Bro Hanry,
Awam 'menamai' seseorang adalah bhikku, yang baik atau tidak baik, melalui 
penampilan fisik semata....tidak jarang ada orang yang 'memanfaatkan'
kondisi ini demi keuntungan pribadi...Jadi sebenarnya dengan joke tsb saya 
tidak bermaksud melecehkan seseorang tapi mari kita mawas diri....agar 
lebih rendah hati.....buat yang memakai 'jubah kuning' tidak perlu merasa 
'lebih tinggi' kesuciannya, dan yang tidak pakai 'seragam kuning' juga 
tidak perlu merasa 'lebih rendah' kesuciannya karena kesucian hati dan 
pikiran BUKAN ditentukan oleh 'jubah' melainkan oleh perilaku, lahir dan 
batin, diri seseorang.

Bung Moderator, terimakasih posting saya tidak di'breidel:-) Tapi saya 
mengerti kalau pandangan netters tidak sama. Demi kedamaian di milis ini, 
mohon dipertimbangkan untuk menghentikan masalah 'joke' ini. Terimakasih.

salam damai,
tda

On Fri, 9 Mar 2007, hanry uttamo wrote:

> Saya bknnya ngebelain lucu-lucu an tersebut. Kalau yg disebut "monkey' itu 
> memang bhikkhu yg menyimpang dari Vinaya berat atau Parajika , secara 
> otomatis ybs bukan seorang Bhikkhu lagi.
>
> Zhuge Liang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Nah loe .. nah loe ...
> Serem 'kan ceritanya?
> Ih ... takuuut ...
>
> Makanya kita kudu ati-ati tuh, Pak.
> Gara-gara melucu, nanti bisa terlahir kembali jadi ini lah ... jadi itu lah 
> ...
>
> Wah ... wah ... wah ...
>
> Zhuge Liang
>
> From: nyana bhadra
> Sent: Wednesday, February 14, 2007 7:08 PM
> To: [email protected]
> Subject: [Dharmajala] Re: Bhikhu Gadungan
>
> Dear all,
> "Ketidak-tahuan" memang sangat mengerikan, Buddha pernah bersabda, ketika 
> ditempat keramaian,
> jagalah ucapanmu; ketika sedang sendirian jagalah pikiran batinmu.
>
> Nge-joke memang boleh-boleh saja, dan itu hak semua orang, namun kalau 
> nge-joke dengan cara
> demikian sangat2 lah ber-efek buruk, apalagi terhadap sangha.
>
> Berikut ini adalah salah satu kutipan cerita yg diterjemahkan dari "Sutra of 
> the Wise & the
> Foolish; Ocean of Narrative [Uliger un-dalai ]" yang diterbitkan oleh Library 
> of Tibetan Work &
> Archives, Dharamsala, India; Kisah ke 41, judulnya "Madu Sempurna"
>
> Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, dan jangan memindahkan 
> semua label 'kebun
> binatang' ke mulut kita, karena sungguh-sungguh berbahaya.
>
> Salam dari Dharamsala, India
>
> Madu Sempurna
> Demikian yang telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha sedang berdiam di 
> Kota Sravasti di Biara
> Jetavana, Taman Anathapindika. Pada saat itu di negeri itu hiduplah seorang 
> brahmin yang kaya raya
> bernama Sincir. Tanpa anak, dia pergi ke enam guru yang berbeda dan bertanya 
> apakah dia akan
> memiliki seorang putra atau tidak. Para guru memberitahu dia: "Ini bukanlah 
> takdirmu di hidup ini
> untuk memiliki seorang putra. "Brahmin kembali ke rumah, meletakkan jubahnya 
> yang tua dan berdebu
> itu, duduk dalam kesedihan berpikir: "Saya tidak ditakdirkan memiliki seorang 
> putra. Jika saya
> meninggal, raja akan menyita kekayaanku."
> Istri brahmin telah membuat pertemuan dengan biksuni Buddhis yang sehari 
> datang ke rumah brahmin
> untuk berkunjung. Melihat brahmin begitu sedih, dia bertanya kepada istrinya 
> ada permasalahan apa.
> Istrinya menjawab: "Kami tidak memiliki anak dan keenam guru itu memberitahu 
> suamiku bahwa ini
> adalah takdir kami. Inilah alasan suamiku merasa sangat sial. "biksuni itu 
> berkata: "Guru-guru itu
> tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana mungkin mereka mengetahui hal semacam 
> itu? Tetapi Buddha,
> Tathagata, sekarang ada di dunia, karena dia mengetahui masa lalu dan masa 
> depan dengan sempurna,
> mengapa engkau tidak pergi kepadaNya dan bertanya apakah engkau akan memiliki 
> seorang putra atau
> tidak?"
> Ketika biksuni ini telah pergi, istri brahmin memberitahunya apa yang dia 
> katakan. Mengenakan
> jubah yang baru, sang suami pergi menghadap Buddha dan bertanya: "Bhagava, 
> apakah takdir dalam
> hidupku ini memiliki seorang putra atau tidak?" Buddha berkata: "Brahmin, 
> engkau akan memiliki
> seorang putra, dan putra itu akan diberkahi dengan kebajikan. Ketika dia 
> dewasa, dia akan
> menginginkan untuk menjadi biksu. "Mendengar hal ini, brahmin sangat 
> bergembira dan berkata: "Jika
> saya memiliki seorang putra, tentu dia boleh menjadi seorang biksu? 
> Kesedihanku sekarang telah
> berakhir. "Dia kemudian mengundang Buddha dan Sangha ke rumahnya. Bhagava 
> menyetujuinya dengan
> diam.
> Hari berikutnya pada saat makan, Buddha dan Sangha datang dan duduk di tempat 
> duduk yang telah
> dipersiapkan untuk mereka. Brahmin dan istrinya menghormati mereka dan 
> melayani mereka dengan
> berbagai macam makanan. Ketika mereka selesai makan, mereka kembali, dan 
> sepanjang perjalanan tiba
> di sebuah padang rumput dengan mata air yang bersinar dan bersih. Buddha dan 
> para biksu duduk
> disampingnya dan mengambil air dengan patta mereka, ketika seekor kera muncul 
> dan meminta pattanya
> Ananda, karena takut kera itu akan merusak pattanya, Ananda menolak untuk 
> memberikan pattanya.
> Buddha berkata: "Ananda, berikanlah pattamu kepada kera itu. "Ketika Ananda 
> memberikan itu
> kepadanya, kera itu memanjat sebuah pohon dan kembali dengan mangkuk yang 
> penuh berisi madu, yang
> dia persembahkan kepada Buddha. Ketika Buddha berkata: "Pisahkan kotoran dari 
> madu itu," kera itu
> memindahkan serangga-serangga mati yang ada di madu itu dan kembali 
> memberikannya kepada Bhagava.
> Buddha berkata: "Campurkan air dengan madu itu dan saya akan meminumnya. 
> "Kera itu kemudian
> mencampurkan air dengan madu itu dan kembali memberikannya kepada Buddha, 
> beliau mencicipinya dan
> membaginya juga kepada para biksu. Kera itu melompat naik dan turun dengan 
> senang, berlari ke
> sebuah jurang, melompat ke bawah, dan meninggal. Ketika kera mati, dia 
> memasuki kandungan istri
> brahmin yang tak memiliki anak itu dan ketika bulan telah terpenuhi, seorang 
> putra yang tampan dan
> menarik lahir. Pada saat anak itu muncul di dunia, semua tempayan di rumah 
> brahmin itu dipenuhi
> oleh madu. Brahmin dan istrinya bersukacita dan membawa seorang peramal untuk 
> mengamati anak itu.
> Ketika peramal itu bertanya tanda-tanda apa yang muncul ketika bayi ini 
> dilahirkan dan diberitahu
> bahwa semua wadah di dalam rumah itu dipenuhi oleh madu, anak itu diberi nama 
> 'Madu Sempurna.'
> Ketika anak itu tumbuh dewasa, dia memohon izin untuk menjadi seorang biksu. 
> Orang tuanya menolak
> dan anak itu memberitahu mereka: "Saya tidak dapat hidup di tempat ini yang 
> tidak memiliki
> kedamaian. Saya pasti mati." Brahmin dan istrinya kemudian merundingkan hal 
> ini. Mereka mengingat
> Buddha telah meramalkan bahwa ketika seorang putra telah lahir, dia akan 
> menjadi biksu. Mereka
> setuju bahwa jika mereka tidak memberinya izin dia pastilah mati, dan 
> memberikan izin mereka
> kepada sang anak. Dalam keyakinan dan kebahagiaan anak laki-laki ini pergi 
> kepada Buddha,
> menundukkan kepalanya di kakiNya dan memohon untuk menjadi biksu. Ketika 
> Buddha berkata: "Selamat
> Datang, anakku," rambut dan jambangnya rontok dan dia menjadi seorang biksu. 
> Ketika Bhagava
> mengajarkannya Empat Kebenaran mulia, batinnya menjadi terbebaskan dengan 
> sempurna, hawa nafsunya
> terhenti, dan dia menjadi murni. Ketika para biksu pergi kesana kemari untuk 
> menolong makhluk
> hidup, mereka memperhatikan bahwa kapanpun biksu baru ini lelah dan haus, dia 
> akan melempar
> pattanya ke atas udara dan itu akan kembali kepadanya penuh dengan madu. Oleh 
> karena itu Ananda
> berkata kepada Buddha: "Bhagava, karena kebajikan masa lalu apa sehingga 
> biksu 'Madu Sempurna'
> bergabung dengan Sangha dan dengan cepat menjadi arahat? Apa alasan untuk hal 
> ini?"
> Buddha berkata:"Ananda, apakah engkau masih ingat dengan brahmin yang bernama 
> Sincir yang kita
> kunjungi lalu?" Ananda berkata: "Ya, Bhagava, saya mengingat dia." Buddha 
> berkata: "Ananda, apakah
> engkau ingat bagaimana setelah kita memakan makanan persembahan dan kembali, 
> kita beristirahat
> disamping mata air di sebuah padang rumput dan seekor kera mengambil pattamu? 
> Kera itu memenuhinya
> dengan madu dan mempersembahkannya kepadaku dan saya minum madu itu dan 
> membagikannya kepada para
> biksu. Kemudian kera itu menari dengan senang dan melompat ke sebuah jurang 
> dan meninggal. "Ananda
> berkata: "Ya, Bhagava, saya ingat." Buddha berkata: "Ananda, kera yang 
> mempersembahkan madu adalah
> biksu itu, 'Madu Sempurna'. Karena, ketika dia bertemu Buddha, dia 
> bersukacita dan mempersembahkan
> madu dengan pikiran bahagia, dia terlahir sebagai putra seorang perumah 
> tangga, tampan dan
> menarik, sekarang menjadi seorang biksu, dan telah menghentikan hawa nafsu."
> Kemudian Ananda berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah, beranjali, dan 
> berkata: "Bhagava,
> perbuatan jahat apa yang telah dilakukan sebelumnya sehingga dia terlahir 
> sebagai seekor kera?"
> Buddha berkata: "Ananda, di masa lampau, ketika Buddha Kasyapa datang ke 
> dunia ini, seorang biksu
> muda yang baru ditahbiskan melihat biksu lainnya melompat menyeberangi sebuah 
> saluran air dan
> berkata kepadanya: 'biksu, engkau melompat seperti seekor kera!' biksu yang 
> lain berkata: 'Engkau
> tidak mengenalku.' biksu muda itu berkata: 'Apa maksudmu, saya tidak 
> mengenalmu! Engkau adalah
> salah satu biksu Buddha Kasyapa.' biksu kedua menjawab: 'Jangan membuatku 
> tertawa. Saya bukan
> seorang biksu dalam nama saja. Saya telah mencapai empat buah seorang biksu.' 
> biksu muda itu
> menjadi takut dan rambutnya berdiri. Dia berlutut, beranjali, dan berkata: 
> 'Oh biksu, saya
> mengakui kesalahan telah menertawakanmu. Maafkan saya, saya mohon padamu. 
> 'Karena dia mengakui
> kesalahannya, dia tidak terlahir ke neraka. Tapi karena dia menertawakan 
> biksu itu, dia terlahir
> 500 kali sebagai seekor kera. Dengan mempertahankan sumpah sebelumnya, dia 
> sekarang bertemu
> denganKu, menjadi biksu dan semua penderitaannya telah berakhir. Ananda, 
> biksu Madu Sempurna
> adalah biksu muda yang menertawakan yang lain."
> Ketika Buddha telah berkata demikian, Ananda berkata: "Dengan mengabaikan 
> perbuatan tubuh, ucapan,
> dan pikiran, biksu ini gagal menjaga ucapannya dan harus menderita karena 
> alasan itu." Buddha
> berkata: "Ya, Ananda, itu seperti yang baru engkau katakan." Kemudian, ketika 
> Bhagava telah
> mengajarkan Empat Kebenaran dan menjelaskan bahwa ketika perbuatan badan 
> jasmani, ucapan, dan
> pikiran dipurifikasi ketidakmurnian pikiran dibersihkan, beberapa menjadi 
> Pemenang Arus, beberapa
> menjadi Sekali Kembali Lagi, beberapa menjadi Tidak Pernah Kembali, beberapa 
> arahat, dan beberapa
> mencapai pikiran awal pencerahan sempurna. Semua berkeyakinan dan bersukacita.
>
> --- In [email protected], "Tirta D. Arief" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Bhikku yang taat pada vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut MONK....
>> Bhikku yang menyimpang dari vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut
>> MONKEY.......:-)
>>
>> salam,
>> tda
>>

Kirim email ke