Kompas, Selasa, 16 Januari 2007                                                 
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                          
 Ke Mana Empati Kita? 
 
Masih pada hari-hari awal 2007, masyarakat kita bukannya menerima kabar gembira 
yang memberikan harapan. Justru sebaliknya, kian banyak duka nestapa. Lihatlah 
sejak waktu pergantian tahun, kenestapaan itu mulai dari kelaparan yang melanda 
sekitar 200.000 anggota jemaah haji Indonesia di Arafah dan Mina, lalu kapal 
dan feri yang tenggelam di berbagai perairan yang mengorbankan ratusan jiwa. 
Masih ada lagi banjir dan longsor di Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan 
sekitar 239 korban tewas/hilang; dan di Langkat, Sumatera Utara, dengan sekitar 
79 tewas/hilang; disusul jatuhnya pesawat AdamAir KI 574 yang tidak menyisakan 
satu pun dari 102 orang yang ada di dalam pesawat itu. 
Lalu, ada kenaikan harga makanan pokok, mulai dari beras, daging, sampai 
sayuran. Kenaikan luar biasa, antara 300 dan 500 persen, dari harga normal. 
Kenaikan yang jauh lebih besar daripada kenaikan rutin pada waktu hari raya 
keagamaan, seperti Idul Fitri dan Natal. 
Ke mana empati kita? Semua musibah dan bencana itu lebih merupakan hiruk-pikuk 
media daripada bangkitnya pengungkapan rasa empati yang tulus dari masyarakat 
luas. Tidak terlihat, misalnya, penggalangan dana filantropi secara signifikan 
untuk membantu korban atau keluarga mereka. Ini berbeda sekali dengan empati 
masif masyarakat setelah terjadinya bencana gempa dan tsunami di Aceh pada 
akhir 2004. Empati itu kelihatan terus menyurut ketika kemudian terjadi gempa 
di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah (Mei 2006) dan musibah lumpur panas 
Porong, Sidoarjo, yang membuat ribuan orang kehilangan rumah, harta benda, dan 
tumpah darah mereka. 
Jika empati kian surut, sebaliknya, sinisme, apatisme, dan bahkan kemarahan 
dalam masyarakat malah terlihat meningkat. Penyebab semua itu sangat banyak; 
yang jelas, berbagai faktor itu semakin berakumulasi dari hari ke hari. 
Di antara tambahan akumulatif itu—dan ini yang paling melukai hati 
masyarakat—adalah kenaikan tunjangan dan insentif bagi anggota DPRD di seluruh 
penjuru Tanah Air. Kenaikan tidak hanya tak mencerminkan empati dan 
sensitivitas publik, lebih parah lagi, memperkuat kesan bahwa "wakil-wakil 
rakyat" itu lebih sibuk dengan diri mereka sendiri, mendapatkan kenaikan 
pendapatan secara mencolok tanpa jelas apa kontribusi mereka bagi kesejahteraan 
masyarakat luas. 
Bagi banyak kalangan masyarakat, kenaikan penghasilan bersih anggota DPRD itu 
merupakan hasil dari semacam "konspirasi" antara eksekutif dan legislatif. 
Pihak eksekutif yang sejak masa reformasi sering menjadi bulan-bulanan pihak 
legislatif agaknya merasa perlu "menyenangkan" dan "mengamankan" para "wakil 
rakyat" tersebut. Jika tidak, pihak eksekutif tidak bisa tenang dalam 
menjalankan tugas. 
Bukan rahasia lagi, pihak legislatif—yang merasa mesti sejajar dengan eksekutif 
dalam hal apa pun—harus mendapatkan fasilitas sama dengan eksekutif. Karena 
itu, mereka berusaha mendapat fasilitas, gaji, tunjangan, dan lain-lain dengan 
berbagai cara. Hasilnya, terjadilah berbagai penyimpangan penganggaran, yang 
memunculkan apa yang disebut sebagai "korupsi bersama", yang pada gilirannya 
membawa kelompok anggota DPRD ke pengadilan dengan tuduhan korupsi kolektif. 
Kenaikan gaji, tunjangan, dan insentif di lingkungan legislatif yang 
susul-menyusul antara DPR dan DPRD hampir bisa dipastikan kian mempercepat 
pengikisan modal sosial (social capital) bangsa. Bisakah mutual trust (saling 
percaya)—sebagai salah satu modal sosial, misalnya—menguat jika sementara 
sebagian besar anak bangsa kian menderita, pada saat yang sama elite politik 
pada lembaga-lembaga publik semakin kelihatan tidak peduli. 
Dalam kemerosotan trust itu, para pemimpin formal pada lembaga publik jelas 
kian kehilangan legitimasi moral dan etis. Kian banyak anggota masyarakat yang 
berpendapat, pemimpin formal itu bahkan mungkin tidak berhak mengajari 
masyarakat tentang solidaritas sosial atau bahkan tentang kohesi sosial dan 
integrasi bangsa. Semakin banyak rakyat merasakan bahwa mereka dibutuhkan hanya 
pada pemilu dan pilkada, setelah itu uruslah diri masing- masing. Meski 
sekarang ada "dana komunikasi intensif" diberikan kepada anggota DPR, sangat 
menjadi pertanyaan apakah dana itu betul-betul mereka gunakan untuk 
berkomunikasi dan mendengar suara rakyat. 
Krisis legitimasi dan kredibilitas kepemimpinan bangsa pada berbagai 
tingkatannya lebih berbahaya lagi dapat mengakibatkan kerugian sosial politik 
yang amat mahal. Jika pada satu pihak ada gejala apatisme yang kian kuat dalam 
masyarakat, maka gejala lainnya adalah peningkatan sikap radikal dan mungkin 
juga revolusioner, yang pada gilirannya bisa berujung pada anarkisme sosial 
yang luas. 
Krisis legitimasi dan kredibilitas itu terlihat kian menguat saja dengan 
kemunculan berbagai kelompok sosial-politik yang mulai berbicara dan bahkan 
menuntut kepada legislatif untuk melakukan impeachment terhadap kepemimpinan 
nasional. Menjelang peringatan peristiwa Malari 15 Januari kemarin beredar 
berbagai macam SMS yang bernada seperti itu. Satu SMS yang mengutip pernyataan 
seorang tokoh Malari 1974: "Rakyat Indonesia di luar parpol punya hak demokrasi 
cabut mandat yang diberikan kepada pemerintah, sekalipun itu hasil pemilu". 
Sebuah SMS lainnya berbunyi: "Ayo gabung dalam pawai rakyat: ’CABUT MANDAT 
Rezim Jablay (Janji Aja Bisanya, ehh Lalay)...’". 
Gejala terakhir ini pastilah juga sangat mencemaskan, bukan hanya bagi 
stabilitas sosial politik Indonesia, tetapi juga bahkan bagi masa depan 
demokrasi di Tanah Air. Meski kekuatan kelompok seperti itu masih bisa 
dipertanyakan, mereka dapat menggelinding seperti bola salju, yang terus 
membesar saat menuju Pemilu 2009. 
Karena itulah, empati sosial politik perlu dibangkitkan kembali oleh setiap 
kalangan, kelompok dan elemen bangsa. Para pejabat publik—baik eksekutif maupun 
legislatif—haruslah kembali pada akal sehat dan nurani mereka. Jika tidak, 
krisis legitimasi dan kredibilitas mereka semakin parah, yang dapat berujung 
pada biaya sosial politik amat mahal bagi negara-bangsa Indonesia. 
Dalam tarikan napas yang sama, agenda jalan pintas dan instan seperti 
impeachment jelas tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya dapat 
menjerumuskan bangsa ke dalam jurang teramat dalam. 
Azyumardi Azra Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif 
Hidayatullah Jakarta 

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke