Bhikkhu Juga Manusia
Meskipun disebutkan hanyalah cerita fiktif tetapi karena diposting di milis, maka saya ingin berbagi pengetahuan yg barangkali bermanfaat buat teman-teman. Meminjam sebuah judul lagu yg pernah populer "Rocker Juga Manusia", saya ikut mengatakan "Bhikkhu Juga Manusia". Bhikkhu memang bukanlah makhluk suci. Mereka hanyalah manusia biasa. Yg berbeda dengan kita umat biasa hanyalah pilihan jalan hidup mereka. Bhikkhu juga bukanlah sebutan utk makhluk suci. Bodhisatwa lah sebutan utk makhluk suci, atau Sotapana, Anagami, Sakadagami dan Arahat. Kebetulan saya pernah mendengar ceramah seorang mantan bhikkhu ttg vinaya. Bahwa melanggar vinaya tidak serta merta atau otomatis membuat seorang bhikkhu menjadi bukan bhikkhu APABILA vinaya yg dilanggarnya bukanlah termasuk salah satu dari 4 pelanggaran berat (parajika) yakni : berhubungan sex, membunuh, mengambil barang bukan miliknya seharga 5 masaka, menyombongkan perkembangan batin yg sebenarnya belum dicapainya. Tetapi apabila melanggar parajika, maka sejak saat itu juga bhikku tersebut dengan sendirinya bukan lagi seorang bhikkhu. Apabila dianya masih mengaku bhikkhu, maka sejak saat itu dia terhitung melakukan kebohongan. Sebenarnya tidak berbeda dengan contoh dari penulis mengenai presiden. Hanya saja contoh diberikan adalah korupsi. Dan kebetulan korupsi tidak dinyatakan dalam undang-undang sebagai pelanggaran berat yg akan mengakibatkan seorang presiden secara otomatis menjadi mantan. Tetapi seandainya diundang-undangkan seperti parajika dalam vinaya, maka kasusnya akan menjadi sama persis. Didalam undang-undang tata negara hanya disebutkan bahwa seorang presiden akan secara otomatis digantikan wakil presiden apabila beliau tidak mampu menjalankan tugasnya karena misalnya cacat tetap, hilang, ditawan, meninggal dsb. Tidak perlu diberhentikan atau dinonaktifkan melalui sidang MPR dsb. Dan apabila wakilnya pun tidak mampu menjalankan tugasnya, maka akan digantikan oleh tiga menteri yaitu : menteri dalam negeri, mentri luar negeri dan panglima ABRI. Sehingga menurut pemahaman saya sama saja. Bedanya hanya apakah disebutkan / disepakati / diundang-undangkan sejak awal atau tidak. Untuk analogi ayah pun bukanlah contoh yg relevan. Karena seorang ayah bukanlah profesi. Sebutan ayah tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi mantan ayah, kecuali ayah angkat. Sorang ayah kandung bukanlah diangkat, di-upasampada, dipilih atau diberi hak, sehingga tidak dapat dibatalkan, dicabut atau diberhentikan dan menjadi mantan. Berbeda dengan menjadi Bhikkhu yg bisa menjadi mantan. Saya tidak memposisikan diri dipihak manapun. Tidak pro ataupun kontra terhadap penulis yg saya yakin juga mempunyai niat yg mulia. Saya juga sama sekali tidak ingin menciptakan suatu polemik melalui tulisan ini dgn topik diatas, tetapi justru ingin sekali mengajak semua pihak, umat dan para Bhikkhu yg saya hormati untuk mengintrospeksi diri dan melakukan hanya hal yg layak dilakukan dan dipuji oleh para bijaksana. Dan dari hati yg terdalam, saya (barangkali juga anda semua, termasuk penulis) berharap fenomena yg "dilaporkan" tidak terjadi dan benar-benar fiktif seperti yg dikatakan oleh penulis sendiri. Tetapi apabila memang benar-benar terjadi, sungguh amat menyedihkan dan memprihatinkan kita sebagai umat Buddha dan kita berharap tidak terjadi lagi dikemudian hari. Saya sangat menghormati Sangha dan termasuk orang tua yg mendukung bahkan bangga sekali kalau anaknya kelak memilih menjadi Bhikkhu. Sebuah pilihan hidup yg mulia. Pilihan hidup yg pernah terlintas dipikiran saya namun tidak/belum kesampaian. Para Bhikkhu adalah orang-orang yg patut diacungkan jempol. Mereka adalah pejuang-pejuang Dharma. Mereka pemberani, berani melepaskan kesenangan duniawi, label dan segala macam kemelekatan demi suatu cita-cita mulia. Sehingga bukan saja tergetar tetapi menjadi amat sedih ketika mendengar "laporan" bahwa mereka yg sedang berjuang hidup sederhana, menjauhi segala macam kemewahan, kemelekatan dan kenikmatan duniawi itu kini telah "memiliki" fasilitas mewah yg melebihi kebutuhan, HP berkamera dan bahkan ada yg komplain mengenai makan yg itu-itu saja dsb. Meskipun semuanya dengan label "Dana dari umat", tetap saja semakin dibaca semakin sedih. Bagaimana tidak sedih ? Karena ajaran merekalah, saya mulai berusaha menghindari apapun yg berlebihan. Meskipun tidak terikat aturan apapun, saya sendiri masih menggunakan HP yg "Low-Tech", HP "Zaman Batu". Bukan sombong, tetapi saya memang sangat mampu hanya sekedar utk membeli HP yg "Hi-Tech". Bahkan HP pembantu RT saya pun lebih canggih dari saya dan sudah 3 kali ganti. Tetapi karena alasan ingin melatih diri utk selalu hidup sederhana itulah saya menggunakan apapun yg sederhana sesuai kebutuhan dan bukan keinginan. Mobil tetap type standard yg tanpa aksesoris macam-macam dan "asal bisa jalan", pakaian tidak mewah hanya dibeli lagi kalau memang perlu atau yg lama sudah diberikan kepada org lain, makanan dari rumah selalu dibawa kekantor, makan secukupnya, tidak harus 3 kali sehari kalau tidak lapar, menghargai jasa semua pihak yg berkontribusi atas makanan yg disediakan dsb. Semua hal diusahakan sesederhana sesuai kebutuhan saja. Sem uanya dengan topik "Kesederhanaan yg sesuai dengan kebutuhan". Meskipun ada "godaan" dari teman yg mengatakan pelit, tidak mengikuti jaman, ada yg bilang tidak bisa menikmati hidup dsb tapi latihan ini tetap saya jalankan lengkap dengan bolongnya disana-sini. Saya hanya menjawab dengan mengatakan, "Punya begini saja sudah harus saya syukuri". Lebih baik semua pemborosan yg tidak berguna itu utk orang lain yg belum punya. Saya sedang membuktikan ajaran mereka bahwa kebahagiaan bukanlah dari semua kelebihan material yg kita gunakan atau miliki. Tetapi... mengapa justru tingkah laku guru-guru saya ini "dilaporkan" tidak demikian ? Apakah benar-benar demikian yg terjadi ???? Sungguh-sungguh saya berharap "laporan" ini hanyalah fiktif belaka. Terakhir , kritik dan harapan saja tidak akan membuat perubahan apa-apa apabila tidak ada aksi nyata. Sekali lagi saya mengajak umat semuanya, marilah sama-sama berbuat demi Dhamma, bukan EGO kita masing-masing. Kita tau bahwa hidup Sangha hanya melulu ditunjang oleh umat. Hidup Sangha selalu berinteraksi dengan umat. Kita ikut berperan membuat Sangha menggunakan sarana yg melebihi kebutuhan, menyita waktu latihan Sangha, melibatkan Sangha pada berbagai acara yg bernuansa hura-hura, pesta, glamour atau apapun istilahnya. Oleh karena itu, selain berharap dan mendoakan yg terbaik buat Sangha, mari sama-sama kita semua membuat pagar dan menciptakan kondisi yg "lebih layak" bagi Sangha. Kondisi yang membuat Sangha sungguh-sungguh bisa mengembangkan diri. Kondisi yg membuat mereka lebih dapat berbuat hal yg patut dipuji dan diteladani. Tidak membuat mereka lupa akan tujuan diawal dan diakhir latihan ini. Mereka adalah Permata bagi kita umat Buddha. Tetapi meskipun demikian, jangan pernah lupa bahwa "Bhikkhu Juga Manusia". Semoga kita semua mau dan mampu menginstropeksi diri. Sadu..sadhu..sadhu. Wi Tjong ----- Original Message ----- From: Dayapala To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, February 12, 2007 9:17 AM Subject: [samaggiphala] Siapa bilang Biksu itu mahkluk suci ??? Di bawah ini ada sebuah artikel yang sangat menarik perhatian dan cukup membuat saya TERGETAR. Bersumber dari majalah buddhis triwulan nasional DHARMA PRABHA edisi ke-50 (edisi emas)hal 48-51. Mudah2-an dapat menarik perhatian anda juga. Meskipun cukup panjang, BACALAH !!! dan mungkin anda akan TERGETAR.... RRRRRRR.... RRRRRRR...... RRRRRRRR...... ^_^ Bik(s)u juga Manusia Biasa Menurut gosip-gosip tetangga, Ibu Aris akhir-akhir ini menjalin hubungan dengan Bapak F Supra (bukan merek motor, lho). Herannya lagi bagi para tetangga, Pak F Supra ini kepalanya gundul. Kadang-kadang pake selendang merah. Usut punya usut, ternyata kepala gundulnya itu merupakan bagian dari disiplin "profesi"-nya, demikian pula dengan selendang merahnya. Ya, Pak F Supra ini ternyata, konon katanya, berprofesi sebagai bik(s)u. Kabar miring tersebut membuat sebagian orang kebakaran jenggot dan merah telinganya, sampai-sampai mengadakan konferensi pers pula. Dengan kemampuan ilmu komunikasinya, mulailah dicari segala dalih untuk menutup aib tersebut, di antaranya dengan mengatakan bahwa yang bersangkutan, Pak F Supra, bukan seorang bik(s)u. "Seorang bik(s)u tidak boleh menikah, tetapi yang bersangkutan, Pak F Supra, menikah. Jadi, dia bukan seorang bik(s)u." Begitulah salah satu cara mereka bersilat lidah. Jika demikian argumennya, lalu apakah seorang presiden yang korupsi atau melanggar konstitusi, bukan lagi seorang presiden saat itu juga ketika presiden tersebut dikatakan demikian? Kenyataannya tidak seperti itu, karena sang presiden harus diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden dalam sidang MPR. Setelah itu, barulah gelar eks-presiden dapat dipakainya. Belum pernah ada istilah bahwa orang tersebut otomatis bukan presiden sama sekali karena sudah melanggar. Analogi lain adalah pada seorang ayah. Walaupun terdapat seorang ayah yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya, ia tetaplah seorang ayah. Akan tetapi, dia disebut: bukan ayah yang baik. Demikian juga seharusnya pada kasus Pak F Supra. Ya, akui sajalah kalau memang dia adalah seorang bik(s)u. Seharusnya ia disebut bik(s)u yang telah melanggar sila dan/atau vinaya, dan sudah selayaknya dipecat sesuai aturan yang ada, yang kemudian barulah dia dapat disebut bukan bik(s)u lagi. Alih-alih mengakui `there is something wrong' dalam tubuh Sangha, orang-orang ini justru berusaha menutup-nutupi dengan pikiran bahwa, dengan demikian, mereka telah melindungi kemuliaan Sangha. Mereka alpa berpikir bahwa justru kemuliaan Sangha sejatinya ditegakkan dengan mengoreksi kesalahan yang ada; dan untuk mengoreksi sebuah kesalahan, harus diakui dulu bahwa kesalahan itu ada. Kalau tidak diakui ada kesalahan, apa yang mau dikoreksi? Kalau tidak ada yang dikoreksi, kemajuan apa yang didapat dalam memecahkan masalah tersebut? Jika mengikuti argumen di atas, berarti dapat disimpulkan bahwa semua bik(s)u yang ada sekarang, selain Pak F Supra, menjalankan semua sila dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan konsekuen, tanpa pelanggaran, tanpa cela. Karena bila tidak, argumen mereka di atas menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri, alias tidak konsisten. Penjelasannya begini; kita tahu bahwa dalam kenyataannya, barangkali saat ini tidak ada satupun bik(s)u Indonesia yang menjalankan semua sila dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan konsekuen, tanpa pelanggaran, tanpa cela. Kalau demikian halnya, mereka semua bukan bik(s)u lagi; karena, berdasarkan logika yang dipaparkan di atas, seseorang yang telah dilantik menjadi bik(s)u, bukan bik(s)u lagi pada saat begitu dia melakukan pelanggaran sila dan/atau vinaya. Jika demikian halnya, berarti saat ini di Indonesia barangkali tidak ada seorang pun bik(s)u. Nyatanya, mereka masih diakui sebagai bik(s)u, tepatnya bik(s)u yang telah melakukan sejumlah pelanggaran, namun tetap sebagai bik(s)u. Nah, di sinilah letak ketidakkonsistenannya. Karena, bila hendak konsisten, berarti Pak F Supra pun, dengan pelanggarannya, masih adalah seorang bik(s)u, yakni bik(s)u yang melanggar (sila dan/atau vinaya). Diperlukan adanya prosedur/tata cara tertentu untuk "memecatnya" dari Sangha, barulah ia dapat disebut bukan bik(s)u lagi. Sebenarnya terdapat sejumlah aturan dalam vinaya bagi bik(s)u yang melanggar vinaya. Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa Pak F Supra bukan seorang bik(s)u. Opini publiklah yang telah membentuknya menjadi seorang bik(s)u. Kalo memang demikian halnya, mengapa sampe sekarang baru diklarifikasi? Mengapa dari dulu dibiarkan saja tanpa klarifikasi? Mengapa baru sekarang diklarifikasi, di saat dia telah memiliki banyak umat dan telah berbuat salah? Mengapa dalam berbagai acara dia selalu diposisikan sebagai seorang bik(s)u (contohnya pada acara Waisak di Borobudur, dan sebagainya)? Mungkin mereka akan berdalih bahwa dalam semua ini Pak F Supra tidak pernah disebut bik(s)u secara nyata-nyata. Bahwa opini publik dan berbagai macam acara menghadirkan dia sebagai sesosok bik(s)u, itu bukan urusan dan tanggung jawab mereka dan bukan berarti atas persetujuan mereka. Nah, apalagi konon (konon sih. menurut infotainment tertentu di layar kaca) Pak F Supra ini telah pernah menerima penahbisan sebagai seorang rinpoche di Swiss. Memang benar rinpoche belum tentu seorang bik(s)u, tetapi hal ini tidaklah memberi kesimpulan bahwa seorang rinpoche PASTI bukanlah seorang bik(s)u sama sekali. Jika demikian halnya, lagi, apakah ketika semua orang sudah menganggap Anda sebagai seorang pria, masih diperlukan pernyataan resmi bahwa Anda itu pria, barulah orang-orang mengakui Anda adalah seorang pria? Apakah cara memutuskan seseorang itu pria atau wanita dengan jalan seperti itu? Dengan cara tidak meyakini opini umum dan harus melalui pernyataan resmi yang berdasarkan penglihatan atas "alat bukti"-nya? (ente ngerti sendiri deh...) Dengan semua hal di atas, bukan berarti kita tidak menghormati Sangha. Sederhana saja, jangan mendewakan seorang bik(s)u. bik(s)u juga manusia. Terlepas dari benar tidaknya gosip di atas, disadari bahwa perlu ada pengawasan, transparansi, keterbukaan, accountability, checks and balances terhadap Sangha. Salah satu sifat tidak baik umat awam buddhis dewasa ini, terutama di Indonesia, adalah terlalu mendewa-dewakan Sangha. Emangnya Sangha itu dewa? Trus, emang ngga bisa memperlakukan Sangha secara wajar, layak, dan manusiawi? Karena memang begitulah cara memperlakukan Sangha yang baik dan benar. Ingat, kita memperlakukan Sangha dengan wajar, layak, dan manusiawi karena kita sayang dan hormat pada Sangha, sehingga kita tidak mau menjerumuskannya, tidak mau merusak latihannya/disiplinnya. Kecenderungan cara kita memperlakukan Sangha selama inilah yang mendukung rendahnya perilaku sejumlah bik(s)u. Perilaku bik(s)u sekarang yang miring juga disebabkan oleh perlakuan umat yang terlalu menganakemaskan Sangha, yang berbuntut pada "mencelakakan" bik(s)u bersangkutan pada khususnya, dan komunitas Sangha pada umumnya. Cobalah lirik kehidupan Sangha di beberapa tempat lain, bagaimana perlakuan umat di sana terhadap mereka. Singkat kata, di banyak tempat, bik(s)u tidak semudah itu mendapatkan uang dan "servis" seperti di sini. Contoh nyatanya, ya, Mr. F Supra ini; umat sebelumnya telah pernah mendengar kabar, gosip atau apapun namanya bahwa dia beristri (lagi-lagi menurut "kabar-kabari" infotainment di atas, yang katanya merupakan hasil wawancara dengan seorang petinggi sebuah federasi organisasi buddhis yang pernah mengenal dia), tetapi tidak ada yang berani mempertanyakan hal tersebut. Mengapa? Karena bik(s)u itu, tingggiiii.., seperti, dewa, takut dosa ahh. kalau meragukannya, mending cari selamat aje. Kita juga sering melihat, ehm, bik(s)u yang memakai telepon selular berkamera, dengan bentuk yang langsing singset pula, yang tentu harganya sangat mahal. Yup, bik(s)u dengan berbagai peralatan canggih dan mewah di tangannya. Kalau dipikir-pikir (dengan akal sehat), untuk apa semua itu? Umat awam saja ga begitu perlu, apalagi seorang bik(s)u. Contoh lain adalah dalam hal penyediaan fasilitas makanan, akomodasi, dan transportasi bagi anggota Sangha jika diundang dalam suatu kegiatan. Kita begitu terlena untuk memberikan mereka fasilitas yang terbaik. Begitu juga kita dengan setianya menyediakan makanan kesukaan si bik(s)u yang kita ingat jenis makanan kesukaannya. Lebih parahnya lagi, kadang-kadang si bik(s)u mengeluh tentang fasilitas yang telah disediakan, misalnya makanan yang menunya itu-itu saja. Ingat! Tujuan seseorang memakai jubah adalah untuk melepaskan kemelekatan, bukan menambah kemelekatan; untuk melepaskan keterikatan terhadap HaPe-HaPe berkamera dengan bentuk langsing singset dan teknologi berujung tinggi (baca: high end) di sekitarnya, bukan malah lebih melekat. Atau jangan-jangan, ia jadi bik(s)u demi mendapatkan fasilitas-fasilitas tersebut? Hikss. Seorang bik(s)u biasanya menjawab, "Itu kan pemberian umat." Betul, tepat sekali! Itu adalah pemberian umat. Tetapi toh, bik(s)u tersebut bisa menolaknya secara halus. Menerima atau menolak adalah pilihan, bukan? Dan, pilihan tersebut ada di tangan si bik(s)u. Kalau dikatakan bik(s)u harus menerima segala pemberian umat, mengapa sikap menerima tidak ada pada bik(s)u jenis ini untuk menerima hal yang tidak menyenangkan dia? Jika demikian, untuk selanjutnya, atau setelah yang satu itu, si bik(s)u bisa memberikan penjelasan bagaimana cara berdana yang baik dan benar, pemberian dana apa yang pantas, dan untuk apa dia menjadi bik(s)u. Kasus mengenai hal ini merupakan unsur perusakan dari umat, tetapi di sisi lain bik(s)u juga merusak dirinya sendiri dengan terlena akan pemberian umat tersebut. Argumen "Zaman sekarang ini tidak ada uang mana bisa berbuat apa-apa" atau "Saya menjadi bik(s)u juga harus mengurus organisasi dan hal itu tidak terhindarkan. Dan tentunya itu semua juga membutuhkan uang. Tanpa uang ga bisa bergerak" juga merupakan tameng beberapa oknum bik(s)u. Jika menjadi bik(s)u masih butuh ini-itu, harus sibuk mengurus organisasi, menyelenggarakan acara, hingga menjadi event organizer segala, sampai membuang sebagian besar waktu untuk hal tersebut, praktiknya kapan? Bila sampai sebegitu melekatnya terhadap segala ini-itu, apakah tidak lebih baik lepas jubah menjadi umat perumahtangga saja? Menjadi umat perumahtangga lebih bebas untuk melakukan hal-hal tersebut. Sebagai umat biasa, mereka juga bisa sambil praktik. Sebenarnya, orang memilih menjadi bik(s)u karena dengan menjadi bik(s)u ia mendapatkan kemudahan untuk berpraktik, terutama dalam hal waktu. Ia mendapatkan kesempatan untuk lebih total dan fokus pada praktiknya. Ada contoh yang baik untuk hal ini, yaitu Ajahn Chah, seorang bik(s)u hutan yang tidak punya uang tetapi bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Beliau juga pernah diundang sampai ke negara-negara Eropa dan telah memiliki banyak sekali murid Eropa, walau tanpa uang.sepeser pun. Yang tak kurang parahnya adalah cara kita berdana kepada seorang bik(s)u. Kita berpikir bahwa kita akan mendapat karma baik istimewa jika berdana kepada seorang bik(s)u. Kalau tidak berdana, kita akan takut mendapat karma buruk. Jadi, lebih baik cari aman, ujung-ujungnya egois, karena cari aman untuk diri sendiri, peduli setan apakah dengan demikian Sangha menjadi rusak/terjerumus atau tidak. Benarkah di sutta dikatakan bahwa berdana kepada bik(s)u dapat karma baik istimewa, atau sebenarnya berdana kepada orang yang benar-benar menjalankan sila? Berdana yang baik kepada penjalan profesinya atau kepada pelaksana sila yang benar? Kita sering salah akan hal ini. Kita seharusnya berdana kepada seorang bik(s)u yang menjalankan sila dan/atau vinaya dengan baik, bukan kepada sembarang bik(s)u. Sudah saatnya pula para umat melepaskan mitos bahwa berdana pada seorang bik(s)u mendapatkan pahala istimewa. Jika kita menemukan ada bik(s)u yang melanggar sila dan/atau vinaya, apa yang harus kita perbuat? Apa kita perlu memotretnya atau merekam kejadiannya untuk dijadikan bukti? Sangha/bik(s)u juga manusia. Mereka adalah manusia-manusia yang mencoba berlatih lebih keras daripada kebanyakan dari kita. Mereka punya komitmen yang lebih dibanding yang lainnya. Mereka juga manusia, yang bisa terlena dan terjerumus bila didewa-dewakan, disanjung-sanjung, dan dijauhkan dari realitas. Salah satu alasan Buddha menetapkan vinaya karena sebelumnya memang terjadi pelanggaran akan suatu hal. Untuk menghindari pelanggaran tersebut, Buddha menetapkan vinaya untuk dipatuhi para siswa-Nya yang mengambil jalan sebagai seorang bik(s)u. Semua itu adalah demi kebaikan bersama. Inga-inga, Buddha pernah mengatakan bahwa suatu saat ajaran-Nya akan lenyap karena ulah para bik(s)u yang tidak mematuhi vinaya! Janganlah mencari pembelaan diri demi kesenangan diri ketika menjadi seorang bik(s)u dengan melonggarkan vinaya yang telah ditetapkan Buddha. Sudah seharusnya kita menaruh hormat kepada Sangha, tetapi bukan dengan cara dimanjakan dan disanjung-sanjung terus-menerus karena ini bisa membuat mereka terlena dan terjerumus-acap kali secara tanpa sadar. Jadilah umat yang baik dengan tidak mencelakakan bik(s)u demi keterjaminan karma baik istimewa kita sendiri. Marilah kita bertindak dan berpikir secara bijaksana.[red.][dharma prabha] NB: Kisah di atas hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan alur cerita, tempat, maupun tokoh, itu hanyalah kebetulan belaka. Recent Activity a.. 23New Members Visit Your Group Yahoo! Mail Next gen email? Try the all-new Yahoo! Mail Beta. Y! Messenger Instant hello Chat in real-time with your friends. Y! GeoCities Share More Create a blog, web site, and more. . -- This message has been scanned for viruses and dangerous content by CPI Group E-mail Scanner, and is believed to be clean.
