Kompas, Jumat, 19 Januari 2007                                                  
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                         
 Jangan Buka Hutan untuk BBN 
Pemerintah Diharapkan Meninjau Kondisi Lahan Kritis di Lapangan
 
 
Jakarta, Kompas - Pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel di Indonesia 
diharapkan tidak dengan cara membuka hutan, tetapi bersungguh-sungguh 
memanfaatkan keberadaan lahan kritis. Menurut data Departemen Kehutanan, luas 
lahan kritis itu hampir mencapai 60 juta hektar. 
Membuka hutan lagi dinilai Greenpeace Asia Tenggara hanya akan memperbesar laju 
deforestasi atau lenyapnya hutan, yang lajunya kini mencapai 2,8 juta hektar 
per tahun. Ujung-ujungnya, bencana meluas. "Kami bukan anti-biofuel, tetapi 
yang juga penting adalah bagaimana biofuel itu dihasilkan," kata Pengkampanye 
Hutan Regional Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro dalam temu wartawan di Jakarta, 
Kamis (18/1). 
Seruan tersebut terkait rencana pengembangan bahan bakar nabati (BBN), 
khususnya yang berbahan kelapa sawit, menyusul penandatanganan kerja sama 
pengembangannya oleh lembaga pembiayaan dan investor, awal Januari 2007. Kerja 
sama itu merupakan bagian dari 58 kesepakatan kerja sama. 
Dalam naskah kerja sama tercantum, pengembangan BBN direncanakan berlokasi di 
beberapa kabupaten di Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, 
hingga Papua. Jenis bahan bakunya adalah jarak pagar, kelapa sawit, dan ubi 
kayu. 
Untuk tahap awal, komitmen perbankan dalam negeri menyalurkan kredit 
pengembangan BBN mencapai Rp 5,1 triliun. (Kompas, 10/1).  
"Pengembangan itu jangan hanya untuk mengejar permintaan pasar Eropa yang terus 
meningkat hingga 5,75 persen pada tahun 2010. Apalagi kemudian mengabaikan 
kelestarian lingkungan. Justru saatnya menerapkan jeda balak (moratorium 
logging)," kata Hapsoro. 
Hingga tahun 2005, total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 5,6 
juta hektar dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun 200.000 hektar. 
Cegah kerusakan  
Dihubungi terpisah, pengajar pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor 
(IPB) Hariadi Kartodihardjo mengatakan, kekhawatiran ledakan permintaan biofuel 
akan menghancurkan hutan alam yang tersisa dapat dihindari. Caranya, 
memanfaatkan lahan kritis di bekas areal HPH yang sebagian tidak lagi dikelola. 
Berdasarkan penelitiannya, di Provinsi Riau saja ada jutaan hektar lahan kritis 
yang dapat dimanfaatkan. "Kuncinya, pemerintah pusat dan daerah menyelesaikan 
sisi administrasi dan hukum atas lahan-lahan itu," ujarnya. 
Temuannya selama penelitian implementasi penggunaan dana reboisasi di Riau, 
banyak bekas areal HPH yang tidak dikelola. Padahal, laporan formal menyebutkan 
di lahan-lahan itu masih ada kegiatannya. 
"Untuk itu, pemerintah pusat harus turun mengecek kondisi lapangan di 
daerah-daerah. Bila itu dilakukan, pengembangan bahan baku biofuel termasuk 
kelapa sawit tidak perlu sampai membuka hutan lagi," kata dia. (GSA) 

         
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

Kirim email ke