Thanks Mr. Ambarawa atas dua buah artikelnya. Cukup membantu untuk mengenali sebab-sebab ke-pelupa-an saya :)
Kalau saya cocokkan dengan artikel itu, maka ke-pelupa-an saya benar2 "sangat memenuhi syarat": stres/depresi berkelanjutan, kerusakan syaraf (Bell's palsy, menjalani fisioterapi dg "disetrum" setiap hari selama 3 bulan), terlampau sibuk, selalu terburu-buru, kurang tidur, gangguan hormonal, hidup di lingkungan penuh polusi, pembiusan (2x bius total, 1x bius epidural), dan pola hidup kurang seimbang. Apalagi selama ini saya termasuk menganggap enteng kondisi mudah lupa ini. Merasa terganggu, tapi belum pernah konsultasi ke dokter. Wah! (Sempat juga sih tanya-tanya di apotik tentang suplemen antilupa, ternyata harganya masih terlalu mahal untuk dimasukkan ke dalam skala prioritas.) Tapi apa yang dikatakan "teori" tidak selalu benar. Misalnya ini: ** Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi, pola koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak. ** Informasi disimpan lebih gampang jika sering diingat-ingat kembali. Maka memudahkan pula pemindahan suatu informasi baru, dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. >> Contoh kasus: rumah saya dekat dengan pasar, dan selama >> 12 tahun setiap pagi saya berbelanja di pasar tersebut, >> bertemu dengan pedagang-pedagang langganan saya. Tetapi >> saat saya bertemu dengan pedagang langganan saya tersebut >> di jalan depan pasar, yang saya ingat tentang dia hanya: >> "Aku kenal wajahnya, tapi siapa ya dia?" Setelah >> melakukan upaya cukup keras, lantas bisa sedikit ingat, >> "Oh ya, dia pedagang langganan saya di pasar, tapi >> pedagang apa ya?" Sampai di sini macet total dah! Maka setiap ketemu orang (kecuali orang-orang kategori inner circle), yang bisa saya lakukan hanya tersenyum dan mengangguk, tidak bisa lebih dari itu, karena segala informasi tentang orang itu lenyap entah ke mana. Ini berakibat cukup fatal: saya jadi pemalu, tidak pede, dan cenderung menarik diri dari pergaulan. ** Hal-hal yang dianggap takkan berguna tidak akan disimpan di dalam memori. Alias, lupakan saja. >> Siapa yang memutuskan suatu informasi itu berguna atau >> tidak? Karena sering saya menganggap suatu informasi >> berguna, saya berusaha mengingat-ingatnya, saya bertekad >> untuk tidak akan pernah melupakannya, tetapi tetap saja >> lupa! Hilangnya informasi ini selain membuat tidak pede dalam pergaulan, juga membuat saya boros waktu dan tenaga untuk berulang-ulang menggali, mengumpulkan bahan, dan mempelajari lagi informasi-informasi yang sudah pernah saya ketahui. Dan seperti yang dikatakan Mbak Fitri: kita tidak mungkin mencatat segala hal, kan? Wah, iya, sepertinya perlu ke dokter ya? Tapi sebelum berangkat pengin tau dulu, kira-kira apa yang dilakukan dokter untuk mengatasi gangguan semacam ini? Please para dokter angkat bicara :-) Salam, Titah ----- Original Message ----- From: "mr ambarawa" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, April 12, 2007 11:02 AM Subject: Re: [Dokter Umum] pelupa ini artikel dari hasil googling. wassalam, -S-

