Teror Psikologis di Tempat Kerja 
 
Lusiana Indriasari  
"Saya tidak bisa bekerja kalau bapak teriak-teriak terus!" Ucapan keras itu 
seperti terlontar begitu saja dari mulut Meidi (34). Seperti sudah kehilangan 
akal, Meidi menggebrak pintu ruangan atasannya. Dia sudah tidak tahan karena 
hampir setiap hari dicaci maki bosnya.

 
"Aku seperti tidak sadar (memukul pintu). Emosiku sudah meluap sampai ke 
ubun-ubun. Semua orang sampai bengong karena aku berani melawan (atasan)," 
tutur Meidi.

 
Hampir satu tahun bekerja di perusahaan bidang perdagangan itu, Meidi sering 
mendapat teror verbal dari atasannya yang menjabat sebagai manajer bidang 
keuangan. Bukan hanya teriakan, Meidi juga kerap dimaki dengan kata-kata kasar 
setiap kali atasannya marah.

 
Atasan yang temperamental membuat Meidi serba salah. Padahal, selama bekerja, 
Meidi merasa sudah memberikan kemampuan terbaiknya untuk perusahaan. Demi 
pekerjaan, Meidi setiap hari pulang pukul 22.00. Beberapa kali dalam sebulan, 
Meidi yang bertugas mengurus gaji karyawan ini lembur hingga pukul 03.00 pagi. 
Padahal, esok harinya dia harus kembali ke kantor.

 
Selama hampir satu tahun Meidi bertahan. Namun tanpa disadari dia mengalami 
depresi berat. Setiap hendak pergi ke kantor, Meidi merasa tegang. Lehernya 
kaku. Meidi juga sering merasa mual dan menderita migren berat (sakit kepala 
sebelah).

 
Meidi hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menjadi korban bullying di 
tempat kerja. Bullying adalah teror berupa pengucilan, pemalakan, intimidasi, 
ejekan, pengucilan, gosip, fitnah, kekerasan fisik, atau kekerasan mental 
secara luas.

 
Teror serupa juga dialami Rahadi (38)—sebut saja demikian— yang sejak tahun 
1998 mengalami bullying oleh rekan-rekan kerjanya. Karyawan swasta di 
perusahaan otomotif ini sering difitnah dan digosipkan oleh seorang rekannya. 
Rahadi juga mendapat porsi pekerjaan lebih banyak karena dia harus mengoreksi 
kembali pekerjaan rekan satu timnya yang dikerjakan asal-asalan.

 
"Atasan bukan menegur dia (rekan Rahadi), tetapi malah melimpahkan pekerjaan 
kepada saya," ungkap Rahadi. Awalnya, Rahadi senang karena merasa dipercaya 
atasannya, tetapi dia mulai tidak nyaman ketika setiap kali ada pekerjaan di 
luar kota atau luar negeri justru teman-temannya yang diberangkatkan. Sementara 
Rahadi harus tetap di Jakarta untuk membereskan pekerjaan.

 
"Mungkin karena saya selalu diam dan tak banyak protes sehingga selalu menjadi 
bulan-bulanan," tutur Rahadi. Setelah bertahun-tahun merasa dikucilkan dalam 
pekerjaan, Rahadi mencoba berbicara dengan atasannya. Dia ingin memperoleh 
kesempatan yang sama dengan rekan-rekannya untuk mengembangkan karier.

 
Ketika hal itu diungkapkan, atasan Rahadi justru merasa bapak beranak dua itu 
tidak mau lagi menerima tugas-tugas darinya. Keinginan Rahadi berdialog justru 
menjadi hal yang kontraproduktif baginya. Atasan Rahadi tidak mau lagi memberi 
tugas-tugas kepadanya karena "keluhan" Rahadi diterjemahkan sebagai penolakan.

 
Situasi kantor yang membuat Rahadi frustrasi ikut memengaruhi hubungannya 
dengan keluarga. Di depan anak istrinya, Rahadi berubah menjadi sosok yang 
tidak sabaran dan sering marah. Rahadi juga menjadi sulit tidur pada malam hari 
dan selalu gelisah.

 
Berbicara baik-baik dengan atasan juga sudah dilakukan Meidi. Sementara rekan 
kerjanya yang lain memilih diam, Meidi mencoba menanyakan mengapa atasannya itu 
sering marah-marah dan memaki-maki, terutama kepada dirinya. Ketika ditanya, si 
atasan menjawab enteng, "Biar kamu lebih giat bekerja dan bersemangat." Alasan 
yang sama sekali tidak masuk akal bagi Meidi.

 
Karena teror yang dialaminya terus berlanjut, Meidi membawa persoalan ini ke 
atasan yang lebih tinggi, direktur di perusahaan itu. Pertemuan diadakan dan di 
depan direkturnya, atasan Meidi berjanji untuk tidak berteriak-teriak lagi. 
Namun, baru satu minggu, atasan Meidi kembali memaki-maki dan berteriak-teriak 
lagi.

 
Tidak ada teguran keras ataupun sanksi. Meidi pun akhirnya mengundurkan diri 
dari perusahaan. "Mudah-mudahan di tempat baru kamu bisa mendapat perlakuan 
yang lebih baik." Begitulah pesan terakhir yang didengar Meidi dari direktur 
perusahaan itu.

 
Pilihan Meidi untuk mundur tampaknya adalah hal terbaik yang dilakukan. Selama 
bekerja di perusahaan itu, Meidi mengaku berat badannya turun drastis. Meidi 
juga seperti kehilangan semangat dalam hidup.

 
Balas dendam  
Teror di tempat kerja yang berlangsung terus-menerus secara sistematis 
menimbulkan luka psikologis bagi korban bullying. Sering kali luka itu berubah 
menjadi dendam yang ingin dilampiaskan secara fisik.

 
Rizaldi (36) mengalami teror dari atasannya sejak empat tahun lalu. Hal ini 
terjadi lantaran supervisor senior di pabrik tersebut mengungkapkan 
ketidaksetujuannya atas kebiasaan atasan yang selalu memaki-maki bawahannya di 
depan umum. Ada perubahan memang. Atasannya itu sudah tak lagi memaki 
rekan-rekan kerjanya, tetapi luapan emosinya seperti ditumpahkan seluruhnya 
kepada Rizaldi.

 
Orang-orang yang tadinya dibela Rizaldi tidak ada yang berani membelanya. 
Mereka bahkan enggan terlihat akrab dengan Rizaldi karena takut dianggap 
memihak Rizaldi. Bapak dua anak itu pun merasa dikucilkan. Kekuasaan "mutlak" 
yang dimiliki atasan membuat orang tidak berani berjuang bersama-sama untuk 
memperbaiki keadaan.

 
"Di mana-mana ada anggapan bos itu tidak pernah salah. Kalau bos marah-marah, 
itu berarti bos ingin memotivasi bawahan. Tetapi jika bawahan yang marah 
meskipun benar, sering diartikan melawan atasan. Ujung-ujungnya bisa dipecat 
atau digencet supaya mengundurkan diri," ungkap Rizaldi.

 
Mengundurkan diri jelas bukan pilihan Rizaldi. Dia tidak mau mengorbankan anak, 
istri, dan orangtua yang masih menjadi tanggungannya. Rizaldi mencoba bertahan 
dengan tidak menggubris perlakuan atasannya. Namun, lama-kelamaan Rizaldi 
merasakan ada yang berubah pada dirinya. Pengalaman berkomunikasi yang 
menyakitkan membuat Rizaldi punya gejolak untuk membalas dendam (secara fisik) 
perlakuan atasannya.

 
"Pernah suatu kali saya dimarahi habis-habisan hanya gara-gara melontarkan 
gagasan yang dianggap tidak bagus. Ketika hendak pulang, saya melihat mobil bos 
saya di tempat parkir dan nyaris saya pecahkan kacanya," ungkap Rizaldi yang 
kini mengikuti terapi dengan seorang psikolog. Di sekitar kita, masih banyak 
lagi orang-orang yang menderita, bahkan sakit secara psikologis akibat bullying.

 


Nyanabhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

Kirim email ke