Popularitas dan nama yang tercemar tidak ada ukuran standar, biarkan itu apa adanya. Sukses dan gagal adalah takdir seseorang, jangan salahkan orang lain. Jika kita dapat belajar menjadi rendah hati, pikiran kita akan tentram/jernih. Dengan tidak ada kemelekatan yang berlebih-lebihan, sifat kita menjadi murni.
------------------ Terdapat orang baik dan orang jahat. Bagaimana dapat mengetahui mana orang baik di antara orang jahat? Tidak ada aturan baku. Penjahat akan menuduh orang baik atas perbuatan buruknya. Orang yang beriman akan memberikan pujian kepada penjahat yang berbuat kebaikan. Ketika seseorang mendapat banyak pujian, itu akan mengundang kecemburuan dan caci maki. Di mata kita orang tersebut mulia jika kita percaya padanya, mengertinya, menghormatinya dan dia adalah Buddha bagi kita. Bagaimanapun, jika kita tidak mengertinya, tidak mempercayainya, lalu di hati kita, dia adalah seorang monster. Lagipula Konfusius memandang setiap orang sebagai orang yang beriman, sedangkan penjahat melihat setiap orang sebagai bajingan. POPULARITAS DAN NAMA YANG TERCEMAR TIDAK ADA UKURAN STANDAR, BIARKAN ITU APA ADANYA. Kadang-kadang popularitas maupun nama yang tercemar akan hilang dengan sendirinya. Janganlah berlebihan mencari perhatian tentang bagaimana orang lain menilai kita, baik maupun buruk. Jika orang lain memuji kita, itu bukan berarti kita adalah orang baik, jika orang lain mengkritik kita, itu tidak berarti kita adalah orang jahat. Beberapa orang mengkritik orang lain dengan tujuan yang tidak baik. Apa yang dapat anda lakukan tentang ini? Sang Buddha saja, dalam perjalanan hidupnya, selalu dikritik dan dilukai oleh sepupunya, Devadatta. Dengan kritikan yang terus diberikan, malahan hal itu membuat Sang Buddha lebih memiliki cinta kasih dan belas kasihan. Tanpa gelap, kita tidak pernah menghargai cahaya. Tanpa kejahatan, kita tidak menghargai kebaikan. Tanpa penjahat, kita tidak dapat menghargai orang yang baik. SUKSES DAN GAGAL ADALAH TAKDIR SESEORANG, JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN. Ketika sesuatu terjadi dengan lancar, semuanya berjalan dengan baik. Saat kita mengalami kemunduran, dan kemudian itu terus beruntun menimpa kita, tidak peduli apapun situasinya, kita tidak seharusnya menyalahkan orang lain. Tidak pada orang tua, tidak juga kepada Tuhan. Kita harus mengerti bahwa situasi sekarang ini adalah buah karma dari apa yang kita tanam di masa lampau. Kita harus menyadari bahwa nasib dikontrol oleh kita dan ditanggung oleh kita sendiri. Dan itu bersandar tepat di pundak kita. JIKA KITA DAPAT BELAJAR MENJADI RENDAH HATI, PIKIRAN KITA AKAN TENTRAM/JERNIH. Pada saat kita mengenal sifat dasar, kita akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melangkah maju dan kapan waktu untuk berlatih. Kadang-kadang kita perlu bertahan dalam menghadapi masalah, kadang- kadang kita perlu mengambil tempat belakang. Kuncinya adalah melakukan apa yang terbaik di setiap saat sehingga kita akan merasakan kemudahan pada diri kita sendiri. DENGAN TIDAK ADA KEMELEKATAN YANG BERLEBIH-LEBIHAN, SIFAT KITA MENJADI MURNI. Dalam kehidupan sosial yang rumit ini, kita memerlukan kedisiplinan diri. Kita tidak perlu melekat atau ketagihan akan godaan-godaan duniawi. Jika kita tidak membiarkan lingkungan kita terpengaruh sifat kebuddhan, dan kerja keras untuk membangun sebuah lingkungan bersih di dunia ini, hal ini akan menjadikan dunia jauh lebih indah untuk ditempati.*** --------- sumber: Suara Bodhidharma, edisi 02/11/II/2001; Ven.Master Hsing Yun, "Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai University Press, USA, 2000.
