*SBY Aksen* Sungguh merana siapa pun yang memegang tanggung jawab negara alias pemerintah yang *incumbent *saat ini di Indonesia. Alam --dan Tuhan kata sebagian orang-- seperti tak habisnya menghantam daya tahan dan daya * survival* manusia di kepulauan ini, lewat serangkaian bencana tak putus. Bagai melodi indah yang telinga kita tak kuasa meninggalkannya.
Dan bencana itu bukan semata datang secara fisis-natural, tak sekadar gejala alam yang -konon-- murka pada perilaku manusia. Di gunung, bukit, sungai, laut, bawah tanah, bawah laut, endapan lumpur, batu, pepohonan, dan sebagainya: seolah murka dan menampar wajah dan kemaluan kita. Tak hanya itu. Juga bencana sosial, politik, ekonomi, bahkan budaya menghantam-terjang kita di semua lini hidup keseharian. Di hal non-fisis, anatural, tapi artifisial, mental, dan rekayasa manusia itu sebenarnya bencana lebih dahsyat berada. Tak perlu panjang dibicarakan, contoh mengenai itu: mulai dari mismanajemen yang keterlaluan, mental dan tindak korup yang jadi kebiasaan, nafsu konsumsi yang kelewatan, hasrat syahwat tak beraturan, hingga eksploitasi bisnis-industri yang tak berperikemanusiaan. Maka, negeri ini bukan saja pembayar setia abonemen langganan bencana. Melainkan juga produsen utama bencana peradaban tingkat dunia. Historis prestasinya. Orang luar akan sangat kasihan melihat kita. Ironisnya... atau tepatnya: "tragisnya", kita malah kasihan dan mengasihani diri sendiri. Karena, bila ditelisik lebih dalam dan jauh, pada akar adab modern dan * hyper-technology* ini, sesungguhnya kita melulu cuma jadi korban. Dari ujung tertinggi hingga terendah: korban eksploitasi dan bencana adab tingkat global. Lebih tepat lagi: kita ini semacam "bantar gebang". Semacam TPS di mana residu dan ampas-ampas adab modern dibuang, didaur ulang, dikonsumsi, bahkan menjadi *style*, gengsi, dan konyolnya identifikasi (jati diri). Hal itu yang antara lain membuat para petinggi, penanggung jawab negara ini, seperti tak mampu berdiri dengan bahu tegak, dada membusung, serta air muka yang "* pede*"di mata dunia. Bahkan di rumah kecil tetangga. Sungguh sial para pemimpin kita di masa mutakhir ini. Seolah mereka tak mendapat cukup berkah, bahkan "restu", dari publik dari sejarahnya sendiri. Mungkin mereka harus meruwat diri sendiri, setidaknya berpaling sedalam mungkin ke nurani sendiri. Benarkah mereka adalah pemimpin yang "sesungguhnya" dikehendaki. Oleh rakyat, oleh zaman, oleh sejarah dari bangsa ini. Atau sebenarnya mereka ada di "sana", melalui kamuflase sistem (apa pun namanya), yang seakan benar (dalam teori, di atas kertas), tapi tidak dalam kenyataan intrinsiknya (mental, perilaku, atau cara berpikirnya). Barangkali mereka populer. Tapi kata yang penuh perangkap, artifisial, dan *hyperreal*ini sesungguhnya tidak merepresentasi apa pun kedalaman jiwa dan kultur masyarakatnya. Agnes Monica populer, Tukul Arwana populer, bahkan Zainuddin MZ, Rhoma Irama, juga Aa Gym populer. Namun, sungguhkah itu merupakan garansi dan standar bagi sebuah kepemimpinan? Banyak prosedur dari sebuah popularitas sebenarnya. Dan kita mafhum, Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, bahkan Megawati juga populer, tentu melalui prosedur yang jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Tukul; jauh berlainan dengan modus "Indonesian Idol" atau "*vote by *SMS" (maksudnya, "*vote for performance* atau *performative action"*). Pemimpin butuh karisma, butuh pesona dan penampilan, mungkin. Namun itu sifatnya fakultatif, tidak desisif. Ini mungkin renungan terdalam bagi pemimpin kita. Presiden kita, di antaranya. Sekurangnya harus diakui, di antara semua figur yang pernah menjadi the number one negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY adalah "nomor satu" yang paling pendek dan kering rekam jejaknya, lebih cetek akarnya. Ketimbang nama-nama lain yang puluhan tahun sebelum kepemimpinannya sudah merekamkan jejak sejarah personalnya pada sejarah bangsanya dengan kuat. Basis publiknya luar biasa ketimbang pemimpin lainnya. Mungkin di dalam akar yang dalam, di sejarah yang jauh, di jejak yang kuat itu, sebenarnya berkah dan restu kepemimpinan berada. Tak sekadar sebuah pilihan mediatik yang sifatnya temporer. Seperti artis yang sekonyong menjulang awan di satu detik, dan menghunjam kuburan sejarah di detik berikutnya. Tokoh semacam itu mesti segera merefleksi diri, melihat kenyataan dirinya yang lain. Mungkin melihatnya dari cermin orang lain. Sebagai SBY, ia harus melihat SBY-SBY lain, SBY aksen. SBY-SBY yang memberitahu realitas dirinya yang sesungguhnya. Yang menyadarkan akan kelemahan dan peluang memperkuat dirinya. SBY yang datang dari mana pun, entah itu bernama Taufik Safalas, Si Butet Yogya, atau lurah di sudut Kabupaten Pacitan, misalnya. Inilah prosedur sederhana menuju bijaksana. Menuju kerendahhatian. Menuju pengingkaran arogansi dan kekaguman diri yang tak berdasar. Hingga sampai pada realitas pertama: jabatan sesungguhnya hanya titipan yang mahaberat. Sebuah pengorbanan diri bagi kesejahteraan ratusan juta, bagi ratusan tahun sejarah. Tak ada yang perlu diagulkan. Tak ada yang bisa dikagumkan. Karena kebesaran terletak di (prestasi) luar diri, bukan di tampilan diri sendiri. *Radhar Panca Dahana Budayawan* [*Perspektif*, *Gatra* Nomor 18 Beredar Kamis, 15 Maret 2007]
