Bencana-bencana di Jawa, Ancaman kehidupan masa depan bangsa Pernyataan sikap 
WALHI Region Jawa Terhadap Potensi Ancaman Bencana Di Jawa
  WALHI Jawa Barat  - WALHI DKI Jakarta – WALHI Jawa Tengah - WALHI DI 
Yogyakarta – WALHI Jawa Timur
  
 Bencana demi bencana tak berkesudahan terjadi sampai sudut-sudut wilayah 
Indonesia. Tahun 2006 saja, telah terjadi 325 kejadian bencana yang merenggut 
lebih dari 6000 jiwa dan menyisakan lebih dari 4 juta warga berstatus sebagai 
pengungsi. Pada bulan Desember 2006 saja, bencana banjir dan longsor telah 
menyebabkan 25.000 keluarga kehilangan tempat tinggal dan 80 ribu jiwa menjadi 
pengungsi.
Pulau jawa, sebuah pulau dengan kepadatan penduduknya yang sangat tinggi. 
Dengan luas daratan  hanya 6,9% dari luas daratan Indonesia dihuni lebih dari 
60% penduduk Indonesia . Pulau Jawa dihuni 127.961.949 jiwa dari 215.631.379 
jiwa rakyat Indonesia.
Tingginya kepadatan penduduk di pulau ini diikuti laju kerusakan hutan sebagai 
penopang kehidupan. Tahun 2004, sisa hutan seluas 2.926.949 ha dengan 21,51% 
atau 629.705 dalam kondisi kritis. Kejadian bencana banjir bandang awal Januari 
2006 di Jember, Banjarnegara maupun di Purworejo adalah bukti ketidakmampuan 
alam menanggung beban. Demikian juga banjir genangan yang merata hampir 
diseluruh dataran rendah disepanjang utara dan selatan Jawa. Kekeringan, krisis 
air bersih dan gagal tanam atau panen menyertai sepanjang musim kemarau.
 Tidak hanya sektor hutan, polusi udara dan pencemaran oleh industri semakin 
melengkapi kesumpekan pulau Jawa. kasus Lumpur panas yang disebabkan 
kecerobohan PT Lapindo dan monitoring pemerintah semakin melengkapi pulau ini 
dengan segudang masalah.
Sistem pembangunan yang masih menempatkan pertumbuhan ekonomi masih di terapkan 
di Indonesia. berbagai masukan untuk menggunakan keseimbangan ekologis 
nampaknya belum dianggap penting. Sekalipun bencana ekologis jelas-jelas 
memperingatkan kita semua atas kondisi Jawa yang mulai sekarat.
Berbalik dari tujuan pembangunan adalah tidak berpengaruh cukup signifikan 
terhadap taraf hidup rakyat di Jawa. Data terakhir tahun 2006 versi pemerintah 
sendiri menyebutkan, angka kemiskinan secara nasional kemiskinan masih mencapai 
17,75%. Kemiskinan yang dilihat dari pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, 
sandang, papan dan kesehatan dibawah standar minimal.
 Bencana ekologis yang terjadi adalah bukti kegagalan pemerintah mengemban 
mandat Negara Republik Indonesia. mengemban kewajiban dalam melindungi dan 
menyelamatkan warga negari dari ancaman bencana. "melindungi segenap bangsa dan 
tumpah darah…" 
Kondisi Indonesia dengan tingkat kerawanan yang mencapai 83% adalah fakta. 
Ketidak siapan warga menghadapi ancaman bencana adalah realitas yang tidak 
terbantah. Namun fakta dan realitas tersebut tidak pernah ditempatkan sebagai 
landasan membuat berbagai kebijakan. Berupaya secara sungguh-sungguh dan 
radikal mereduksi risiko dan dampak ancaman bencana. sehingga, jatuhnya korban 
jiwa dan harta benda masyarakat dapat diminimalisir. 
Banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, wabah penyakit, dan 
konflik sosial serta kegagalan teknologi adalah ancaman yang ada di Pulau Jawa. 
Dan terjadinya ancaman bencana adalah keniscayaan. Kerusakan ekologis dan 
ketidaksiapan menghadapi ancaman bencana adalah faktor utamanya.
Kondisi yang sangat memprihatinkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, 
mengantarkan WALHI Region Jawa mendesak dan menuntut pemerintah Nasional dan 
Daerah di Indonesia segera:
 
 
 
   Membangun kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman kejadian bencana: (a) 
Memetakan kawasan-kawasan rawan dan komunitas rentan bencana serta 
mengembalikan informasi tersebut kepada rakyat; (b) Mengeluarkan kebijakan yang 
menjamin perlindungan dan keselamatan warga negara dari ancaman bencana; (c) 
Meningkatkan kemampuan kelembagaan dan sumberdaya manusia dalam pengelolaan 
risikon bencana; (d) Memberbaiki sistem pengelolaan bencana yang lebih efektif 
dan menyiapkan dana penanganan bencanan yang memadai. 
   Memberikan jaminan kepada warga terkena dampak bencana untuk dapat hidup 
secara bermartabat. Memenuhi seluruh kebutuhan dasar, matapencaharian yang 
berkelanjutan, maupun pelayanan-pelayan dasarnya. 
   Mempertimbangkan untuk membentuk Badan otorita khusus menangani ancaman 
besar kerusakan ekologis dan pengelolaan risiko bencana. 
   Mengevaluasi tata ruang yang ada dan menempatkan risiko bencana sebagai 
landasan penataan dan peruntukan ruang.
   Mereview, mengevaluasi seluruh kebijakan kehutanan di Jawa sebagai penopang 
kehidupan untuk menjamin keberlanjutan kehidupan.  
   Moratorium pertambangan, khususnya pada wilayah padat penduduk sampai ada 
jaminan keselamatan dan perlindungan terhadap rakyat
   Tidak melanjutkan rencana pembangunan 3 PLTN di semanjung Muria dan Madura 
yang semakin meningkatkan kerawanan dan kerentanan atas ancaman bencana.
 Menjalankan agenda luar biasa penyelamatan warga negara  yang tinggal di Pulau 
Jawa tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itu, Pemerintah harus 
berani mendesakan kepada negara-negara pemberi hutang untuk memberi jeda 
pembayaran hutang. Sepertiga dana APBN dari pembayaran hutang luar negari 
tersebut dapat membiayai seluruh kerja-kerja restorasi Pulau Jawa yang hampir 
kolaps.
 
 Pembiayaan pun dapat dilakukan melalui realokasi anggaran, efesiensi anggaran 
negara serta merubah politik anggaran yang tidak efesien.
 
 WALHI Region Jawa melihat, Pulau Jawa sudah diambang kepunahan. Daya dukung 
alam sudah tidak lagi mampu menanggung beban dari berbagai aktifitas di 
atasnya. Untuk itu, WALHI region Jawa mengajak seluruh rakyat Indonesia 
memikirkan secara sungguh-sungguh dan memulai dari sekarang, atau akan terjadi 
genosida oleh alam akibat ketidak becusan mengurus asset-aset kehidupan.
 
 Jakarta, 27 Desember 2006
 
 Kontak:
 WALHI DKI Jakarta: Slamet Daroyni (0815 8419 7713)
 WALHI Jawa Barat: Deni Jasmara (0812 235 6005)
 WALHI Jawa Tengah: Arif Zayyin (0813 9005 4567) 
 WALHI DI Yogyakarta: Suparlan (0817 941 0865)
 WALHI Jawa Timur: Catur (0813 3660 7872)
 WALHI Eksekutif Nasional: Sofyan (0811 18 3760)         

Tanggal Buat: 27 Dec 2006 | Tanggal Update: 27 Dec 2006    Sumber : 
www.walhi.or.id


__________________________________________________

Be aware of the contact between your feet and the Earth. Walk as if you are 
kissing the Earth with your feet. We have caused a lot of damage to the Earth. 
Now it is time for us to take good care of her. We bring our peace and calm to 
the surface of the Earth and share the lesson of love. We walk in that spirit. 
~ Thich Nhat Hanh ~

                
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke