Ngobrol-ngobrol soal Fangshen (kisah nyata)

Pada kesempatan kali ini saya hendak ngobrol-ngobrol soal fangshen, 
dimana ini merupakan pengalaman nyata yang saya dengar dari teman-
teman lain. Pada kesempatan kali ini, saya tidak bermaksud 
membicarakan mengenai "mukjizat" yang diterima setelah fangshen, 
melainkan motivasi fangshen itu sendiri. Banyak orang yang memiliki 
pandangan salah tentang fangshen. Pandangan salah umum pertama 
adalah fangshen demi mendapatkan suatu pahala atau berkah. Saya 
ingin banyak rejeki, maka saya mengadakan fangshen. Saya ingin dapat 
jodoh, maka saya melakukan fangshen. Jadi dalam fangshen seseorang 
didasari oleh prinsip "jual-beli." Saya melakukan fangshen (jual), 
guna mendapatkan suatu berkah (beli). Tentu ini bukan prinsip 
fangshen yang benar ditinjau dari sudut pandang Buddhadharma. 
Pandangan kedua adalah pengalihan. Saat fangshen ada sebagian orang 
yang mengatakan, "Semoga dengan terbangnya burung itu, maka 
kesialanku juga ikut dibawa serta olehnya." Ini juga pandangan salah 
yang juga sebenarnya tidak berbeda dengan pandangan pertama. Burung 
atau hewan apa saja kita bebaskan, tetapi disuruh menanggung 
kesialan kita. Kelihatannya kok tidak ada perubahan nasib ya? 
Dikurung –sial; dibebaskan juga sial. Silakan rekan-rekan menilai 
sendiri, apakah pandangan tersebut bertentangan dengan Buddhadharma 
atau tidak. Itu tadi hanya sebagai pengantar saja. Kini saya akan 
membawakan beberapa kisah nyata yang berhubungan dengan motivasi 
tidak benar saat fangshen.
Ternyata kalau motivasi tidak benar, hambatan yang dialami saat 
hendak fangshen juga banyak. Ada teman yang hendak fangshen, tetapi 
saat hendak membeli hewan pada siang harinya, ia melihat bahwa kios 
penjualnya tutup semua. Padahal biasanya kios itu buka di hari 
Minggu. Besok harinya saat berjalan ke tempat kerja (rumahnya tidak 
jauh dengan kios itu), ia bertanya pada penjual, "Saya kemarin 
hendak membeli ikan di tempat kamu, tetapi kok malah tutup." Penjual 
menjawab, "Nggak kok, kemarin saya buka terus sampai jam 7 malam." 
Waktu dia mengisahkan hal itu saya tanya, "Memangnya apa tujuan kamu 
fangshen?" Jawabannya adalah salah satu di antara dua pandangan di 
atas. Lalu saya jawab lagi, "Mungkin waktu itu mata kamu ditutup. 
Yah namanya hal-hal gaib itu ada." Ini kisah nyata yang memang susah 
dinalar. Boleh percaya boleh tidak, semuanya terpulang pada pribadi 
masing-masing.
Kisah nyata lain, adalah seorang teman yang hendak fangshen tetapi 
tiba-tiba saja hujan deras, sehingga acara fangshen terpaksa 
dibatalkan. Ada lagi yang hendak fangshen tetapi ikannya mati semua 
sebelum sempat dilepas di sungai. Ada lagi yang kisahnya mirip 
dengan kisah pertama. Orangnya mencari penjual hewan fangshen, 
tetapi setelah putar-putar kota malah tidak nemu. Ini semua adalah 
hambatan-hambatan dalam fangshen yang mungkin saja disebabkan oleh 
hambatan karma atau motivasi yang tidak benar. Kisah-kisah di atas 
nyata adanya. Semoga menjadi renungan bagi kita semua, bahwa 
fangshen itu tidaklah semudah yang dikira. Motivasi benar sangatlah 
dipentingkan, yakni merasa bahagia saat mereka terbebaskan; bukankah 
kita sering mengucapkan "sabbe sattha bhavantu sukhittata"? Semoga 
bermanfaat. Semoga dapat menjadi teman minum kopi, teh, atau makan 
camilan.

Metta,

Tan


Kirim email ke