Pintu-pintu Dharma mungkin banyak, tetapi pikiran umat tenang.
Lihatlah burung-burung, mereka mengetahui kapan meninggalkan sarang
dan
kapan mereka harus kembali.
Adalah lebih baik menjadi tanpa keinginan.
Adalah memerlukan moral yang lebih tinggi untuk mundur daripada
berjalan
terus.

--------------

Pintu-pintu Dharma mungkin banyak, tetapi pikiran umat (devotees)
tenang.
Banyak orang di dalam pintu Dharma, walaupun selalu datang dan pergi
dan
sibuk dengan pekerjaannya, menjaga pikiran mereka sangat tenang.
Pikiran-pikiran mereka tenang tetapi anggota tubuh mereka bekerja.
Lihatlah
pada dunia kita mungkin melihat orang-orang yang kelihatannya duduk
dengan
tenangnya, tetapi permasalahan, kekuatiran dan kemelekatan di dalam
pikiran
mereka berlipat ganda. Orang-orang tersebut damai pada anggota tubuh
tetapi
tidak di pikiran.

Dalam Sangha, ada banyak kumpulan bhiksu-bhiksu yang mengadakan
perjalanan
untuk menyebarkan Dharma dan untuk kepentingan makhluk hidup.
Kelihatannya
kegiatan tersebut tiada habisnya tetapi mereka sering mengatakan bahwa
mereka tidak pernah meninggalkan tempat di mana mereka berasal. Dalam
Buddhadharma kita tidak seharusnya melihat penampilan luar orang tanpa
melihat ke dalam pikirannya, juga tidak seharusnya kita melihat
pekerjaan
mereka tanpa melihat mereka. Seseorang yang dapat membuat sesuatu
kelihatan
mudah sementara sedang menjalani jadwal yang padat, diperlukan
pikiran yag
tenang dan damai.

Lihatlah burung-burung, mereka mengetahui kapan meninggalkan sarang
dan
kapan mereka harus kembali. Di awal pagi hari, burung-burung akan
meninggalkan sarangnya untuk mencari makanan. Saat menjelang sore,
kita
melihat mereka kembali ke sarangnya untuk bermalam. Burung-burung
dapat
menemukan tempat perlindungan di antara sarang-sarang mereka. Dimana
kita
dapat menemukan tempat perlindungan kita? Dalam dunia ini, ada banyak
orang
sibuk datang dan pergi, tanpa mengetahui kapan harus berhenti. Mereka
sibuk
mencari kekayaan dan popularitas, bukannya pemberhentian terakhir
kehidupan
mereka. Sungguh kasihan!

Adalah lebih baik menjadi tanpa keinginan. Saya tidak mengejar
ketenaran,
jadi saya tidak tergantung pada orang lain. Dalam jalan ini karakter
saya
mulia secara alami. Saya tidak menginginkan kekayaan karena dalam
diri saya
sendiri memiliki harta karun yang tak akan habis, kebijaksanaan dan
bakti
yang melimpah. Tidak ada rasa kehilangan dalam dunia saya. Saya hanya
kekurangan hasrat diluar diri (external craving). Saya menikmati
memberi dan
menjadi dermawan. Tanpa keinginan seseorang memiliki moral yang
tinggi.
Keinginan membawa keserakahan, keinginan bukanlah bentuk tertinggi
dari
kegembiraan Dharma.

Adalah memerlukan moral yang lebih tinggi untuk mundur daripada
berjalan
terus. Beberapa orang hanya mengetahui bagaimana maju ke depan.
Mereka tidak
mengetahui bahwa sekali-sekali, seseorang harus mundur. Jangan bingung
antara mundur dengan sikap pasif. Lihatlah harimau yang menakutkan,
dia
mundur sebelum menerkam. Kita harus membungkukkan badan sebelum kita
dapat
melompat. Adalah lebih mudah mendorong ke depan, tetapi memerlukan
banyak
disiplin untuk mundur dan membiarkan orang lain yang maju pertama.
Dengan
demikian, kita harus ingat bahwa kita harus mundur sebelum kita dapat
maju.
Pemimpin demikian tidak hanya memperbesar kejujuran tetapi juga
menolong
kita maju ke depan di atas jalan Bodhisattva.***

---------
sumber: Suara Bodhidharma, edisi 10/III/2003 (34); Ven.Master Hsing
Yun,
"Cloud and Water", An Interpretation of Cha'an Poems, Hsi Lai
University
Press, USA, 2000.



Kirim email ke