Kompas, Senin, 16 April 2007
Ketersediaan Air Diperkirakan Akan Terus Menurun
Solo, Kompas - Akibat degradasi lingkungan ditambah sedimentasi waduk yang
terus meningkat, ketersediaan air saat musim kemarau pada masa mendatang
diperkirakan akan terus menurun.
"Ketersediaan air diperkirakan akan terus menurun seiring dengan bertambahnya
populasi penduduk, sementara perbaikan lingkungan tidak memberikan dampak
secara langsung terhadap ketersediaan air," kata Kepala Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan Tanaman Departemen Kehutanan Harry Sentosa dalam seminar
bertajuk "Peran PDAM dalam Pengelolaan dan Pelestarian Sumber Daya Air yang
Berorientasi pada Prinsip-prinsip Good Corporate Governance Menuju Millenium
Development Goals" di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, Sabtu
(14/4).
Menurut Harry, selama ini ketersediaan air pada musim kemarau di seluruh
Indonesia hanya mencapai 20 persen dari kebutuhan air yang mencapai 1.074 meter
kubik per tahun per kapita.
Secara rinci, Harry memaparkan bahwa kebutuhan 1.074 meter kubik per tahun per
kapita itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan irigasi, domestik (rumah tangga),
perkotaan, dan industri. Dari jumlah kebutuhan itu, yang tersedia saat musim
kemarau normal hanya 790 meter kubik.
Yang memprihatinkan, saat iklim normal sekalipun, waduk yang ada saat ini hanya
mampu menampung 5 persen dari total curah hujan saat musim hujan. Sisanya
mengalir sebagai aliran permukaan yang langsung menuju ke laut atau menguap.
Jika sedimentasi dibiarkan terus berlangsung tanpa ada perbaikan lingkungan di
kawasan hulu, kemampuan waduk menampung air hujan akan makin berkurang.
Sebagai negara yang ikut menyepakati Tujuan Pembangunan Abad Millennium (MDGs),
Indonesia berkewajiban mewujudkan target menurunkan separuh proporsi penduduk
dunia yang tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman pada tahun 2015.
"Indonesia, salah satu negara yang meratifikasi deklarasi MDGs, berarti
memiliki komitmen untuk mencapai target MDGs 2015 tersebut. Dengan demikian,
telah disusun strategi mencapai target MDGs yang membutuhkan biaya sekitar Rp
52 triliun," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Arie M Huzaini dari Badan Perencanaan dan
Pembangunan Nasional mengatakan, standar ketersediaan air bersih dalam MDGs
mencapai 2.000 meter kubik per tahun per kapita. Dari kebutuhan itu, kondisi
sekarang baru 1.200 meter kubik per tahun per kapita.
Tingginya biaya investasi untuk penyediaan air menjadi salah satu kendala
sulitnya mencapai target MDGs. Karena itu, diperlukan keterlibatan atau
partisipasi masyarakat untuk mengelola sumber daya air di daerah tempat
tinggalnya masing-masing. (LIA)
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.