Menurutku, adanya ancaman bisa mungkin krn :
1. Adanya sebagian orang yang kesal karena aparat hukum belum mampu
mengungkapkan kebenaran tersebut.
2. Adanya anggapan bahwa pihak kepolisian membela Sdr. Ferry karena mereka
masih anak sikonglomerat.
3. Mungkin masih ada yang menganggap bhw Buddhisme itu bukan jalan yang benar
krn sdr. dari Alda sempat bilang " maka dari itu, kembalilah ke jalan yang
benar ".
Jika ancaman ini dilayangkan secara terbuka maka sudah seharusnya Dirjen
Agama Buddha di beritahu dan mereka berhak menyampaikan masalah ini pada pihak
yang berwajib. Hal ini dikondisikan agar aparat pun tidak main main dalam
menangani kasus Ferry.
Saya tidak setuju kalau umat Buddha cuek atau bilang kan sudah karmanya si
Bikkhu he he he. Kenapa? Masalah karma memang adalah urusan masing masing
individu. Tapi sebagai manusia yang menjalankan Dharma, justru kita harus
membantu dalam hal mengkondisikan agar ada jalan keluar sehingga Bhikkhu tidak
jadi dibunuh. Jangan meremehkan sekecil apapun ancaman tersebut.
Kalau ada yang beranggapan bahwa ini adalah karmanya Bhikkhu maka pertanyaan
saya adalah untuk apa selama ini saya belajar Dharma? Lalu apa bedanya karma
dengan takdir?
Harusnya kesempatan ini digunakan oleh umat Buddha untuk menunjukkan
kedewasaan. Kita harus bergandengan tangan dan bukan lepas dari tanggung jawab
bersama seperti yang pernah kusinggung dalam emailku dahulu. Apa bedanya tidak
melekat dengan tidak peduli?
Saranku, setiap perwakilan dari organisasi menunjuk wakil yang berwawasan
dengan didampingi para Bhikkhu sebagai penasehat dan membahas masalah ini di
Departemen Agama Buddha. Cari solusinya. Kecil saja sudah begini, apalagi nanti
menjadi besar atau disusupi oleh pihak lain. Jangan lupa loh, kita masih hidup
didunia berkondisi, kita hidup diantara umat umat lain yang tidak mengenal kata
" JGN MELEKAT dan karma" jadi kita juga harus mempunyai batin yang baik tapi
memahami kondisi sehingga tercipta satu kondisi yang baik diantara sesama.
Bukannya menghasut tapi apa kalian mau kejadian Alda ini kelak menjadi acara
pembantaian seperti di Thailand.
Manusia tidaklah sempurna maka ia harus mengolah batinnya. Ketika saya
berjanji untuk mengolah batin pasti saya mempunyai sisi yang tidak baik. Oleh
sebab saya mempunyai sisi yang tidak baik, tentunya saya harus mengikuti
peraturan Dhamma dalam bentuk lokiya sebagai batasan atau pegangan dalam
berlatih.
Semua orang bisa saja salah tapi kita juga bisa belajar dari kesalahan diri
sendiri dan kesalahan orang lain agar kualitas batin menjadi lebih baik
walaupun sangat pelan. Yang terpenting, sipelaku haruslah menyadari dan
bertanggung jawab atas perbuatannya.
Saran saya, Semoga kelak dikemudian hari, semua rohaniawan mampu menyadari
motivasi dia sendiri sebelum menjadi Bikkhu. Kalau ia tidak mampu, tolong jadi
penceramah biasa saja (kan bisa jadi romo, pandita, dll) dan tidak usah pakai
atribut yang dapat merujuk pada Bhikku. Kasihan Sangha.
Dan bukan begitu pula caranya memahami Anicca.
Rudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Mengapa harus 'menangis' ? Mengapa harus takut umat Buddha kena getahnya ?
Tetaplah tegar bila kita tidak bersalah, meski ada saudara kita yang dianggap
bersalah (?).
Dan mengenai ancaman 5 bhiksu, biarkanlah. Saya yakin, para bhiksu juga tidak
takut dan tidak peduli. Bila memang karmanya sudah cukup matang, mereka juga
ikhlas. Sabbe satta anicca...
BTW, soal bhikhu yang identik dengan warga Tionghoa, saya kok ngak setuju ya
?! Mungkin yang dimaksud bhiksu Mahayana ya ?! Saya mengenal banyak bhante
Therevada yang asli Jawa dan sangat cakap kok. Apakah mereka patut disebut
bhiksu ?
Salam metta,
Rudi
yangcumangertidikittentangagamabuddha
----- Original Message -----
From: Hansen Nugraha
To: [email protected]
Sent: Monday, January 22, 2007 12:58 PM
Subject: [Dharmajala] Fwd: [t-net] Pos Metro : akan ada 5 orang biksu yang
mati
ada berita aneh nih di milis lain
masa masih ada aja yang menghubungkan kasus alda dengan umat Buddha lagi
huhuhu.. yg bunuh siapa, kena korban nya siapa
---------- Forwarded message ----------
From: Jhon Siswanto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jan 19, 2007 11:25 AM
Subject: [t-net] Pos Metro : akan ada 5 orang biksu yang mati
To: [email protected]
Pos Metro hari ini, tgl. 19/01/2007, halaman depan, memberitakan :
FAISAL RIZA RAHMAT, S.H. mengancam akan melakukan "street justice" (hukum
jalanan), bilamana pihak kepolisian tidak menuntaskan kasus Alda - Ferry dalam
waktu 40 hari, ancamannya : AKAN ADA 5 ORANG BIKSU YANG MATI, NYAWA HARUS
DIBALAS DENGAN NYAWA.
Hemat saya, ancaman ini adalah ancaman yang terbuka, jd jkalau tidak ada
tindakan dari pihak berwajib, bagaimana jadinya negara hukum kita ini ?
Concern saya, Biksu di Indonesia identik dngan warga Tionghoa, bagaimana ini
kawan-kawan ?
Salam,
John Siswanto
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.