Yang penting kita semua harus mawas diri dan berusaha untuk memperbaiki
yang salah agar dapat hidup sehat. 
Sebagai bangsa yang "kreatip" dan  untuk bisa survive maka banyak cara
ditempuh seperti mengurangi porsi, kwalitas, pakai bahan alternatip
tetapi tetap harus diperhatikan jangan kena "boomerang effek".
Ada pepatah gara2 nila setitik ..
 
Budi Machribie (F06592)
The SunFlamingo team
Wisma Metropolitan I 5th Fl
Jl.Jen.Sudirman kav 29 - 31
Jakart 12920
 
+ 62215254005
+ 08161815979
 
http://mygerbang.blogspot.com/  mangkalnya wong keren
 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of soeripto
Sent: 13 Januari 2006 12:10
To: [email protected]
Subject: [Dokter Umum] Formalin di Makanan Tak Berbahaya Diurai Jadi CO2
dalam Waktu 1,5 Menit
 
Dari dulu sebenarnya kita sdh mengkonsumsi formalin, tapi kenapa
sekarang
dimunculkan lagi, kasihan pedagang kecil.

Soeripto 
  
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of nurfurqan
Sent: 11 Januari 2006 18:59
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [FHUnpadBdg89] FW: Formalin di Makanan Tak Berbahaya-Diurai jd
CO2


RADAR JOGJA


Minggu, 08 Jan 2006
Formalin di Makanan Tak Berbahaya Diurai Jadi CO2 dalam Waktu 1,5 Menit


JOGJA -

Kandungan formalin pada bahan makanan ternyata tidak akan menimbulkan
efek negatif bagi manusia. Termasuk kandungan formalin yang terdapat
pada mie basah, ikan segar, tahu, dan ikan asin.

Berdasarkan penelitian WHO, kandungan formalin yang membahayakan sebesar
6 gram. Padahal rata-rata kandungan formalin yang terdapat pada mie
basah 20mg/kg mie. Selain itu, formalin yang masuk ke tubuh manusia akan
diurai dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2.

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) Dr Yuswanto
menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya pada tahun
2002, kandungan formalin pada mie basah di pasar Jogja sekitar 20 mg/kg
mie. Kadar itu belum secara signifikan menimbulkan toksifikasi bagi
tubuh manusia.

"Penelitian WHO menyebutkan kadar formalin baru akan menimbulkan
toksifikasi atau pengaruh negatif jika mencapai 6 gram," jelas Yuswanto
saat dihubungi Radar Jogja, kemarin. Menurut Yuswanto, sebenarnya proses
alam juga menghasilkan zat formalin yang selanjutnya terserap oleh
sayur-sayuran, buah dan daging hewan.

Dikatakan, buah-buahan dan sayuran juga mengandung zat formalin sebagai
hasil proses biologis alami. "Alam ini sebenarnya menghasilkan zat
formalin yang diserap oleh tumbuhan dan hewan. Daging sapi mengandung
formalin kira-kira 30 mg, dan kerang laut mengandung formalin 100 mg per
kg. Tapi itu formalin yang dihasilkan dari proses alami," katanya.

Bahkan, lanjut Yuswanto, para peternak sengaja membubuhkan formalin
dalam makanan ternaknya. Makanan ternak diberi kandungan formalin
sebesar 660 mg per kg. Tujuannya untuk membunuh bakteri. "Keberadaan
formalin tidak mengakibatkan keracunan hewan ternak," tambahnya.

Akan tetapi, kata Yuswanto, kandungan formalin baru akan menimbulkan
bahaya jika dihirup oleh alat pernapasan. Jika hanya dicerna alat
pencernaan, tidak akan menimbulkan risiko negatif. "Pemakaian formalin
hanya merugikan kalangan peternak. Ketika mereka menghirup formalin
lewat alat pernapasan, berpotensi menimbulkan kanker paru-paru."

Yuswanto menyimpulkan, ada kesalahan informasi di masyarakat tentang
bahaya formalin di mie basah, ikan segar, dan ikan asin. Sebenarnya,
ketika formalin masuk melalui alat pencernaan, tidak akan berpengaruh
negatif.

Kondisi itu akan berbeda jika secara terus menerus formalin masuk
melalui alat pernafasan, maka dikhawatirkan akan menyebabkan kanker
paru-paru. "Perokok juga berpotensi menghirup formalin dari setiap
batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap hari menghisap 20 batang
rokok, sama saja setiap hari menghirup 10 mg formalin," tambah Yuswanto.

Kenapa formalin di makanan tidak berbahaya? Kata Yuswanto, proses
metabolisme formalin yang masuk ke tubuh manusia sangat cepat. Tubuh
manusia akan mengubah formalin menjadi Co2 dan air seni dalam waktu 1,5
menit.

"Secara alami, setiap liter darah manusia mengandung formalin 3
mililiter. Sedangkan formalin yang masuk bersama makanan akan
didegradasi menjadi CO2 dan dibuang melalui alat pernapasan. Jadi, meski
formalin dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama, tidak akan
terjadi proses akumulasi dan menyebabkan toksifikasi."

Yuswanto menegaskan, informasi yang berkembang di masyarakat salah
kaprah. Sebab, baru dalam dosis besar yakni sekitar 6 gram, formalin
akan memunculkan efek negatif bagi tubuh manusia.

"Lagi-lagi yang dirugikan masyarakat kecil. Penjual mie basah, tahu, dan
ikan asin dirugikan. Seharusnya, kita berpegang pada hasil penelitian
yang akurat. Pemerintah harus segera mengambil sikap atas kekacauan ini.

Kasihan pedagang kecil," tambah Yuswanto. (lai)

[Non-text portions of this message have been removed]











  _____  

YAHOO! GROUPS LINKS 
 
*          Visit your group "dokter_umum
<http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum> " on the web.
  
*          To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
  
*          Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/> . 
 
  _____  



[Non-text portions of this message have been removed]







 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke