---------- Forwarded message ----------
From: neir nicky <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jan 30, 2007 10:12 AM
Subject: Fwd: [cekibers] Fwd: FW: (OOT) jalan lurus walau kokpit buta
To: Neir Gmail Kate <[EMAIL PROTECTED]>



Note: forwarded message attached.

------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo!
Games.<http://us.rd.yahoo.com/evt=49936/*http://videogames.yahoo.com>


---------- Forwarded message ----------
From: Willy <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Mon, 29 Jan 2007 18:53:43 -0800 (PST)
Subject: [cekibers] Fwd: FW: (OOT) jalan lurus walau kokpit buta



*"Handy Yustisio ( SPS )" <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Subject: FW: (OOT) jalan lurus walau kokpit buta
Date: Thu, 11 Jan 2007 15:21:34 +0700
From: "Handy Yustisio \( SPS \)" <[EMAIL PROTECTED]>





Jalan Lurus walau Kokpit Buta
http://tempointeraktif.com/hg/
mbmtempo/arsip/2007/01/08/LU/mbm.20070108.lu2.id.html


Pilot Adam Air tak jarang menerbangkan pesawat dengan deretan
instrumen di kokpit yang rusak. Ada yang nyasar, yang lain
memilih mundur.

Perhatian Kapten Pilot Sutan Solahu-din terhenti saat membaca
satu bagian pada catatan yang baru diterimanya. Laporan itu
menyebut, Boeing 737-300 yang akan diterbangkannya sejam lagi
mengalami kerusakan pada sistem navigasinya. Catatan itu
dibolak-balik, tetapi ia tak juga menemukan surat keterangan
dari bagian teknik bahwa pesawat layak terbang. Sutan menolak
menerbangkan pesawat milik maskapai Adam Air itu dari Jakarta
ke Padang. "Tapi saya ditekan pihak owner (pemilik) melalui
telepon agar menerbangkan pesawat itu," katanya.

Sutan akhirnya menyerah dan menerbangkan pesawat tanpa alat
navigasi itu. Pesawat itu terbang seperti orang berjalan dengan
mata tertutup saja. Selama penerbangan ia mengkhawatirkan
keselamatan sekitar seratus penumpang yang dibawa-nya. Dia
harus memakai insting untuk mencari arah Kota Padang.
Untunglah, pengalaman terbang Sutan membuat pesawat tidak nyasar.

Setelah insiden itu, Sutan merasa tidak nyaman dan aman bekerja
di maskapai Adam Air. Saat dia berbagi cerita dengan kawan-
kawannya sesama pilot, ternyata peristiwa serupa pernah mereka
alami. Akhirnya Sutan bersama 16 pilot lainnya memutuskan
mengundurkan diri dari Adam Air, Mei 2005.

Ternyata keputusan mundur itu berbuntut panjang. Pihak Adam Air
menuding rombongan pilot itu menyalahi kontrak kerja.
Perusahaan membawa kasus ini ke pengadilan perdata. Mereka
harus membayar semua biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan,
plus ganti rugi imateriil. Rata-rata setiap pilot harus membayar
Rp 3,6 miliar. "Terus terang saya tidak sanggup membayar uang
sebesar itu," kata Sutan saat mengadukan nasibnya ke Komisi V
DPR, Maret tahun lalu.

Kasus ini mestinya putus Kamis pekan lalu. Tetapi Pengadilan
Negeri Jakarta Barat menundanya karena kuasa hukum Adam Air
tidak hadir. Rumusan fakta-fakta putusan juga belum selesai,
salah satu anggota majelis hakim sedang cuti. "Sidang ditunda
selama dua minggu," kata ketua majelis hakim, Zaenal Arifin.
Penyelesaian melalui pengadilan tinggal menunggu waktu.
Tetapi pemogokan 17 pilot Adam Air dengan alasan keamanan dalam
penerbangan harusnya menjadi perhatian Direktorat Sertifikasi
Kelaikan Udara di Departemen Perhubungan sebagai otoritas
penerbangan. Jika tudingan Sutan dan kawan-kawannya benar,
ratusan nyawa penumpang dan awak pesawat dalam setiap kali
penerbangan menjadi taruhan.

Mungkin saja kecelakaan pesawat Adam Air dengan nomor
penerbangan KI 574 di atas langit Sulawesi juga berkaitan
dengan sistem navigasi. Percakapan terakhir yang terekam antara
pilot Refri Agustian Widodo dan petugas air traffic controller
(ATC) atau pemandu lalu-lintas udara di Bandara Hasanuddin,
Makassar, Sulawesi Selatan, menyangkut soal posisi pesawat.
Setelah pesawat bermanuver menghindari empasan angin, pilot
bertanya di mana posisinya. Padahal, sistem navigasi di kokpit
pesawat cukup memberi informasi itu?kalau alat itu bekerja baik.

Terbang buta tanpa navigasi bukan kali ini saja dilakukan pilot
Adam Air. Pesawat Adam Air yang berangkat dari Jakarta dengan
tujuan Bandara Hasanuddin juga pernah nyasar, Februari tahun lalu.
Pesawat tiba-tiba meminta mendarat di Bandara Tambolaka, Sumba,
Nusa Tenggara Timur. Padahal jarak bandara kecil itu dengan Kota
Makassar lebih jauh dibanding jarak Jakarta-Semarang.

Saat itu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) meminta
meminta Kepala Bandara Tambolaka menahan pesawat nyasar itu.
Tetapi Adam Air justru menerbangkan lagi pesawat menuju Makassar
dengan mengganti pilot dan kopilotnya. Keputusan memindahkan
pesawat yang rusak dari lokasi kejadian, memperbaiki, dan
menerbangkan kembali tanpa izin merupakan pelanggaran berat.
Sebab, penerbangan lanjutan itu menghapus semua rekaman data
dalam kotak hitam yang bisa membongkar kejadian buruk yang
terjadi sebelumnya. Akibat kejadian itu, polisi menahan Kapten
Tri Nusiyogo dan Kopilot Ahmad Deni Syaifuddin.

Seorang mantan pilot Adam Air, yang menolak disebut namanya,
mengaku campur tangan manajemen cukup besar. Padahal pihak
manajemen tidak paham masalah pengoperasian pesawat. Dia
menceritakan pengalamannya saat transit di Juanda Surabaya,
Jawa Timur, sebelum meneruskan perjalanan ke Ngurah Rai
Denpasar, Bali. Baru sepuluh menit penumpang meninggalkan
pesawat, pilot dikagetkan dengan penumpang yang sudah kembali
masuk pesawat. Padahal saat itu pramugari masih sibuk memeriksa
perlengkapan dalam kabin, sementara pilot sedang mengecek
instrumen di kokpit. "Kok, penumpang sudah naik?" sang pilot
bertanya heran.

Seharusnya ramp atau petugas di darat menunggu pilot menyatakan
pesawat siap terbang. Setelah itu, mereka baru boleh memasukkan
penumpang. Insiden itu tampak sepele, tetapi bisa membahayakan
penerbangan. Saat transit, harusnya mesin dan rem pesawat diberi
kesempatan melakukan pendinginan. "Paling tidak pesawat butuh
waktu 40 menit untuk transit," kata sang kapten. Tapi apa boleh
buat, pihak manajemen di Jakarta memerintahkan pesawat segera
berangkat.

Ada contoh lain. Dalam penerbangan dikenal istilah hold item
list. Jika terjadi gangguan pada instrumen tertentu, pesawat
masih bisa terbang asalkan perbaikan harus segera dilakukan.
Misalnya ada gangguan sistem navigasi, pesawat masih bisa
terbang asalkan ada langkah-langkah teknik tertentu. Biasanya
pilot masih berani terbang jika jumlah gangguan dalam daftar
ini hanya terjadi pada satu atau dua instrumen. "Tapi kalau
sampai lima item, ngapain harus terbang. Kita kan lama-lama
jadi takut setiap mau terbang," kata mantan pilot Adam Air ini.

Kalau saja maskapai penerbangan mengikuti aturan keselamatan
penerbangan atau CASR (Civil Aviation Safety Regulation) yang
ditetapkan pemerintah, keamanan pesawat lumayan terjamin.
Mantan pilot Adam ini tak menampik kenyataan bahwa maskapai
yang pesawat pertamanya terbang pada Desember 2003 ini masih
memperhatikan faktor keamanan. "Tetapi batas toleransinya
diturunkan," katanya. Toleransi penggunaan bahan bakar juga
minim. Manajemen menuntut pesawat terbang lurus ke bandara
tujuan untuk menghemat bahan bakar. Akibatnya, pilot tidak
berani terlalu banyak bermanuver. Kalau pesawat terus digeber
seperti itu, "Saya punya insting maskapai ini menjelang titik
kritis." Dia akhirnya memutuskan ikut rombongan untuk keluar.

Artinya, pemerintah perlu pasang mata lebih baik di era
penerbangan murah ini. Pemerintah tak boleh bertindak setelah
kecelakaan terjadi seperti selama ini. Pada September 2005,
pesawat Mandala gagal terbang dari bandara Medan. Pesawat
ambruk dan menelan korban 101 penumpang tewas, bersama 42
penduduk setempat. Menteri Perhubungan kemudian melakukan
inspeksi mendadak ke Bandara Soekarno-Hatta, lima hari
kemudian.

Hasil inspeksi mendadak itu mengagetkan. Saat itu ditemukan
lima pesawat yang tidak siap terbang dari maskapai Adam Air,
Batavia, dan Mandala Airlines. Itu pun yang dicek hanya pesawat
Boeing 737-200 yang serinya sama dengan pesawat Mandala yang
terbakar. "Lima pesawat dikandangkan sampai item yang rusak
diperbaiki sesuai dengan standar," kata Hatta. Di depan Komisi
V DPR, Hatta berjanji stafnya akan melakukan pengecekan lebih
sering, setidaknya setiap dua bulan sekali.

Bagaimana keamanan Adam Air? Dihubungi Tempo, Direktur
Komersial Adam Air, Gugi Pringwa Saputra, mengakui maskapainya
menerapkan efisiensi konsumsi bahan bakar karena mengunyah 60
persen dari total pendapatan. "Kami bukan mengurangi jatah,
tapi memperpendek jarak tempuh," katanya. Misalnya rute
antarkota berbelok-belok, Adam Air meminta pihak pemandu
lalu-lintas penerbangan agar bisa menempuh rute yang lebih
lurus. Hasilnya, mereka bisa menghemat belanja sampai sepuluh
persen. "Ini penghematan yang luar biasa," katanya.

Gugi menampik tudingan maskapainya menyepelekan keselamatan
penumpang. Menurut dia, sertifikat kelaikan penerbangan masih
mentoleransi waktu transit pesawat hanya 20 menit. Bahkan tidak
transit pun bisa, langsung terbang lagi asalkan tidak ada
masalah dari segi mesin atau teknis. "Penumpang sendiri kan
ingin cepat," katanya. Soal intervensi pihak manajemen kepada
pilot? "Itu cerita lama dari seseorang yang tidak puas dengan
manajemen," kata Gugi.


Agung Rulianto, Wahyu Dhyatmika,

















******************* PLEASE NOTE *******************
This message, along with any attachments, may be confidential or legally
privileged.  It is intended only for the named person(s), who is/are the
only authorized recipients. If this message has reached you in error, kindly
destroy it without review and notify the sender immediately. Thank you for
your help.
**********************************************************


------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to
love<http://us.rd.yahoo.com/evt=49980/*http://tv.yahoo.com/collections/265%0A>
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures
list.<http://us.rd.yahoo.com/evt=49980/*http://tv.yahoo.com/collections/265%0A>


Kirim email ke