Sekuntum Teratai untuk anda semua para calon Buddha, berikut adalah sharing
retret zen yang saya bagi menjadi 5 bagian, semoga beberapa bagian dari
sharing ini bisa bermanfaat dan mungkin menginspirasi yang lain.

Retret ZEN (30 Mar - 1 April)


Pada hari pertama, ko Agus lebih menekankan pada segi dimana peserta diajak
untuk lebih menyesuaikan diri dulu dengan suasana retret. Kami diminta untuk
lebih membuat diri ini rileks, baik tubuh maupun pikiran (batin). Kenapa?
Karena selama ini kita telah banyak menyiksa diri sendiri. Sibuklah, diburu
kerjaan, stress, tertekan karena masalah, dll. Hadirkan diri sepenuhnya
dalam retret ini. Just RELAX and BE HAPPY. Letakkan pikiran kita pada tubuh
ini. Istirahatkan pikiran ini.


Dari pengalaman pribadi ko Agus juga, ketika dia sedang mengalami masalah,
baik itu masalah yg tergolong 'berat' atau membuat pusing kepala, dia
berusaha untuk secara sadar mengajukan pertanyaan kepada dirinya "kenapa aku
menyiksa diri sendiri? why not just be happy? kenapa aku terhanyut? kenapa
aku membiarkan diri menderita? Ayolah, just be happy..." Semua pertanyaan
ini dia ajukan dengan nada compassion.


Memang pada awalnya akan terasa seperti dibuat2, tidak lazim. Tapi cobalah.
Ini adalah pilihan yg bisa kita buat, dan ini adalah pilihan yg pintar.
Pilihan hidup yg pintar. Kita telah memutuskan untuk memulai sesuatu yg
baik. Dan sadarilah bahwa tidak setiap orang memiliki kesempatan untuk
memilih pilihan ini.


Selama retret ini, peraturan tunggal tetap berlaku, noble silent. Nikmati
kesendirian kita. Jarang sekali kita nyaman dalam kesendirian kita. Dalam
hidup sehari-hari, begitu ada waktu luang, kita biasa pergi makan, nonton
film/teve, pergi jalan2, dengerin musik, baca buku...Begitu banyak hal yg
dilakukan.. Dan kita takut akan kesendirian..Tapi dalam retret ini,
sadarilah tujuan kedatangan kita kesini, bukanlah untuk sosialisasi,
melainkan untuk berlatih. Maka dari itu, jagalah jarak pandang mata. Arahkan
45 derajat kebawah. Dengan demikian tidak akan banyak gangguan yg terjadi.
Perlambat semua hal yg Anda lakukan disini. Sadari semuanya. Dengan begitu
kita jadi punya waktu lebih untuk mengamati apa terjadi didalam diri kita,
dari satu saat ke saat berikutnya.


Kita juga diminta untuk familiar dengan yg namanya "berada disini, dan
sekarang". Setiap kali lonceng dibunyikan, coba, kenali rasa diri yg sedang
berdiam di sini & sekarang. Kenali lagi. Rasakan dia. Jangan sampai kita
merasa jengkel atau terganggu ketika bunyi lonceng terdengar. Kita belajar
untuk mengapresiasi tentang rasa sadar ini. Ketika kita familiar dengan rasa
"berada disini&sekarang", kita akan tau bagaimana rasanya. Karena ini hanya
bisa dialami, tidak cukup sekedar hanya diketahui. Rasanya akan begitu
sejuk, damai, bebas dari masalah, gangguan. Ketika kita uda merasa kenal
dengan perasaan ini, setiap kali kita terhanyut, akan lebih gampang untuk
sekedar kembali ke saat ini. Ketika lonceng berbunyi, kita amati napas kita
sebanyak 3 kali, saat itu gangguan sirna. Tapi sesudah 3 tarikan napas
berkesadaran, gangguan datang lagi, kita bunyikan lonceng sekali lagi.
Setelah menyadari 3 tarikan napas, gangguan kembali lagi, kita bunyikan
kembali lonceng. Demikian seterusnya..Saat kita amati napas kita, masalah
ada di mana?? Kalau sebenarnya mau dilihat lagi, darimana sebenarnya sumber
masalah tersebut? Tentu saja ini bukanlah bahasan intelektual, tapi perlu
dialami langsung, mengapa pada saat kita kembali ke diri kita, seakan-akan
masalah sirna, lalu siapakah sebenarnya yang mengidentifikasi dan
memilah-milah "ini masalah" dan "ini bukan masalah"? Dan tentu saja ini
bukanlah pelarian dari kenyataan atau "masalah" dengan kembali ke diri kita,
kita menjadi bisa melihat "apa yang disebut sebagai 'masalah'" dengan lebih
jernih, dan langkah-langkah yang kita ambil selanjutnya pun menjadi lebih
berhati-hati dan penuh kewaspadaan.


Yang dimaksud dengan latihan hidup berkesedaran adalah seberapa sering kita
bisa sadar, untuk membunyikan lonceng dalam benak kita?? Apakah kita mampu
melakukannya dari satu saat ke saat lainnya?? Inilah latihan kita..


Dan melalui beberapa macam media yg ko Agus bawa selama retret ZEN ini,
mulai dari buku bisnis (Fortune, Forbess, Business This Week, dan yg
lokal:Global), sampai pada buku bacaan Dharma, juga Sutra, atau praktek
seperti meditasi jalan lambat, jalan cepat, lari, *direct contemplation,
morning exercise *semua ini hanya sebagai sarana untuk menunjuk/mengakses
satu hal, yaitu kesadaran / kewaspadaan / keterjagaan / mindfulness /
awareness / don't know mind / knowing mind / Buddha Nature...apapun Anda
menyebutnya.. Kita tak perlu membahas yg sulit2, yg terlalu jauh, karena
pointnya adalah awareness!!


Kalau mau ditelusuri, dari semua cara praktik, baik itu ZEN, Theravada,
Mahayana, Vajrayana, semua pada akhirnya hanya menunjuk pada satu hal, yaitu
awareness ini. Jika seseorang tidak terkaget-kaget akan kesadaran ini, oh,
ternyata begitu toh rasanya, seperti ini toh rasanya sadar itu, maka dia
pasti belum mengerti, belum benar2 menyelami
akan ajaran Buddha. Apapun yg ingin Anda bicarakan, yah, pada akhirnya
balik-baliknya ke awareness yg  tadi itu lagi.

<bersambung ke bagian II>

With Metta,
Peserta Retret Zen II

Kirim email ke