Mau nimbrung juga. Sebenarnya mungkin pola pikir dari masing-masing pihak yang kurang bisa dipisah". Menurut saya, agama dan pernikahan tidak bisa saling dicampur adukkan. Kl dilihat dari kebutuhan dasar dari manusia, kebutuhan menikah itu adalah hal yang alami yang secara wajar muncul dari setiap manusia.
Ketika dilahirkan, kita tidak diberikan agama melainkan memilih agama (walaupun kebanyakan mengikuti agama orang tua). Namun sebaliknya, ketika dilahirkan kita sudah secara otomatis mempunyai kebutuhan biologis. Nah...ketika kita memasuki masa pacaran dan mau menikah tentunya masing-masing harus saling mengerti dan bisa membuang ego mengenai keyakinan masing-masing agar tentunya kelak tidak terjadi kecekcokan. Tergantung dari awalnya, apakah masing-masing pihak sudah mempersiapkan hal ini. Seringkali ketika masa pacaran, masa-masa indah mengalahkan semuanya. Ketika sudah berumahtangga secara perlahan-lahan ego masing-masing muncul kembali ke bentuk asalnya. Nah...mungkin Sdr. Ningsih bisa mencoba berbicara dari hati ke hati kepada kakaknya, mengenai komitmen mereka dulu sewaktu awal akan menjalankan rumah tangga, menyadarkan mereka mengenai perbedaan yang ada, dan menyadarkan apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing. Jika masing-masing bisa memisahkan mana yang pribadi mana yang keluarga, tentunya hal ini tidak menjadi masalah. Agama adalah hak pribadi, selama masing-masing suami dan istri bisa saling menyayangi dan mencintai, tentunya suami dan istri bisa menghargai hak-hak pribadi masing-masing dan akan menjalankan kewajiban masing-masing dengan baik dan sepenuh hati. Salam, Didi On 1/31/07, ningsih kurniawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
namo budhaya, saya ingin meminta sedikit pendapat mengenai perbedaan agama antara suami dan istri dalam ssebuah keluarga, Kakak saya seorang Kristiani dan istrinya seorang budhis, selama ini kakak saya dan istrinya sering bertengkar karna istrinya menolak untuk ikut ke gereja, dan kemarin mungkin adalah puncak permasalahan ketika kakak saya mengancam istrinya, jika istrinya tidak mendukung ( tidak seiman ) dengan dirinya, dia akan menceraikannya dan tidak akan mau menanggung biaya atau tunjangan apapun untuk istri dan 4 orang anaknya, dan untuk informasi, ketika mereka mengucapkan sumpah janji setia satu sama lain hingga maut memisahkan mereka, mereka lakukan dalam prosedur pernikahan agama buddha. jadi, sya minta pendapat dan masukkan dari temen2 di milis dharmajala, semoga pendapat anda2 sekalian dapat berguna untuk kakak saya maupun istrinya, thank's, ningsih. ------------------------------ Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. http://id.mail.yahoo.com/<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.mail.yahoo.com/>
