Kompas, Senin, 29 Januari 2007
Globalisasi
Desa Ngargogondo Magelang Jadi Desa Bahasa Asing dan Jawa Kuna
Magelang, Kompas - Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang,
Jawa Tengah, diresmikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo sebagai
desa bahasa, Minggu (28/1).
Desa ini adalah desa bahasa pertama yang ada di Indonesia. Masyarakat desa itu
secara mandiri dan alamiah belajar dan mengembangkan kursus bahasa Inggris,
Jepang, dan bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuna).
Mendiknas mengatakan, dirinya masih akan melihat apakah desa bahasa ini cukup
prospektif dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.
"Jika memang nantinya berkembang cukup bagus, maka pemerintah pusat pun akan
serius mendukung dan menjadikan Desa Ngargogondo ini menjadi desa bahasa
percontohan nasional yang dapat ditiru oleh desa-desa lainnya," paparnya.
Sebelumnya, pada tahun 2003 dicanangkan Desa Buku di Taman Kyai Langgeng, Kota
Magelang. Pencanangan ini dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional A Malik
Fadjar. Namun, Desa Buku tinggal kenangan belaka karena tidak berlanjut.
Menurut Bambang, desa bahasa ini baru dikatakan berkembang bagus jika nantinya
dapat membantu warganya untuk terampil berbahasa.
Untuk Desa Ngargogondo yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari aset wisata
nasional Candi Borobudur, peningkatan kemampuan berbahasa ini diharapkan juga
dapat berdampak pada peningkatan pendapatan dan perekonomian masing-masing
keluarga.
Setia pada bahasa ibu
Bambang menerangkan, kemampuan berbahasa asing memang menjadi modal utama untuk
maju dalam kancah kompetensi global. Namun, dia pun mengingatkan agar
kebanggaan dan kemampuan berbahasa asing ini tidak membuat masyarakat lupa
untuk setia memakai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
"Bagaimanapun, bahasa ibu adalah budaya adiluhung yang harus kita jaga dan
hormati sebagai aset nasional yang sangat berharga," ujarnya.
Instruktur dan pendiri desa bahasa Hani Sutrisno menjelaskan, program yang saat
ini berjalan di Desa Ngargogondo adalah kursus bahasa Inggris, Jepang, dan
bahasa Jawa Kawi. Secara informal, program ini sebenarnya sudah berjalan sejak
tahun 1998.
"Program ini terbuka bagi siapa pun dan tidak terbatas bagi warga Desa
Ngargogondo saja. Semuanya yang ingin meningkatkan keterampilan berbahasa dapat
kursus di sini dengan gratis, tanpa biaya sepeser pun," ungkapnya.
Sejak berdiri, jumlah peserta kursus mencapai sekitar 400 orang, dengan total
tenaga pengajar 12 orang. Saat ini mereka yang masih aktif belajar tercatat
sebanyak 116 orang, dan jumlah lulusan mencapai 300 orang.
Hani menyatakan, program ini bertujuan agar masyarakat dapat meningkatkan
pendapatannya melalui keterampilan berbahasa. "Agar lebih mahir, para peserta
sering kami ajak berjalan-jalan ke tempat wisata seperti Ketep Pass dan Candi
Borobudur. Di sanalah mereka dapat mempraktikkan ilmu yang telah mereka
pelajari saat kursus.," tuturnya (EGI)
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.