jdokter Konsumsi daging sapi oleh perempuan selama hamil dapat
merubah perkembangan testis uterus pada anak laki-laki dan membahayakan
kemampuan reproduktif dimasa yang akan datang, demikian laporan para
peneliti.
Makan Daging Sapi dan Berkurangnya Sperma
Saturday, 07 April 2007
Imagejdokter Konsumsi daging sapi oleh perempuan selama hamil dapat merubah
perkembangan testis uterus pada anak laki-laki dan membahayakan kemampuan
reproduktif dimasa yang akan datang, demikian laporan para peneliti.
Tindakan yang harus dilakukan
* Jelaskan kepada para pasien yang menanyakan bahwa FDA mengijikan batas
minimal residu hormon, yang dimasukkan setiap hari dengan dosis yang dapat
diterima, dalam penyembelian daging sapi, residu ini kemungkinan dapat
mempengaruhi kualitas semen pada orang laki-laki yang ibunya makan banyak
daging sapi selama hamil.
* Terangkan bahwa studi ini tidak terbukti adanya hubungan kasual antara
asupan daging sapi pada ibu atau asupan steroid anabolic dan konsentrasi sperma.
Hasilnya bisa jadi berupa steroid anabolic residu dalam daging tersebut. Shanna
Swan, Ph.D., dan rekan dari University of Rochester (N.Y.) melaporkan secara
online tanggal 28 Maret dalam terbitan Human Reproduction.
Dalam studi yang terdiri dari 387 pasangan subur perempuan hamil, laki-laki
yang ibunya dilaporkan makan lebih dari tujuh potong daging sapi dalam seminggu
saat hamil, memiliki konsentrasi sperma kurang dari 24% dibandingkan dengan
mereka yang makan daging sapi kurang dari jumlah tersebut, demikian temuan
mereka.
Selain itu, laki-laki yang banyak mengkonsumsi daging sapi memiliki tiga kali
lipat konsentrasi sperma yang termasuk dalam klasifikasi sebagai sub-subur
menurut standar World Health Organization, dibandingkan dengan orang laki-laki
yang ibunya sedikit makan daging sapi, kata Dr. Swan dan rekan.
Meskipun di Amerika Serikat melarang pengembangan promoter diethylstilbestrol
(DES) yang digunakan pada anak sapi pada 1954, hormon lain seperti estradiol,
testosterone, progesterone dan synthetic hormones zerano; trenbolone acetate,
dan melengestrol masih digunakan. Kata Dr. Swan.
Karena residu bahan kimia tetap bertahan setelah penyembelian, FDAtelah
mengatur penggunaannya, yang ditentukan sebagai asupan harian yang dapat
diterima. Di Eropa, penggunaan hormone sistentik dan alamiah ini telah
dilarang sejak 1988.
Asupan harian yang bisa diterima ini didasarkan pada uji toxicology
tradisional, dan kemungkinan timbulnya efek pada pertumbuhan manusia yang
terbuka terhadap residu hormon sek anabolic melalui konsumsi daging tidak
pernah dilakukan penelitian demikian menurut Dr. Swan dan rekan. Oleh karena
itu, dia menambahkan konsumsi daging oleh wanita hamil dan anak-anak menjadi
perhatian khusus.
Studi dilakukan di lima kota di Amerika Serikat antara 1999 dan 2005 dan
menggunakan catatan ibu mengenai jumlah daging sapi yang mereka makan.
Konsentrasi sperma sebaliknya terkait dengan konsumsi daging sapi oleh ibu
dalam setiap minggunya (P=0.041), demikian laporan para peneliti.
Pada anak laki-laki yang banyak memakan daging sapi (lebih dari tujuh kali
memakan daging sapi dalam seminggu), konsentrasi seprma sebesar 24.3% lebih
rendah (P=0.014). Anak laki-laki yang mengkonsumsi banyak daging sapi memiliki
rata-rata konsentrasi sperma 43.1 juta sperma/ml cairan semen, sementara pada
anak laki-laki yang ibunya makan sedikit daging sapi memiliki rata-rata 56.9
juta sperma.
Perbandingan laki-laki dengan konsentrasi sperma dibawah batas terendah
subfertilitas WHO (20 x 106/ml) adalah tiga kali lebih tinggi (17.7% terhadap
5.7%. P=0/002) dari pada laki-laki yang ibunya sedikit mengkonsumsi daging sapi.
Riwayat subfertilitas sebelumnya juga sering terjadi diantara anak laki-laki
yang banyak mengkonsumsi daging sapi (P=0.015), demikian dilaporkan para
peneliti.
Konsentrasi sperma tidak terlalu terkait dengan konsumsi makanan lain yang
dilakukan oleh ibunya (daging babi, daging kambing, daging anak lembu) atau
konsumsi daging pada orang laki-laki, demikian temuan para peneliti. Juga pada
ibu yang mengkonsumsi daging ayam, ikan, produk dari bahan kacang dan sayuran
nampak tidak membayakan.
Rata-rata, ibu makan 3.4 daging sapi dalam setiap minggunya dan hanya 15 (4%)
dilaporkan tidak makan daging sapi selama hamil, sementara 336 makan daging
sapi tujuh kali atau kurang dalam setiap minggunya, dan 51 dilaporkan makan
daging sapi lebih dari tujuh kali dalam setiap minggunya, demikian laporan para
peneliti.
Perempuan yang banyak memakan daging sapi juga banyak memakan makanan merah dan
lebih banyak tinggal di Amerika Utara yang pada saat bersamaan anak laki-laki
mereka dilahirkan oleh ibu mereka yang sedikit mengkonsumsi daging.
Akan tetapi, para peneliti menjelaskan bahwa sebagian besar ibu dalam studi ini
tinggal di Amerika Utara dan penemuan ini tidak berlaku untuk daerah lain yang
memproduksi daging sapi dengan cara lain.
Para peneliti juga mencatat bahwa mereka tidak dapat mengatur pembauran yang
tidak dapat dikenali yang terkait penemuan. Misalnya, mereka menyebutkan,
pestisida, kontaminan lain dalam makanan hewani, dan factor gaya hidup yang
terkait dengan konsumsi daging sapi yang cukup banyak dapat memainkan peranan
mengenai efek yang telah diamati.
Mereka juga mengatakan heterocyclic amines, menghasilkan daging merah dingin
dan proses yang juga menghasilkan estrogen.
Apakah pembukaan sebelum melahirkan untuk steroid anabolic bertanggungjawab
atas penemuan kami baik seluruhnya maupun sebagian yang dijelaskan dengan
mengulang studi ini pada orang yang dilahirkan di Eropa setelah 1988 ketika
steroid anabolik tidak diperbolehkan lagi diberikan daging sapi atau yang
dihasilkan disini. Demikian kesimpulan tim Dr. Swan.
[Non-text portions of this message have been removed]