Nyepi, Meningkatkan Rasa Empati

 
 
Brahmacarya Bhargawa Chaitania

  
Musibah yang terjadi silih berganti merata di seluruh negeri, di desa maupun 
kota, seakan meluluhlantakkan sendi kehidupan.

  
Banjir merendam permukiman tanpa memandang kaya atau miskin. Banjir belum 
surut, kita dikejutkan kecelakaan pesawat terbang dan angkutan laut.

 
Konflik horizontal di beberapa daerah masih menimbulkan bekas luka yang belum 
tersembuhkan. Sementara perekonomian kita belum menunjukkan peningkatan yang 
signifikan, di mana rakyat kecil kesulitan mendapat bahan pokok dengan ditandai 
antrean panjang memperoleh beras murah dalam operasi pasar.

 
Bencana Yogya dan lumpur Lapindo seolah menjebol tanggul kesabaran yang 
memerlukan penyelesaian serius. Keadaan ini seolah menggambarkan Bumi Pertiwi 
tak henti dilanda bencana.

 
Alam tidak pernah memberi masalah. Kita hanya dihadapkan situasi yang berubah.

  
Fenomena alam yang terjadi bukan suatu masalah jika kita bisa melihatnya dengan 
kearifan. Alam tidak pernah memberi kita masalah apalagi bencana, kita hanya 
dihadapkan pada situasi.

 
Alam dan irama manusia

  
Dalam situasi yang sama, setiap orang berbeda cara menerimanya. Misalnya banjir 
bagi sebagian orang yang rumahnya terendam merasa tidak berdaya dan tidak 
nyaman, dia merasa menjadi korban. Tetapi bagi penarik gerobak merasa banjir 
adalah suatu keadaan yang bisa dimanfaatkan untuk mengais rezeki dengan 
mengangkut barang dan orang ke tempat lebih aman.

 
Semua terkena dampak banjir baik langsung maupun tidak langsung. Bagi 
anak-anak, genangan air dipakai sebagai arena bermain. Jadi, sebenarnya siapa 
yang menjadi korban?

 
Orang yang tidak bisa menerima situasi dan mengondisikan keadaan untuk lebih 
baik merasa paling menjadi korban. Dia merasa alam tidak lagi bersahabat. 
Padahal, sebenarnya alam senantiasa mengikuti irama manusia.

 
Dalam interaksinya, manusia bisa memengaruhi alam dan alam juga bisa 
memengaruhi manusia. Keduanya saling terkait, tidak ada situasi yang buruk 
tanpa suatu sebab. Untuk itu kita perlu mengkaji ulang hubungan kita dengan 
alam sehingga tercipta keserasian dan keseimbangan untuk menciptakan 
keharmonisan.

 
Kesempatan introspeksi

  
Perayaan Tahun Baru Saka atau Nyepi bertujuan mengingatkan kita introspeksi 
diri, agar ber-yadnya (berkorban) kepada alam lingkungan, sesama manusia, dan 
Tuhan dengan ikhlas.

 
Kini pengorbanan sudah amat langka, yang menonjol adalah keegoisan dan 
kepemilikan. Kita perlu meningkatkan kesadaran yang bisa menumbuhkan rasa 
empati terhadap sesama makhluk dan alam lingkungan.

 
Kesadaran ini penting untuk menggugah sikap kesetiakawanan sosial di antara 
kita dalam menanggulangi dan menyikapi situasi sulit yang terus berkembang. 
Untuk itu tepat sekali, perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929 ini 
mengusung tema "Jadikan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929 sebagai Momentum 
Meningkatkan Kesetiakawanan Sosial Menuju Perdamaian dan Kesejahteraan yang 
Berkeadilan".

 
Hal ini senantiasa bisa dicapai dengan meningkatkan sradha (keyakinan) dan 
bakti kita kepada Tuhan, hubungan harmonis antara sesama manusia, dan menjaga 
kelestarian alam.

 
Melalui Catur Brata Nyepi, yaitu empat cara melatih spiritual yang terdiri atas 
amati geni (tidak menyalakan api amarah), amati karya (relaksasi), amati 
lelungan (bermeditasi), dan amati lelanguan (merenungkan diri), diharapkan bisa 
menambah spirit (semangat hidup) kita yang lesu dan bisa mengubah situasi ke 
arah lebih baik. Dengan demikian, santi (kedamaian) senantiasa terwujud di Bumi 
Pertiwi. Rasa empati bisa diwujudkan dengan melakukan kegiatan yang bersifat 
meringankan penderitaan sesama serta senantiasa mencintai dan menjaga 
kelestarian lingkungan.

 
"Selamat hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929".

  
Brahmacarya Bhargawa Chaitania Rohaniwan Hindu, Dosen Sekolah Tinggi Agama 
Hindu (STAH) Jakarta 


Nyana Bhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

Kirim email ke