*Peradaban Got
*
Dua sebab utama terjadinya banjir, jika mau jujur, asal sebabnya ada pada
orang kaya. Ini bukan sekadar sentimen. Baik sebab "pemanasan global" yang
diakibatkan oleh "efek kaca" maupun kesalahan dalam tata ruang yang
diakibatkan oleh pembangunan properti, sama kita mafhumi, berawal dari nafsu
bisnis dan *prosperity* mereka yang ada di kalangan *the haves*, mereka *high
class*.

Pada tingkatan negara, kita pun tahu, negara superkaya macam Amerika Serikat
juga yang tak hendak meratifikasi Protokol Tokyo berkaitan dengan pemanasan
global ini. Dunia memang sudah menciptakan logika dan penalaran sederhana,
yang sebagian banyak kita menerimanya *taken for granted*: mereka yang kaya
menikmati, mereka yang tak punya kian tersakiti.

Persoalan lingkungan memang tak sebatas soal ekonomi dan politik, melainkan
juga budaya. Penyelesaian komprehensif mestinya muncul dari sudut pandang
terakhir itu. Dari Otto Soemarwoto hingga Al Gore, mantan calon Wakil
Presiden Amerika Serikat itu, mewakili cukup banyak suara dunia yang
menyampaikan cara pandang tersebut.

Tapi soal banjir, pada sebab kedua, tak banyak yang mempermasalahkan satu
hal penting, hal kultural, seperti yang dibahas di tulisan ini. Yakni: soal
got. Pada tata ruang biasanya orang banyak mempersoalkan apa yang ada di
atas permukaan (tanah): bagaimana gedung niaga dan rumah tinggal diatur,
daerah hijau diatur, situ, kali, taman, dan hutan dijaga fungsinya, dan
sebagainya.

Namun tak banyak yang memperhatikan justru apa yang ada di bawah permukaan.
Mudah kata, banyak yang menyepelekan. Sementara, persoalan got, drainase,
gorong-gorong, atau pelbagai jenis saluran air artifisial, hasil rekayasa
manusia, sesungguhnya menjadi penentu, setidaknya vital dalam keberlanjutan
hidup yang tenteram, alami, manusiawi, dan budayawi.

Hingga kini, setiap kita menjadi saksi bagaimana urusan kolong tanah ini tak
terurus baik, di bagian kota --besar, sedang, kecil-- mana pun. Got adalah
wilayah yang paling mampet, macet, bahkan buntu dalam perikehidupan kita.
Dan kita hampir tak peduli, sebagaimana kita peduli pada situasi yang sama
di atas daratan. Jikapun ada gotong royong warga membersihkan got, ia hanya
menjadi aktivitas iseng, yang segera dilupakan di hari berikutnya.

Sebagai simbol dari kehidupan *subterrain*, got juga mewakili sebuah
kemungkinan lain, sebuah dunia lain dari kemungkinan hidup/dunia yang kita
pelihara selama ini: dunia permukaan, baik darat maupun lautan. Sebagai
manusia, kita mahir dan menguasai permukaan. Tapi sebagai makhluk, sebagai
entitas berakal di atas bumi ini, kita hanya menjadi *master* dari satu
dunia/kemungkinan hidup di antara tiga yang ada.

Dunia lain, angkasa, barangkali kita sudah memulainya. Sejak fantasi dan
imaji fiksional dan kosmis puluhan abad lalu, hingga penjelajahan bulan dan
planet-planet Bimasakti serta Andromeda. Walau harus diakui manusia belum *
master*, belum menjadi penguasa di bagian semesta itu. Tapi kemajuan
berarti, lewat eksplorasi Mars hingga Neptunus, menunjukkan perhatian besar
manusia pada angkasa.

Sebaliknya tidak pada alternatif ketiga, dunia bawah permukaan/tanah.
Beberapa negara maju memang sudah menembusnya lewat berbagai fiksi Hollywood
hingga dongeng anak, seperti *The Bad and The Beautiful*. Beberapa kota
besar dunia menyediakan kehidupan metro/*subway*, *tunnel* melintasi laut,
toserba, bahkan penginapan di bawah tanah. Termasuk gorong-gorong dengan
diameter lebih dari tiga meter, siap mengalitkan tumpahan limbah cair berapa
pun banyaknya.

Di Jakarta, sebagai potret dari kota-kota Indonesia lainnya, belum ada visi
untuk itu. *Subway* adalah pilihan terakhir. Dan bukan sebagai alternatif
kehidupan, melainkan sekadar proyek percontohan (maksudnya: *nyontoh* orang
lain saja). Beberapa gedung memiliki lantai *underground* yang tak lebih
dari parkir barang mati dan kumpulan sopir yang merana.

Maka, jika got atau dunia bawah permukaan dapat dipahami perannya dalam
keberlangsungan hidup, kebudayaan dan peradaban manusia, semestinya sebuah
visi untuk membangun dunia itu (lebih tidak rumit dan mahal ketimbang ke
luar angkasa) mesti diperhitungkan. Karena alam memang menyediakan dirinya
untuk dieksplorasi secara bertanggung jawab oleh penghuni (utama)-nya:
manusia.

Dan itu bukan saja apa yang ada di permukaan. Melainkan juga yang ada di
atas dan di bawah. Bukan semua gerak di permukaan pada akhirnya bermuara ke
atas, juga... ke bawah. Bukan bawah dan atas sebenarnya tak berbeda,
tergantung posisi dan koordinat kita di mana. Bukankah begitu manusia juga?
Walau ia ingin menuju ke atas, tetap saja ia dibenamkan ke bawah. Betapapun
ia dibenam sedalamnya di bawah, bukankah ia akan berakhir di atas juga?

Betapa naif jika kesadaran kemanusiaan kita hanya untuk permukaan. Maka,
jika ia selalu celaka oleh apa yang meluap dari atas dan dari bawah, itu
memang azab naifitasnya. Marilah berhenti senantiasa menatap atas, dan
mulailah meresapi apa yang di bawah. Di balik permukaan kita. Permukaan
segalanya.

*Radhar Panca Dahana
*Budayawan*
[*Perspektif*, *Gatra* Nomor 14 Beredar Kamis, 15 Februari 2007]

Kirim email ke