Dear All,

Sekuntum teratai untuk Anda semua, para calon Buddha.


Xin Nien Kuai Le untuk Bro and Sis sekalian.


Sekarang aku lagi ada di Fan Yin She, wihara Master Shen Nuo, guru Bhante 
Prathama di Hsincu, Taiwan. Besok jam 05.30 aku sudah berangkat ke airport. 
Siap untuk terbang kembali ke Jakarta.

Aku tiba di Taipei pada tgl 19 Feb pukul 21.00an. Dijemput oleh Ibu Cicen dan 3 
mahasiswa Indonesia (Virya, Henry, dan Sugiyanto.

Lalu bersama kami menuju ke Fan Yin She. Tiba di sana, setelah bernamaskara di 
Dharmasala dan ke Master Shen Nuo, aku bertatap muka dengan 17 mahasiswa laki2 
Indonesia dari Bodhicitta Mandala, yg akan mengikuti retret pemula Dharmajala.

Setelah meninjau lapangan dan melihat kondisi2 yang ada, maka jadwal dan format 
retret terpaksa dimodifikasi.

Retret akan dimulai pukul 13.00 setelah 10 peserta wanita yang juga merupakan 
mahasiswa Bodhicitta Mandala tiba di Fan Yin She sebelum jam makan siang. Jadi 
total pesertanya adalah  27 orang. Keseluruhan mahasiswa Bodhicitta yang 
berasal dari Medan dan Aceh berjumlah 35 orang. 8 orang yang katanya adalah 
super druper, tidak ikut karena aku menekankan hanya yang mau ikut yang ikut.   
 

Taiwan dan Jakarta beda 1 jam. Contoh, jam 23.00 di Jkt, di Taiwan pukul 24.00. 
Aku masuk kamar sekiar jam  01.30an dan tidur2 ayam ampe jam 04.00. Siap2 untuk 
Cau Khe (PR pagi) Thang Mi (Vajrayana Tiongkok) yang dipimpin oleh Master Shen 
Nuo. Perlu diketahui, tata tertib dan Vinaya di Thang Mi ketat sekali. Kita 
tidak bisa serampangan dan sembarangan. Di lingkungan wihara harus tertib dan 
Dharmasala adalah wilayah yang sakral. 

Kami Cau Khe selama 2 jam. Lalu makan pagi pada pukul 07.00. Saudara-saudara 
sedharma dr Taiwan makan cepat sekali.  Mereka kerjanya juga  cepat dan 
mengambil inisiatif untuk membantu apa yang perlu dibantu tanpa perlu 
diperintah. Makanya, mereka suka gregetan melihat anak-anak Mahasiswa dari 
Indonesia yang suka klemar-klemer dan belum mampu mengambil inisiatif.  Lebih 
banyak menunggu  dilayani ketimbang membantu apa yang perlu di bantu.

Usai makan  aku langsung  mempersiapkan peralatan2 untuk retret. Ruang untuk 
retret adalah di dalam tenda besar yang biasanya dipakai sebagai gudang. Fan 
Yin She letaknya di atas bukit yang agak jauh dari pusat keramaian dan juga 
merupakan sebuah wihara kecil yang sangat sederhana. Bisa dibilang reyot malah. 
Singkatnya, minim fasilitas. Betul2 sederhana seperti wihara-wihara kecil di 
daerah Tangerang, tapi dikelilingi oleh hutan kecil di bebukitan yang cukup 
asri. 

Tidurnya dipencar ke sana-sini karena wihara ini memang sangat sederhana. 
Dinginnya...brrrrrrrrrrrrrrr...dingin sekali. Aku terpaksa minjam jaket dan 
pakai 3 lapis pakaian selama retret berlangsung.   

Air juga kurang. Jadi kami harus betul2 hemat air dalam segala hal dan tidak 
mandi selama  beberapa hari. Aku sendiri baru mandi pas hari terakhir, tgl 24. 

Singkat kata, retret dimulai dengan 28 orang peserta. 17 pria dan 11 wanita 
dengan jadwal sbb:

03.30-04.00: Bangun dan bersih diri
04.00-04.55: Acara DJ
05.00-07.00: Cau Khe Thang Mi
07.00-08.00: Makan pagi 
08.00-12.00: Acara DJ
12.00-13.00: Makan siang
13.00-16.55: Acara DJ
17.00-19.00: Wan Khe (PR sore) Thang Mi
19.00-20.00: Makan malam (melihat kondisi para pesertanya, diputuskan untuk 
tidak attasila).
20.00-22.30: Acara DJ.

Acara retret berlangsung dengan baik meskipun harus ada penyesuaian di 
sana-sini karena faktor lapangan dan peserta seperti tidak ada meditasi senyum, 
meditasi peluk, dan presentasi membawa Dharma kembali ke tengah masyarakat 
hanya 1 sesi yaitu membahas pandangan.

Ini adalah retret yang paling tidak tertib yang pernah aku fasilitasi dan harus 
tersendat2 di sana-sini. Dibutuhkan kesabaran yang luar biasa dalam 
memfasilitasi para peserta  yang separuhnya yang lebih liar, santai, dan kurang 
kesadaran daripada  anak2  SMA  Dharmasuci. Terutama memang ada  peserta yg  
suka  bikin kisruh dengan menyambar, memotong pembicaraan,  dan memberikan 
komentar yang macam2 dgn tujuan melucu atau mempertanyakan pernyataan 
fasilitator karena dia memang bukan Buddhis. 

Melihat kondisi mereka, (yg Buddhis banyak yg kaga ngerti Dharma, 1 orang 
Kristen, 4 pengikut Laomu yg 2 di antaranya auban, sensitif,dan alot) maka, 
sesi yang paling banyak adalah pengupasan makalah. Setiap baris dalam makalah 
dibahas secara rinci dengan macam2 cara, kalo tidak, kaga nyambung. Dibutuhkan 
berbagai macam tipe penjelasan dan skilful means untuk memandu para peserta 
hingga nyambung dengan tujuan fasilitator.

Seperti retret2 pemula DJ lainnya, dari 1 hari ke hari berikutnya terlihat 
perubahan yang nyata pada para peserta. Pada hari kedua sudah terlihat 
perubahan yang nyata pada mayoritas peserta. Makalah Sinar Mentari dan Daun2 
Hijau dibahas selama 2 hari lengkap dengan praktik meditasi jalan, meditasi 
duduk, dan meditasi di luar kedua meditasi itu. Dan itu didrill terus. Pada 
hari ketiga aku memperingatkan bahwa aku akan mempersilakan peserta yg tidak 
mau memikirkan kepentingan orang banyak untuk  keluar dari retret demi 
kelancaran  retret  itu sendiri. Syukurlah itu tidak terjadi.

Karena Master Shen Nuo jg memberikan kami pembabaran Dharma (yg tentu saja 
sangat berguna utk aku secara pribadi), ada 4 jam dari porsi acara retret DJ 
yang diambil beliau, akibatnya, pada hari keempat, acara selesai jam 03an. 
Sebelum jam 05.00, sudah bangun lagi untuk Cau Khe. Sebagian peserta tumbang, 
tidak dapat (atau lebih tepatnya, enggan) bangun.

Pada hari terakhir, sesi diperpanjang hingga pukul 19.30 dan akhirnya retret 
yang unik ini selesai jg dengan hasil yang cukup memuaskan. Kami langsung buru2 
makan malam karena para peserta wanita harus segera dikembalikan ke wihara lain 
yang sebaiknya tiba di sana sekitar pukul 21.00. Besok paginya, jam 06.30 kami 
sudah harus turun bukit dengan jalan kaki menuju jalan raya untuk naik bus yang 
sudah dicarter untuk perjalanan keliling separuh Taiwan. Dan kesempatan itu 
digunakan aku utk  pendalaman Dharma dengan mereka. Ini akan aku share pada 
bagian sharing kedua.

Kembali mengenai retret kali ini,

Aku menilai para peserta not too good tapi juga not too bad. Asal sabar, 
skilful, dan konsisten utk bersama mereka, aku yakin mereka akan berubah dari 
anak2 yg egois, yg belum dapat menempatkan diri dan orang lain, tidak 
berinisiatif untuk membantu meskipun orang2 yg lebih tua melayani berbagai 
kebutuhan mereka, agak malas dan nyantai, dsbnya menjadi orang2 yg pengertian, 
berkesadaran, punya inisiatif, mau melayani, dsbnya. Perubahan mereka nyata 
sekali terlihat selama aku bersama dengan mereka dari tgl 20-27 Feb.

Pengalaman memfasilitasi retret ini semakin mengukuhkan aku bahwa mayoritas 
orang sebenarnya mau berubah meskipun mereka dicap tidak mau berubah oleh 
kebanyakan orang. Mereka mau berubah tapi seringkali kesulitan untuk berubah 
karena belum tahu caranya dan setelah tahu caranya, malas untuk melakukannya 
tanpa difasilitasi lebih lanjut secara konsisten. 

Berbekal prinsip ini dan juga semangat untuk berbagi karena aku paham, tidak 
ada penderitaan yang lebih besar daripada dibelenggu oleh energi kebiasaan dan 
pandangan yang keliru,  serta binatang saja bisa dilatih, apalagi manusia, maka 
aku berusaha sesabar mungkin, setoleran mungkin, seskilful mungkin, dan semampu 
mungkin untuk memfasilitasi para peserta yg meskipun memang rada liar, sulit, 
alot, dan rada bolot agar menjadi paham akan belajar, berlatih, dan berbagi 
Hidup berkesadaran. Syukurlah, terjadi perubahan yang nyata pada diri 
masing-masing peserta. Melihat perubahan2 pada adik2 ini sungguh aku merasa 
bahagia.

Dan tentu  saja, aku sendiri juga memperoleh banyak pelajaran dari pengalaman 
kali ini karena aku sendiri juga mengalami transformasi.

Itulah indahnya belajar, berlatih, dan berbagi hidup berkesadaran. Bukan hanya 
orang lain yg memperoleh manfaatnya, tapi di atas segalanya, diri sendiri juga 
memperoleh manfaat tersebut.

Dan oleh karena itu, aku sangat mensyukurinya.

Semoga segala jasa kebajikan yang kuperoleh dari aktivitas ini melimpah kepada 
semua makhluk. Dan semoga berkat kebajikan jasa-jasaku ini, mereka semua 
mencapai kebuddhaan.



Salam Perjuangan

JL

Pukul 01.00.
Fan Yin She,
Hsincu, Taiwan.


 
---------------------------------
Don't get soaked.  Take a quick peak at the forecast 
 with theYahoo! Search weather shortcut.

Kirim email ke