Kompas, Rabu, 11 April 2007                                                     
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                      
 Somalia
 Lebih dari 1.000 Orang Tewas di Mogadishu 
 
Mogadishu, Selasa - Perang empat hari yang berlangsung di Mogadishu, ibu kota 
Somalia, telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, dan membuat sekitar 1,4 juta 
penduduk meninggalkan kota. 
Laporan yang dibuat komisi penyelidik perang di Somalia itu menyebutkan, dalam 
bentrokan yang berlangsung dari 29 Maret sampai 1 April 2007, 1.086 orang tewas 
dan sekitar 4.300 orang luka-luka. 
Bentrokan berdarah antara tentara Somalia yang didukung tentara Etiopia melawan 
kelompok milisi anti-Pemerintah Somalia, mayoritas dari klan Hawiye, merupakan 
perang paling brutal dalam 15 tahun terakhir di Somalia. 
Perang terjadi ketika tentara Pemerintah Somalia dan sekutunya dari Etiopia 
mencoba melucuti persenjataan kelompok milisi menjelang rencana konferensi 
rekonsiliasi nasional tanggal 16 April mendatang. Namun, langkah itu justru 
memicu pertumpahan darah yang dahsyat. 
Kolonel Hussein Siayaad, anggota komite bersangkutan, mengatakan, sedikitnya 88 
mayat bisa dikumpulkan dalam radius satu kilometer persegi. 
"Mayat-mayat itu masih tergeletak sampai sekarang dan membutuhkan waktu 
berminggu-minggu untuk mengumpulkan semuanya," kata Siayaad kepada Reuters. Ia 
mengatakan, jumlah itu merupakan perhitungan kasar dan sangat mungkin jumlah 
sebenarnya lebih besar dari yang diperkirakan. 
Gencatan senjata  
Meski saat ini bentrokan sudah mereda, menyusul gencatan senjata antara tetua 
suku Hawiye dan pasukan Somalia-Etiopia, situasi tetap tegang. 
Hari Selasa, para komandan pasukan Etiopia menolak bertemu dengan tetua suku 
Hawiye untuk pertemuan rutin yang merupakan bagian dari proses gencatan 
senjata. 
Tentara Etiopia menuntut agar para pemimpin milisi diikutsertakan dalam 
pertemuan, namun persyaratan itu ditolak kelompok milisi yang merasa 
keamanannya tak terjamin. 
Sampai kemarin, penduduk terus meninggalkan kota Mogadishu, menyusul 
melonjaknya harga bahan makanan dan bahan bakar yang makin langka. 
Para pengamat mengatakan, stabilitas keamanan di Somalia hanya bisa dipulihkan 
melalui rekonsiliasi nasional.  
Jendayi Frazer, diplomat AS untuk urusan Afrika, mendesak Pemerintah Somalia 
untuk membuka proses politik bagi semua kalangan untuk meredam kekerasan dan 
ekstremisme. Krisis yang berkepanjangan akan mengancam keamanan di seluruh 
kawasan. 
Frazer menuduh Eritrea mencoba untuk mendestabilisasi Somalia sebagai upaya 
untuk "membalas dendam" terhadap tetangganya, Etiopia. 
Eritrea yang melakukan perundingan dengan kelompok-kelompok milisi asal Somalia 
yang melarikan diri ke negeri itu membantah tuduhan tersebut. 
Dalam situs internet milik kementerian penerangan Eritrea, pemimpin milisi 
Somalia, Sheikh Sharif Sheikh Ahmed, mengatakan, pihaknya "tak akan membiarkan 
pasukan asing menginjak-injak kedaulatan dan hak rakyat Somalia". 
Presiden Eritrea Issaias Afeworki—yang melakukan pertemuan dengan Sheikh 
Ahmed—menuntut seluruh pasukan Etiopia dan juga 1.500 personel pasukan penjaga 
perdamaian dari Uni Afrika ditarik mundur dari Somalia. (AFP/REUTERS/MYR) 

       
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

Kirim email ke