Kompas, Kamis, 18 Januari 2007
KM Senopati
Penantian Panjang Keluarga Korban
"Kalau bapak sudah datang, kita pulang dan Indah digendong Bapak." Kalimat yang
diucapkan Indah (4) sebelum tertidur dalam gendongan ibunya, Sumirah (33).
Ketika yakin Indah telah terlelap, Sumirah pun menidurkannya di tikar yang
terhampar di lantai II Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Diletakkannya boneka
lumba-lumba biru di samping Indah. Tak lama, anak itu memiringkan badannya dan
memeluk boneka yang dibelikan Om Dedi, petugas dari PT Prima Vista.
Sumirah dan Indah adalah salah satu keluarga yang tengah menanti kabar tentang
nasib keluarganya yang menjadi penumpang KM Senopati Nusantara. Kapal yang
mengangkut 600-an penumpang itu tenggelam di perairan sekitar Mandalika, Jawa
Tengah. Banyak korban ditemukan selamat, lainnya meninggal. Akan tetapi masih
ada 200-an lagi yang belum diketahui nasibnya.
Sampai dengan Selasa (16/1) malam itu, Sumirah dan Indah sudah 11 hari menanti
kabar tentang suaminya, Muhammad Nur. Akan tetapi, penantian itu belum juga
membuahkan kepastian. Suaminya yang belum juga ditemukan.
Kepada Kompas, Sumirah bertutur kalau Indah terus bertanya tentang bapaknya
yang tidak pulang-pulang. Anak itu sangat ingin dipeluk dan digendong bapaknya
yang sudah 11 bulan meninggalkan mereka.
Sambil mengipasi Indah, Sumirah bertutur tentang suaminya. Muhammad Nur tadinya
bekerja sebagai awak kapal pengangkut kayu. Tapi sejak kapal itu rusak di
perairan Kalimantan, Muhammad Nur kemudian mencari pekerjaan lain. Ia bekerja
di perkebunan kelapa sawit di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Setiap tiga
minggu sekali ia mengirimi uang Rp 300.000.
Hasil yang tidak mencukupi membuat suaminya pindah kerja ke pertambangan emas.
Menurut Sumirah, suaminya pernah berjanji jika mendapat Rp 500.000, uang akan
dikrim saja, tetapi kalau dapat gaji Rp 1 juta, ia akan pulang. "Ternyata gaji
yang didapatnya Rp 1.884.000 dan suami saya memutuskan pulang," kisah ibu rumah
tangga yang tinggal di Jakarta ini.
Mendengar kabar suaminya akan pulang, Sumirah sengaja membuat makanan kesukaan
suaminya, yaitu agar-agar seloyang dan ayam sambal balado.
Berita yang didapat dari saudaranya di Kalimantan, Muhammad Nur akan sampai
rumah pada hari Sabtu, 30 Desember 2006 pukul 22.00. Setelah ditunggu-tunggu,
suaminya belum juga datang.
Sumirah lalu menelepon saudara iparnya yang ada di Kalimantan. Katanya,
Muhammad Nur sudah berangkat. Paginya, ia mendapat kabar dari saudaranya di
Kalimantan bahwa kapal yang ditumpangi Muhammad Nur kecelakaan.
Sumirah mengaku tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya menjadi korban
tenggelamnya KM Senopati Nusantara. Selama seminggu Sumirah sakit, tetapi ia
tetap memantau perkembangan berita dari televisi. Seminggu setelah itu, ia baru
mencari tahu kabar suaminya dengan datang di Pelabuhan Tanjung mas Semanrg.
Menurut kesaksian yang didengar Sumirah dari teman suaminya, Herman Nadja,
Muhammad Nur mengambilkan pelampung buat Nadja dan satu orang teman lain ketika
kapal hampir tenggelam. Setelah menceburkan diri ke laut, imbuh Sumirah, Nadja
tidak mengetahui lagi nasib Nur.
Tak jauh dari tempat Sumirah dan Indah tidur, Mudtaba (60) duduk bersila di
sebuah kursi kayu panjang. Tangannya mengambil sebatang rokok kretek, lalu
menyalakan dan menghisapnya dalam-dalam.
Sambil menghembuskan asap, warga Kabupaten Serang, Banten, ini berkisah tentang
anaknya, Masdani (28), yang juga menumpang KM Senopati Nusantara.
Menurut Mudtaba, anaknya itu pulang karena ingin bersilahturahmi dengan
keluarga. Mudtaba juga mendapat kabar dari teman anaknya bernama Agus yang
memberitahukan bahwa Masdani sempat tiga hari tiga malam satu sekoci bersama
dia. Tetapi pada hari keempat Agus tak lagi melihat berada di sekoci.
Mudtaba yang sudah pulang pergi Semarang-Rembang-Surabaya sejak mendengar
musibah yang menimpa KM Senopati Nusantara. Setiap malam selalu berdoa dan
berjaga hingga pukul 04.00.
Ia berharap agar anaknya bisa kembali berkumpul dengan isteri dan duan anaknya
ayang masih berumur tiga dan lima tahun. "Saya yakin anak saya belum meniggal.
Ia pasti berada di sekitar pulau-pulau kecil," kata Mudtaba yang berkerja
sebagai tukang tambal ban.
Lain halnya dengan Neneng. Kali ini dia merasa tidak sendirian lagi. Bersama
Sumirah, Indah, dan Mudtaba, ia merasa senasib sepenanggungan. "Saya tidak
takut lagi," kata Neneng. (35), warga Sumedang, Jawa Barat, yang terus berharap
suaminya, Dedi Rohana (36), segera ditemukan.
Menurut Neneng, suaminya berangkat ke Lamandau, Kalimantan Tengah mengantarkan
mesin bangunan. Rabu, 27 Desember 2006, suaminya memberitahu telah memesan
tiket kapal. Bahkan dua jam sebelum kapal berangkat, suaminya menelpon. Ia
menanyakan keadaan rumah dan ingin cepat ketemu dengan anak-anak.
Sejak mendengar kabar tenggelamnya kapal yang ditumpangi suaminya, Neneng
langsung berangkat ke Semarang. Sudah sembilan belas hari ia tidur di kursi
panjang di lantai dua Pelabuhan Tanjung Mas. Setiap kali, ibu dua anak ini
mengunjungi posko informasi menanyakan kabar terbaru.
"Saya akan terus menunggu di sini. Saya takut kalau tidak ada lagi keluarga
korban yang menunggu di posko, posko akan ditutup," katanya. Tiga orang itu
sampai Rabu masih setia menanti kepastian penemuan anggota keluarga mereka di
Pelabuhan Tanjung Mas Semarang.
Pemerintah sendiri masih belum akan menghentikan pencarian korban KM Senopati
Nusantara."Sampai saat ini belum ada perintah untuk menghentikan pencarian,"
kata Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Semarang Kolonel (Laut) Jan Simamora.
(ab4)
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.