Kompas, Rabu, 14 Maret 2007                                                     
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                      
 Kemiskinan
 Kurang Makan di Lumbung Pangan 
 
Agustinus Handoko
  Buruh tani adalah keterpaksaan hidup yang harus diambil oleh ratusan warga 
Desa Sindangsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kalau ada 
pilihan hidup yang lebih baik, mereka akan mencarinya. Menjadi buruh tani 
berarti harus bersiap menerima apa adanya kehidupan, tanpa bisa menawar. 
Di tengah persawahan yang subur, para buruh tani itu harus rela menerima bagian 
yang tak seberapa. Karena hasil yang diperoleh sangat kecil, Ukar (60), warga 
Kampung Sukamukti, misalnya, sejak Januari lalu mulai kesulitan membeli bahan 
makanan. 
Selain gabah yang diperolehnya pada masa panen tahun lalu sudah habis, musim 
tanam yang mundur membuatnya tak punya pekerjaan lagi di sawah. Dan itu artinya 
ia dan keluarganya tak punya penghasilan. 
Untuk menyambung hidup, ia harus bertahan dengan makan singkong atau talas. 
Makan nasi hanya bisa dilakukan sekali sehari supaya beras yang masih tersisa 
cukup untuk hari-hari berikut. 
Kendati menjadi bagian penting dalam proses produksi padi, Ukar dan ratusan 
buruh tani lainnya di Desa Sindangsari harus menghadapi kenyataan bahwa mereka 
sendiri kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 
Kondisi lebih buruk dialami Kardiya (47), warga Kampung Anyar. Dengan kondisi 
fisiknya yang lemah karena sakit, dia harus menghidupi istri dan kedua anaknya. 
Istrinya makin lama makin kurus, bukan hanya karena penyakit paru-parunya, 
tetapi juga kekurangan makan. 
Sebelum mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Cianjur, Kardiya dan 
keluarganya bahkan sempat tak makan nasi selama tiga hari. Selama itu, mereka 
terpaksa makan singkong yang diminta dari tetangga. 
Uluran tangan pemda  
Para buruh tani di Desa Sindangsari memang hanya bisa mengharapkan pemasukan 
tatkala para petani kaya pemilik sawah membutuhkan tenaga massal untuk mengolah 
sawah dan memanen padinya. Saat kemarau panjang tahun lalu, para petani kaya 
itu tak bisa mengolah sawah karena tak terjangkau irigasi yang sudah beberapa 
tahun belakangan ini rusak. 
Saat para petani kaya tak mengolah sawah mereka, saat itulah petaka datang 
kepada para buruh tani. Lantaran tak ada pekerjaan di sawah, mereka tak 
mendapat penghasilan untuk hidup sehari-hari. Sebagian buruh tani sudah mencoba 
kerja informal, seperti memulung dan berjualan di Waduk Cirata. Sedangkan 
sebagian besar buruh tani lainnya, terutama yang berusia 50 tahun lebih, harus 
menelan dua kali keterpaksaan. Mereka tak bisa jauh meninggalkan tempat hidup 
mereka untuk bekerja lain karena sudah tak kuat lagi. 
Kelompok buruh tani ini tersebar di beberapa kampung, antara lain Anyar, 
Nyalindung, Joglo, Sukatani, dan Sukamukti. Saat masa puncak krisis daya beli 
pada Februari hingga awal Maret ini, makin banyak buruh tani dari kelompok ini 
terpaksa makan nasi sekali sehari. Selebihnya, mereka makan singkong atau 
talas. 
Dari catatan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Sindangsari D Hidayat 
HS, ada sedikitnya 190 buruh tani berusia lebih dari 50 tahun yang tak bisa 
bekerja sama sekali selain bekerja di sawah. Buruh tani lain yang lebih muda, 
yang juga menganggur, tak tercatat lagi karena jumlahnya tak kalah banyak. 
Kelompok buruh tani dari usia lanjut itulah yang mendapat prioritas bantuan 
bahan makanan begitu kabar krisis daya beli sampai ke Pemkab Cianjur. Data yang 
sampai ke pemkab memang simpang siur dan tak sebanyak fakta di lapangan. 
Asisten Daerah II Kabupaten Cianjur Kasmiri mengatakan, bantuan bahan makanan 
sudah didistribusikan bagi warga yang benar-benar membutuhkan. 
Bukan lagi pemilik  
Kondisi warga yang kini mendapat bantuan makanan itu memang beranjak lebih baik 
dan kembali bisa makan nasi tiga kali sehari. Namun, kalau diingat bahwa 
Cianjur adalah salah satu lumbung padinya Jawa Barat, bukankah ini sebuah 
ironi? 
Anehnya, ancaman krisis pangan itu terjadi setiap tahun. Lalu, ada apa dengan 
Cianjur?  
Kalau ditelusuri, inti permasalahan sebenarnya adalah pada kenyataan bahwa 
mereka tidak lagi bertani di lahan sendiri. Mereka sekadar menjadi buruh dari 
orang kaya, umumnya juga bukan orang Cianjur, yang sudah membeli sawah-sawah 
mereka. 
Laju peralihan kepemilikan lahan kepada warga luar Cianjur memang tergolong 
tinggi. Di Desa Sindangsari saja, dari luas lahan sawah produktif 180 hektar, 
60 persen merupakan milik para petani kaya dari luar Cianjur, seperti Bandung, 
Bogor, bahkan Jakarta. 
Di desa-desa lain di Kecamatan Ciranjang, laju peralihan kepemilikan lahan juga 
tak kalah cepatnya. Di Desa Cibiuk, misalnya, lahan sawah milik warga tinggal 
setengah dari seluruh lahan sawah yang ada di sana sekitar 200 hektar. 
Menurut para petani setempat, alih kepemilikan lahan itu sudah mulai terjadi 
sejak tahun 1990-an. Peralihan kepemilikan itu tak saja membuat banyak warga 
Cianjur hanya menjadi buruh atau penonton saat panen, tetapi juga membuat lahan 
sawah mudah beralih fungsi. 
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, selama tahun 
2001-2005, luas persawahan menyusul 126 hektar. Lahan sawah itu beralih fungsi 
untuk berbagai keperluan: 59 hektar dibebaskan oleh pemerintah daerah dan 67 
hektar dibebaskan pihak swasta untuk kepentingan pembangunan sejumlah proyek 
dan infrastruktur. 
Salah satu solusi yang sangat mungkin untuk mengantisipasi krisis pangan pada 
tahun berikutnya hanyalah melalui pemberdayaan masyarakat lewat pembekalan 
keterampilan. Camat Ciranjang Mahmudin menyatakan sudah menyiapkan program 
pendampingan berupa pembekalan keterampilan. 
Untuk itu telah dirintis kerja sama dengan Dewan Koperasi Indonesia Cianjur. 
Hanya, kapan dimulainya dan siapa saja yang bisa dan berhak ikut pelatihan 
sampai sekarang masih tanda tanya.... 

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke