pisau / racun
kepada
mereka yg putus asa dan ingin bunuh diri. Berdana obat-obat terlarang,
berdana kepada Triad yg memperjual beli obat terlarang dan bisnis
penculikan
dan lain sebagainya.

Memang suatu dilema bagi kita ketika melihat penderitaan orang lain,
apalagi
melihat pengemis telanjang dimusim dingin mengemis dan menarik perhatian
hingga menyentuh empati dan kasihan kepada mereka.

Pengalaman saya adalah, memberikan makanan kepada mereka, yang saya
rasakan
bedanya adalah pada saat melihat mereka dengan lahap menikmatinya. bila
mereka adalah yg diperalat oleh para oknum sindikat, walau tidak dapat
uang
paling tidak perut mereka terganjal dulu.

Salam
BL




On 1/2/07, Johanes Sungarda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all,
>
> Sekuntum teratai untuk anda semua para calon Buddha,
>
>
> Setuju untuk Neir Kate!
> Semakin saya berlatih, semakin saya bisa melihat mereka sebagai seorang
> manusia yg sama berharganya seperti kita, kalau mereka hanyalah korban
dari
> peradaban yg semakin lama semakin memojokkan mereka. Meskipun hanya 1-2
> orang saja yg bener2 t'bantu dari sekian banyak orang yg kita
bantu...itu
> sudah cukup menjadi motivasi bagi saya untuk membantu mereka.
>
> T'kadang mungkin masih muncul kekesalan tatkala melihat mereka, namun
> cobalah sadari emosi itu dan manfaatkan momen itu u/ merenung sejenak
akan
> penderitaan mereka.., kalau mereka hanyalah korban, bahwa kehidupan
mereka
> SAMA BERHARGANYA dengan kita; saat itu juga benih kebuddhaan & cinta
kasih
> dalam hati kita akan semakin bertumbuh :)
>
> --
> best regards,
> Johannes Sung
>
> On 1/2/07, Neir Kate <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Sekuntum teratai untuk anda seorang calon Buddha,
> >
> > Sebuah dilema memang, disatu sisi kalo kita membantu, berarti seperti
> > yang
> > dibilang bro brianz kita menyokong sindikat/triad tersebut, tetapi
> > disisi
> > lain, kalau kita tidak memberikan mereka uang, berarti seperti yang
> > ditulis
> > juga bahwa pengemis tersebut kalau tidak ada setoran, tidak dapet
makan,
> > dan
> > mungkin juga dapet sedikit bogem-an, agar semakin banyak cacat-nya dan
> > makin
> > dikasihani, sehingga lain kali, bisa lebih dapet banyak uang.
> >
> > Kalau saya sendiri lebih memilih, untuk tetap memberikan uang yang
bagi
> > saya
> > tidak seberapa, tapi besar artinya buat para pengemis itu, setidaknya
> > dari
> > sana mereka masih dapat makan walaupun mungkin hanya untuk hari itu
> > saja,
> > dan mari mencari jalan keluar bagaimana agar bisa keluar dari situasi
> > tersebut. Kalau sekarang, saya sendiri masih belum ketemu solusi titik
> > terangnya, jadi, yah, sorry, email ini tidak banyak membantu dan hanya
> > numpang lewat :p
> >
> > Regards,
> > Yasaputra
> >
> > --- In [email protected], "Brianz.liu" <brianz.liu@> wrote:
> > >
> > > Beberapa hari yang lalu, media surat kabar [china � Senzhen]
memuat
> > > berita yang sangat mengemparkan yaitu mengupas cara kerja dan
> > kebiadaban
> > > dari perkumpulan / sindikat Kaypang atau pengemis di senzhen [saya
> > kira
> > > termasuk dari Indonesia dan negara2 berkembang dan miskin lainnya].
> > >
> > > Berita ini adalah hasil penyamaran pesiunan wartawan [?]
> > > Singkat cerita sang jurnalis yang cukup tua usianya masuk dalam
> > > perkumpulan triad para pengemis, untuk mendapatkan ijin mengemis
maka
> > > harus membayar sejumlah uang sebagai jaminan dan pengakuan
> > keanggotaan.
> > > Selama 3 bulan dia tinggal, makan dan mengemis bersama-sama dengan
> > para
> > > pengemis.
> > >
> > > Dikabarkan�
> > >
> > > Para Triad / sindikat mempunyai wilayah masing-masing, dan setiap
> > > pengemis ditugaskan, antar jemput dan diawasi oleh para triad.
Setiap
> > > pengemis harus menyetor sejumlah minimum penghasilan, bila tidak
> > mereka
> > > tidak diberi makan.
> > >
> >
> > deleted.....
> >
> >
> > ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
diri
> > saya maupun di luar diri saya **
> >
> > ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
menanami
> > taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi
pengertian dan
> > cinta kasih yang kokoh **
> >
> > ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
> > memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga
> > terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
> >
> > ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
> > welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun
sore
> > hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama
> > melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur
kebajikan
> > orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>
>
>
>
>

Kirim email ke