Sampai Kapan? Leila Ch Budiman, Psikolog
Seorang gadis cerdas menanyakan soal ini. Bekerja terus - Ris di Banjar Bu Lei yang baik, saya (25) anak tunggal dari ibu saya, sedangkan ayah saya sudah meninggal sejak umur saya belum genap 6 tahun. Ibu saya bekerja menganyam besek dari bambu dan pulang sekolah saya menukarkan besek-besek itu dengan beras. Meski hidup kami sederhana, kami bahagia. Keadaan ini berubah setelah, maaf, ibu saya tinggal bersama dengan pria lain, sebut saja S. Laki-laki ini tinggal bersama kami dan tidak bekerja. Saya sering dimaki-maki pria ini dan kalau saya menangis ibu saya ikut menangis. Kebahagiaan saya ada di sekolah. Saya sering mendapat peringkat satu dan guru-guru saya baik sekali kepada saya. Ibu saya bekerja siang-malam. Setelah saya tidur pun ibu masih bekerja, sedangkan S tidak bekerja. Akhirnya ibu saya tidak tahan lagi dengan keadaan ini dan menjual sebagian tanah kami untuk pergi ke Jakarta. Ketika itu saya di kelas IV dan saya sedih sekali, sebab saya masih sangat ingin meneruskan sekolah. Ibu membawa saya bersamanya dan ibu saya bekerja jadi pembantu rumah tangga. Untunglah kami dapat majikan yang baik dan saya boleh tinggal bersama, Setelah bekerja tiga bulan, kami pulang kampung, saya senang dijanjikan boleh sekolah lagi. Ternyata S masih ada di rumah kami dan akhirnya ada yang mengatakan ia membawa perempuan lain ke situ. Ibu marah sekali dan pergi ke Jakarta lagi membawa saya. Saya sangat sedih, tidak dapat sekolah lagi. Seperti anak-anak lain, saya juga punya cita-cita. Saya hanya bisa melihat anak-anak lain pergi ke sekolah dengan seragam sekolahnya. Setelah mengumpulkan cukup uang, kami pulang dan saya sekolah lagi, tetapi terputus lagi sebab uang habis. Sebab sekolah sering terputus-putus sampai harus mengulang kelas, saya memutuskan tidak melanjutkan sekolah lagi. Guru-guru saya sangat menyayangkan keputusan ini. Sejak saat itu kami berkelana di Jakarta menjadi pembantu. Orang sering heran jika tahu umur saya yang masih begitu kecil dan sudah bekerja. Saya berumur 10 tahun. Lama-kelamaan ibu saya tidak memerhatikan saya lagi, ia lebih memerhatikan teman-temannya. Kalau saya menelepon ke rumah tempat ibu bekerja, dia marah-marah dan mengatakan saya mengganggu pekerjaannya. Begitulah saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pekerjaan saya terasa tidak habis-habisnya, kadang saya merasa lelah sekali, sebab tidak ada waktu untuk diri sendiri. Tahun 1998 ibu saya kena stroke, syukurlah dapat sembuh, meski tidak seperti sediakala lagi dan tidak dapat bekerja lagi. Singkatnya saya harus bekerja keras untuk juga menolong ibu. Kalau pulang kampung, saya sedih melihat rumah bambu kami yang semakin usang berlantaikan tanah. Kalau hujan semua menjadi basah dan berlumpur. Kadang-kadang saya merasa jenuh sekali, saya lelah sekali bekerja, tidak dapat seperti orang-orang lain yang masih dapat membeli keperluannya. Saya mengirim penghasilan saya supaya ibu saya dapat hidup. Ibu pun berubah, sekarang sering marah-marah. Saya merasa jenuh, sampai kapan saya harus begini? Ris yang baik, Saya sangat bersimpati melihat nasib Anda yang malang. Kehidupan ini telah memperlakukan Anda dengan keras, saya kagum Anda masih tabah dan bertahan. Ris, dengan pendidikan Anda yang tidak selesai SD, memang sulit mengharapkan pekerjaan yang baik. Pekerjaan yang baik butuh keahlian dan keahlian butuh pendidikan. Memang orang-orang miskin seperti Anda pada dasarnya terlibat ke dalam apa yang disebut "lingkaran setan kemiskinan". Karena tidak ada keahlian, Anda harus bekerja penuh waktu dengan upah kecil sehingga tidak punya waktu dan modal untuk memperbaiki hidup Anda, karena itu menjadi miskin dan begitu seterusnya. Jadi, lingkaran setan ini harus diputus untuk berubah. Hidup manusia selalu berubah dan untuk membuat perubahan ke arah yang kita inginkan, kita harus melakukan sesuatu, betapa pun kecilnya usaha itu. Usahakan mendapatkan keahlian/pendidikan atau menjadi wiraswasta kecil-kecilan. Ke salah satu jalan inilah Anda harus arahkan hidup Anda. Usul saya, pertama, meski hanya sedikit usahakan menyisihkan uang gaji Anda. Uang itu kelak untuk modal usaha atau untuk membiayai pendidikan singkat menguasai suatu keahlian. Tentu saja yang saya maksud adalah keahlian praktis yang singkat seperti kursus jahit, masak, gunting rambut, atau mengetik. Saya kenal mantan pekerja rumah tangga yang menjadi penjahit laris di desanya. Mesin jahitnya hadiah dari majikannya yang sangat baik sebab bersimpati pada usaha asisten rumah tangganya yang sangat rajin dan giat berlatih menjahit dalam waktu senggangnya. Padahal kursus jahitnya hanya seminggu sekali. Kedua, sisihkan waktu untuk belajar sesuatu. Contoh yang mudah dipetik, belajar keahlian dari majikan Anda atau dari majikan tetangga. Catatlah resep makanan sedap atau kue kecil yang digandrungi seluruh keluarga, siapa tahu ini dapat jadi modal keahlian buat buka warung kopi kelak. Meski hanya satu macam, kalau istimewa, tetap dapat berhasil. Di Solo ada penjual serabi yang jos, sangat laris. Di Semarang di beberapa tempat ada "lumpia semarang asli" yang hanya menjual lumpia. Tentu saja yang paling asli, atau yang memelopori, pada awalnya dirasakan enak jadi laris lalu banyak yang meniru. Di Salatiga ada tenda kecil tempat seorang bapak (sekarang digantikan istrinya) yang hanya menjual soto pagi hari (Soto Esto) dan laris habis. Jadi, jangan kecil hati untuk mempelajari sesuatu. Tiga, usahakan mendapat majikan yang baik dan mau mengerti. Kalau sang majikan terlalu menguras tenagamu, sampai malam pun tidak ada istirahatnya, ganti majikan saja. Masih banyak majikan yang baik, yang lebih manusiawi. Teman-teman saya, termasuk saya sendiri, membebaskan "asisten" rumah tangga kami setelah jam tertentu. Saya membebaskannya setelah pukul 15.00. Saya sudah merasa beruntung sekali separuh hari ditolong. Di luar negeri tiap pertolongan rumah tangga dihitung per jam dan hari Minggu upah dinaikkan atau libur. Bukankah para majikan pun butuh bergerak di rumahnya buat mengurangi penumpukan lemak dan gula darah? Empat, seringlah melihat dari segi baiknya. Yaitu meski berat, Anda tetap dapat menolong ibu di kampung, anggap saja pekerjaan fisik ini aerobik yang menyehatkan badan, bersyukurlah Anda masih mempunyai pekerjaan, masih dapat makan dan penginapan, masih dapat membantu majikan yang juga sibuk dengan pekerjaannya. Bila Anda terpaku pada segi yang menyedihkan saja, sikap ini akan menggerogoti kesehatan tubuh dan jiwa Anda. Dan tentu saja juga jangan lupa mohon pertolongan Allah yang Maha Pengasih. Saya doakan sukses untuk Anda. Nyana Bhadra Tibetan Language & Buddhist Philosophy Library of Tibetan Works & Archives Centre for Tibetan Studies & Researches Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215 Himachal Pradesh - I n d i a "May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva --------------------------------- Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
