Kompas, Rabu, 10 Januari 2007
Siapa Bilang Indonesia Miskin!
Imam Cahyono
Kemiskinan seolah menjadi fakta tak terbantah. Indonesia dikenal sebagai salah
satu negara berpenduduk termiskin di dunia, sekitar 39,05 juta jiwa versi Badan
Pusat Statistik atau lebih dari 100 juta jiwa versi Bank Dunia. Jika ambang
batas kemiskinan (poverty threshold) diukur dari kegagalan pemenuhan hak-hak
dasar (basic rights) atau dengan skala pendapatan di bawah 1-2 dollar AS per
hari, kita sulit mengelak.
Kegagalan menangani bencana, rentetan wabah penyakit, dan tragedi busung lapar
melengkapi potret buram itu. Kemasyhuran zamrud khatulistiwa dan lautan kolam
susu kian diragukan. Bagaimana mungkin negeri yang kaya sumber alam dan
bertanah subur justru menjadi ladang persemaian tragedi kemiskinan?
Sebuah paradoks
Namun, mari kita gunakan logika terbalik. Selama ini, diagnosis problem
kemiskinan cenderung mengabaikan kekayaan bangsa yang kasatmata dan
orang-orang kaya di republik sebagai faktor determinan. Di tengah kemiskinan
yang menjerat, ada manusia-manusia superkaya kelas dunia. Majalah Forbes Asia
(18/9/2006) merilis daftar 40 orang superkaya Indonesia, dengan total kekayaan
22,27 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 200 triliun. Celakanya, di antara
daftar taipan superkaya itu bercokol pemain lama, termasuk pembobol uang negara
yang mengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini tahun lalu juga tidak kalah heboh.
Menurut kedua perusahaan jasa keuangan internasional itu, sepertiga jumlah
miliarder di Singapura adalah warga Indonesia. Sepertiga dari total aset 55.000
orang terkaya di Singapura, sebesar 260 miliar dollar AS, adalah milik warga
Indonesia (WNI) yang punya izin tinggal tetap di sana. Dari 55.000 orang
terkaya itu, 18.000 orang adalah WNI yang berdomisili di Singapura dengan
kekayaan 87 miliar dollar AS (sekitar Rp 800 triliun). Belum lagi jika ditambah
kekayaan WNI yang disimpan dan diinvestasikan di negara lain. Padahal, RAPBN
2007 saja hanya berkisar Rp 713,44 triliun.
Pada masa kolonial, darah dan keringat rakyat serta kekayaan alam Nusantara
dikuras Belanda. Kini, kekayaan Indonesia menjadi tulang punggung negara lain.
Bukan rahasia lagi, Singapura merupakan negara yang tergantung uang gelap dari
Indonesia dan China. Ironisnya, para miliarder yang bermukim di sana tetap
memiliki perusahaan yang beroperasi di Indonesia dengan mengandalkan pasar
Indonesia. Kendati para miliarder tinggal di Singapura, mereka masih mencari
untung dengan mengeruk kekayaan Indonesia.
Dominasi pemodal asing
Lantas, seberapa besar kekayaan bangsa yang dapat dinikmati rakyatnya?
Globalisasi ditandai pergerakan modal secara bebas, melampaui batas-batas
negara- bangsa. Indonesia ternyata menjadi surga bagi pemodal asing yang
bergiat menguasai sumber daya yang vital. Investor asing melihat Indonesia
sebagai penyedia bahan baku yang murah dan melimpah serta penduduknya sebagai
pangsa pasar yang potensial. Kita pun cenderung salah kaprah memaknai investasi
asing sebagai suntikan dana segar dari pemodal. Padahal, aliran modal asing itu
sejatinya menjadi parasit yang mengisap. Mereka beternak uang dengan menumpang
mencari makan di republik ini.
Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah selalu menjadi incaran. Nama-nama
besar Freeport, ExxonMobile, Newmon, dan Inco yang menguasai sumber-sumber
kekayaan alam potensial seperti emas, nikel, gas, dan minyak bumi jelas bukan
hal baru. Untuk air minum berlabel Aqua, berasal dari mata air dan dikemas di
republik ini, harus kita beli dari Danone dengan harga yang tidak murah. Yang
diuntungkan pun para pemodal.
Sektor finansial, terutama perbankan, juga tak lepas dari cengkeraman pemodal
asing. Jangankan bank-bank papan atas seperti Bank Central Asia (BCA), Bank
Niaga, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Lippo, Bank
Bumiputera, NISP, Permatabank, bank-bank kecil pun dilirik investor asing.
Belakangan, penjualan bank swasta kepada investor asing kian gencar. Celakanya,
kebanyakan bank swasta yang dimiliki asing itu lebih menggantungkan perolehan
keuntungan dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang tak lain adalah uang
negara. Laba triliunan rupiah yang didapat dari uang rakyat itu kembali ke
kantong para investornya.
Dominasi pemodal asing di bidang perbankan tak lepas dari aturan yang
membolehkan batas kepemilikan saham asing hingga 99 persen. Batas kepemilikan
bank oleh pihak asing di Indonesia jauh lebih liberal dibanding negara lain.
Amerika Serikat, negara dedengkot kapitalisme, hanya memberi kepemilikan asing
30 persen. Filipina membatasi kepemilikan asing 51 persen. Thailand dan India
sebesar 49 persen. Malaysia, China, dan Vietnam membatasi hingga 30 persen.
Sektor-sektor vital lain pun tak lepas dari serbuan investor asing. Industri
telekomunikasi pelan tapi pasti juga dikuasai modal asing. Sektor ritel dan
sektor lainnya pun terus digempur pemain asing, sementara para pemain lokal
kelabakan. Kibaran bendera modal asing menggerogoti ruang gerak sektor usaha
putra-putra bangsa. Ironis, saat kekayaan republik ini bisa menghidupi orang
asing, anak-anak negeri sendiri justru telantar.
Jumlah penduduk Indonesia yang besar sejatinya merupakan sumber tenaga kerja
yang berlimpah. China dan India menjadi raksasa ekonomi dengan memanfaatkan
penduduknya sebagai tenaga kerja yang produktif. Jika republik ini dikelola
dengan tegas dan saksama, dikawal penegakan hukum, penciptaan lapangan kerja,
redistribusi keadilan sosial dengan mengutamakan kepentingan rakyat, Indonesia
tidak pantas menjadi negara miskin.
Sebaliknya, Indonesia bak raksasa yang sedang tidur. Jika bangun, ia bisa
menggegerkan dunia!
Imam Cahyono Peneliti, Tinggal di Jakarta
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com