Di seluruh tiga masa waktu, kamu mencari pikiran, tetapi melihatpun kamu tidak. Kedua matamu melihat dirimu di depan tetapi kamu tidak dapat melihat matamu sendiri. Kamu mencari pedang yang hilang di sungai di mana kamu menandai gelombang. Dengan sia-sia matamu tidak menemukan sesuatu. Setiap saat kita melihat sesuatu yang tidak penting, angin, bunga-bunga, salju, dan bulan.
---------- Di dalam mencari apa yang kita inginkan, kita jarang menemukannya. Apa yang tidak diinginkan, malahan mudah ditemukan. Sulit untuk melihat apa yang disebut kebenaran, sedangkan sebaliknya kebohongan yang memperdaya selalu ada di depan mata kita. DI SELURUH TIGA MASA WAKTU, KAMU MENCARI PIKIRAN, TETAPI MELIHATPUN KAMU TIDAK. Tiga masa dalam Buddhadharma adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan atau tiga masa waktu yang berbeda. Sutra Intan mengatakan tentang 'pikiran masa lalu, pikiran masa sekarang, dan pikiran masa mendatang'. Kami ingin mencari pikiran di tiga masa waktu ini. Masa lalu sudah berlalu dan tidak akan tinggal. Pikiran masa sekarang pergi dalam sekejap dan tidak dapat dikendalikan. Pikiran masa datang belum muncul dan juga tidak dapat dijadikan pegangan. Inilah sebabnya, mengapa tidak mungkin dan hanya menghabiskan usaha bila mencari pikiran di dalam tiga masa waktu. Ada sebuah cerita tua: jaman dulu, ada seorang master Ch'an bernama De San dari cina selatan. Dia pernah mendengar patriak ke-enam, Master Hui Neng yang mengajar tentang latihan pencerahan cepat. Dengan sombongnya, Master De San menyatakan bahwa orang selatan tidak memiliki Buddhadharma sejati. Tidak berkeinginan untuk melepaskan hal ini, dia menulis sebuah uraian Sutra Intan dan merencanakan pergi ke selatan untuk berdebat dan mengupas doktrin dari pencerahan cepat. Dia membawa keranjang yang penuh dengan ulasan-ulasannya ke selatan. Di tengah perjalanannya, beliau beristirahat di sebuah penginapan dimana ada seorang perempuan tua yang membuatkan dim-sum (makanan kecil). Perempuan tua merasakan kesombongan sikapnya dan mempelajari alasannya untuk datang ke selatan, perempuan tersebut berkata, "Master Ch'an, saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan. Jika anda dapat menjawabnya, saya akan memberimu dim-sum secara gratis. Jika tidak, maka anda tidak perlu membawa uraian-uraian Sutra itu ke selatan." Master De San memandang remeh perempuan tua tersebut dan berkata, "Silahkan, bertanyalah!" Perempuan tua tersebut bertanya, "Dalam Sutra Intan, dikatakan, pikiran masa lalu tidak dapat ditemukan, pikiran masa sekarang tidak dapat dikendalikan, dan pikiran masa mendatang tidak dapat dideteksi. Lalu Master Ch'an, anda sedang makan dim-sum. Jenis pikiran apakah itu?" Master Ch'an kehilangan kata untuk memberikan jawaban. (Dalam tata bahasa China, kata dim-sum memiliki lebih dari satu arti. Dim juga berarti mengarah ke atau menunjuk ke. Sum juga berarti pikiran dan hati, sama seperti citta dalam bahasa sansekerta) KEDUA MATAMU MELIHAT DIRIMU DI DEPAN TETAPI KAMU TIDAK DAPAT MELIHAT MATAMU SENDIRI. KAMU MENCARI PEDANG YANG HILANG DI SUNGAI DIMANA KAMU MENANDAI GELOMBANG. DENGAN SIA-SIA MATAMU TIDAK MENEMUKAN SESUATU. Pedang berhargamu jatuh ke dalam sungai, dan kamu menandai air dimana pedang tersebut jatuh, dan kamu berpikir pedang tersebut akan kembali dan ditemukan. Ini tidak mungkin. SETIAP SAAT KITA MELIHAT SESUATU YANG SEDERHANA, ANGIN, BUNGA-BUNGA, SALJU, DAN BULAN. Jika kita mencari kenyataan, kesulitan ada di depan kita. Penting untuk tidak berdelusi karena disebabkan oleh lingkungan luar atau dibohongi oleh keadaan-keadaan kita. --------- sumber: Suara Bodhidharma, edisi 08/III/2003(32); Ven.Master Hsing Yun, "Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press, USA, 2000.
