Kompas, Senin, 22 Januari 2007
pasifik selatan
Surga bagi Penjahat Global
Fransisca Romana
Ancaman keamanan yang merajalela di negara-negara kepulauan Pasifik Selatan tak
banyak diketahui masyarakat internasional. Selama ini, kepulauan di Pasifik
Selatan hanya dikenal dengan keindahan panoramanya. Ternyata, banyak praktik
kejahatan yang tak terawasi dan membahayakan keamanan dunia.
Fakta tersebut mengemuka dalam diskusi bertema "Security in the South
Pacific/Oceania" di Central for Strategic International Studies (CSIS), Jumat
(19/1). Diskusi menghadirkanWakil Ketua Dewan Kerja Sama Keamanan Asia Pasifik
(Council for Security Co-operation Asia Pasific) James Veitch.
Dalam pemaparannya, Veitch mengatakan, kawasan Pasifik Selatan merupakan
wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi, tetapi luput dari pengawasan
internasional. "Saya berbicara tentang penyelundupan senjata, perdagangan
manusia, pencucian uang, pembalakan liar, dan eksploitasi perikanan yang
dilakukan banyak negara di Pasifik Selatan," katanya.
Pasifik Selatan telah menjadi ajang permainan berjudul "The Pacific Games" bagi
negara-negara seperti China, Taiwan, Jepang, Eropa, dan banyak negara lain di
dunia. Negara-negara itu bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan
mengeksploitasi kawasan Pasifik Selatan.
Dia mencontohkan, produk kayu keras kualitas terbaik dari Kepulauan Solomon
bisa diperoleh di negara-negara Asia dengan harga murah karena berasal dari
pembalakan liar. Pemasok kayu berasal dari luar negara Pasifik yang bebas
masuk-keluar dan mengambil hasil bumi tanpa membayar pajak. Akibatnya,
negara-negara di Pasifik Selatan tidak menikmati hasil kekayaan alam mereka dan
tetap lemah di bidang ekonomi.
Negara-negara pulau itu juga merupakan gudang kejahatan transnasional, seperti
perdagangan obat-obatan terlarang di Samoa dan penyelundupan senjata di Papua
Niugini. Kelompok-kelompok separatis radikal banyak muncul di berbagai negara
di Pasifik Selatan dan membahayakan keamanan regional. Disinyalir, sebuah
kelompok mafia Rusia telah menguasai 17 miliar dollar AS di Kepulauan Solomon.
Titik panas
Selain ancaman dari luar negeri, negara-negara pulau di Pasifik Selatan juga
sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan politik, ekonomi, dan keamanan di
dalam negeri. "Mereka sedang menghadapi transisi dari kolonialisme di masa lalu
ke kemerdekaan di masa sekarang. Negara-negara itu merupakan titik panas yang
harus menjadi perhatian dunia, terutama Asia Tenggara," kata Veitch.
Seperti Fiji, negara yang pemerintahannya dikudeta oleh militer beberapa waktu
lalu, sektor industri gula dan pariwisata yang menjadi tulang punggung
perekonomian negara itu tidak berjalan akibat kudeta.
Samoa juga sedang menghadapi persoalan besar ekonomi. Titik panas lain adalah
Kepulauan Solomon, yang sebenarnya negara kaya, tetapi memiliki pemerintahan
kerajaan yang lemah, dan Tonga yang rakyatnya masih berjuang untuk demokrasi.
Kawasan Pasifik Selatan juga sering dilanda bencana alam, seperti topan atau
gempa bumi.
"Setidaknya ada tiga persoalan besar yang dihadapi kawasan itu. Pertama,
fragmentasi regional karena menurunnya peran pemerintahan tradisional. Kedua,
marginalisasi kelompok-kelompok lokal dan perjuangan menemukan identitas diri.
Ketiga, kesulitan menemukan bentuk pemerintahan yang sesuai dengan identitas,"
tutur Veitch.
Secara statistik, total jumlah penduduk di kawasan Pasifik Selatan sebanyak
33,95 juta, hanya 0,5 persen dari keseluruhan penduduk dunia. Namun, sebagai
bagian penting dari dunia internasional dan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), nasib negara-negara kepulauan itu harus diperjuangkan.
"Ancaman itu terhitung rendah, tetapi terus berkembang jika dibiarkan. Kami
memerlukan lebih banyak orang yang bisa memainkan peran aktif menjaga keamanan
regional Pasifik Selatan melalui forum-forum dialog serta kerja sama untuk
mengatasi persoalan keamanan di kawasan itu," ujar Veitch.
Peran Indonesia
Veitch mengatakan, selama ini, kawasan Pasifik Selatan seolah hanya merupakan
tanggung jawab Australia dan Selandia Baru sebagai negara terbesar di kawasan
itu. Sebagai negara yang dekat secara geografis, Indonesia dipandang memiliki
kewajiban untuk turut menjaga keamanan regional di Pasifik Selatan.
"Indonesia pun memiliki tanggung jawab atas keamanan regional di Pasifik
Selatan, salah satunya karena Indonesia berbatasan dengan Papua Niugini dan
memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan di perbatasan itu," ujarnya.
Dalam diskusi itu pun mengemuka gagasan tanggung jawab bersama (joint
responsibility) antara negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia,
dengan Australia dan Selandia Baru guna mencegah gangguan keamanan di Pasifik
Selatan.
"Indonesia harus memainkan peran aktif di kawasan itu, misalnya melalui
konvensi-konvensi bidang perikanan. Bersama dengan negara-negara lain di
kawasan Asia Tenggara, persoalan keamanan kawasan Pasifik Selatan harus
dikenali dan ditangani karena apa yang terjadi di Pasifik Selatan akan
memengaruhi keamanan di kawasan Asia Tenggara," ujar Veitch.
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.