Hello Auliah,

Ketika masih kecil, sorg anak selalu meniru apa yg dilakukan oleh org yg 
lebih besar darinya; kemudian ia mendapatkan bayangan dan pemikiran 
bahwa ketika besar nanti ia akan seprti si anu, atau akan bersekolah anu 
utk menjadi anu.
Saya masih ingat ada anak di Bandung yg ketika ditanyakan besar mau jadi 
apa ketika itu, maka ia dg gamblangnya berkata bahwa ia ingin menjadi 
dokter.
Pertanyaan berikutnya kenpa ia hendak menjadi dokter, maka dijawab dg 
entengnya bahwa dg menjadi dokter ia akan dg mudah nya melihat nenen nya 
org2 karena dokterkan gampang memriksa anggota badan para pasiennya.
Dlm kenyataan, setelah besar ia kemudian bersekolah akounting dan 
menjadi seorg akounting.

Ketika masih kesil, saya kalau batuk, harus menutup mulut saya dg 
tangan, baik itu batuk benaran mau pun batuk2an yg ikut2an org dewasa yg 
batuk atau mendehem, yg menruut saya itu gaya, maco, hebat.
pernah saya ditabok karena ketika saya batuk tdk menutup mulut saya dg 
tangan.

Nah persoalannya kita diajarkan utk bersaing tanpa harus 
mnempertimbangakan sisi manusiawi, kita diajarkan bagaiaman mengklaim 
hak tyetapi tdk kewajiban, kita diajarkan utk tdk toleran, dan 
memp[erhatikan akan apa yg tdk kuta sukai agar tdk berbuat kepada sesama 
kita dg hal semacam itu, kita di biasakan utk sakit apa di bom dg obat 
apa (lihat saja iklan2 yg ada di TV).
Kesaadaran akan preventif  tdk dijabarkan dg baik, bahkan peraturan pun 
dibuat utk dilanggar.
Berapa banyak kali saya dg angkot menegur org yg merokok seenaknya, 
bahkan sdh ditegur pun masih dg gaya menyalakan rokoknya dan merasa 
benar serta enak sendiri.

So, kasus anda ini, kayaknya tdk bisa deh utk di buatkan peraturan 
misalnya, atau snagksi tertentu, karena ini adalah mental seseorg yg 
hanya mementingkan egonya sendiri tanpa memeprhatikan yg lainnya.

lalu anda mesti berbuat apa?

1. kalau memang seseringnya anda bertemnu dg dia, maka bisalah anda 
memeprtinggi daya tahan tubuh anda.
2. Anda agak demonstarsi sedikti ketika dia batuk, dg mengatakan "wah 
saya dikasi virus" tetapi ingat bahwa bisa saja ada reaksi negatif 
dimana malah dg sengaja anda dibatuki didepan muka anda (kalau org 
tersebut memang ndak tau diri) dg demikian maka anda perlu menyiapkan:
3. Masker, jadi setiap anda ketemu dia, anda pake masker, tdk enak 
mungkin, kuarng sopan mungkin tetapi sebagai eksternal motifasi, seoleh 
mengingatkan dia agar care jugalah terhadap org lain.
4. kalau kendala yg anda apke diatas dh tdk memapan juga ya terpakssaa 
demi kesehatan anda, anda minta dipiondahkan, atau anda keluar dari 
perusahaan tersebut, akrena menegur secara halus sampai kasar dan 
memprotek diri anda pun tdk mempan, lalu artinya envi disekitar anda 
mendukung perbuatannya dan buakn anda yg care terhadap kesehatan, jadi 
tempat itu bukan utk anda, biar saja, anda toh tdk bisa merubah dunia 
mereka, pada pernyakit saluran pernapasan kan tdk 100% instant, begitu 
kena TB misalnya lalu paru2 rusak semua misalnya, tetapi akan merongrong 
cukup lama.

Semoga bisa bermanfaat, walau sdh cukup lama baru bisa terselesaikan 
jwababnya kini.
Wassallam,




auliah azza wrote:
> Masalahnya begini, bu dan pak ...
>
> Beberapa waktu lalu, tante saya cerita. anak temannya yang berusia 5 tahun
> tertular TBC dari pembantunya. Ketahuannya saat pembantunya batuk berdarah.
> Menurut saran dokter, anak si ibu haru diperiksa. Dan memang anak itu sudah
> terkena TBC. Coba bagaimana kalau anak itu masih sekolah, dia bisa libur 6
> bulan, itupun kalau rajin minum obatnya.
>
> Tahu ga reaksi si ibu, sedih banget. Apalagi TBC di Indonesia masih
> memalukan, jangan dibicarakan atau diketahui orang banyak.
>
> Lain cerita, teman saya yang punya teman. Kita sebut si A. Si A itu sudah
> bekerja sekitar 5 tahun di perusahaan B. Karena dia sering batuk walaupun
> tidak musim batuk/pilek. Bagian personalia menyuruh tes kesehatan atas biaya
> kantor. Setelah tes kesehtan si A diterima pihak kantor, dan dipanggillah si
> A ke bagian personalia. Dipecatlah dengan TIDAK HORMAT.
>
> Si A cerita ke teman saya ini. Katanya "Kalau tahu siapa yang nularin saya,
> Saya minta ganti rugi. Saya sudah kehilangan pekerjaan. Sialnya tidak dengan
> hormat lagi. Apalagi pekerjaan susah nyarinya. Kan saya ga minta ditularin.
> Saya tidak minta ditularin. Saya ga tahu siapa menularkan" Dia pun menangis.
>
> Beberapa hari lalu, di Tempointeraktif ada berita sebagai berikut :
>
> *Tuberculosis Tertinggi di Jakarta
> Timur*<http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/09/06/brk,20070906-107037,id.html>
> Kamis, 06 September 2007 | 12:57 WIB
>
> *TEMPO Interaktif*, *Jakarta*:Kasus Tuberculosis di Jakarta Timur merupakan
> tertinggi di Jakarta. Sejak Januari hingga Juni 2007, Dinas Kesehatan
> mencatat ada 3.299 kasus tuberculsosis di Jakarta Timur. Dari jumlah itu,
> 688 kasus terjadi pada anak-anak (0-14 tahun), dan 2.611 kasus pada orang
> dewasa.
>
> Posisi kedua ditempati oleh Jakarta Pusat dengan 2.086 kasus, 175 pada anak
> dan 1.911 pada orang dewasa. Jakarta Barat berada di posisi ketiga dengan
> 1.873 kasus, 191 pada anak, dan 1.687 kasus pada orang dewasa. Di Jakarta
> Selatan, ada 1.755 kasus, dengan 270 kasus pada anak dan 1.485 kasus pada
> orang dewasa.
>
> Sedangkan di Jakarta Utara terjadi 1.225 kasus, dengan 535 kasus pada anak
> dan 690 kasus orang dewasa. Sementara, Kepulauan Seribu berada di urutan
> terbawah dengan 35 kasus, 13 pada anak dan 23 pada orang dewasa.
>
> Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Departemen Kesehatan,
> Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, di Indonesia tiap tahun ada 582 ribu kasus
> baru. Sekitar 75 persen penderita tuberculosis berada di usia produktif
> (15-49 tahun). "Satu penderita TB dalam satu tahun bisa menulari 10-15
> penduduk," katanya dalam jumpa pers di Gedung Departemen Kesehatan, Jakarta,
> Kamis. *PRAMONO*
>
>
> =========
> Kalau kita ga care, seperti lingkaran setan saja. 1 sembuh, ada yang nularin
> lagi, terus nularin lagi, sembuh lagi nularin lagi.
>
>
> *
> *
>
>
> On 9/9/07, Maria Vincentia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   
>>   Dh,
>> Respon yang membuat saya mengelus dada.
>> Kasihan yang nanya.
>> Sebagai orang terpelajar, sebaiknya menghimbau sesama
>> agar tidak batuk di depan orang. Karena akan menulari
>> dan menghujani dengan bibit penyakit dan kuman.
>> Hanya orang yang tidak peduli akan kesehatannya (as a
>> gift from God) yang tidak peduli bila orang batuk
>> sembarangan.
>>
>> Salam,
>>
>>
>>
>>     
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>  
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>   

-- 

   "Absolutely Drug less Health Care solution Organization"



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke